Selasa 10 September 2019, 20:35 WIB

Polisi Sebut Jaringan IS sudah Dua Tahun Beraktivitas di Papua

Theofilus Ifan Sucipto | Nusantara
Polisi Sebut Jaringan IS sudah Dua Tahun Beraktivitas di Papua

MI/Susanto
Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Dedi Prasetyo.

 

KEPALA Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Mabes Polri Brigjen Dedi Prasetyo menyebut kelompok radikal Negara Islam atau IS telah masuk ke Papua sejak 2017. Mereka baru aktif bergerak satu tahun belakangan ini.
 
"Jaringan ISIS di Papua sudah dideteksi sekitar dua tahun belakangan ini," kata Dedi di Gedung Mabes Polri, Jakarta Selatan, Jumat 6 September 2019.
 
Pada 2018, IS di Papua pernah berencana mengebom Polres Manokwari namun digagalkan kepolisian.

Dedi mengatakan pengikut ISIS di Papua tersebar di berbagai daerah. Seperti Jayapura, Wamena, Fakfak, hingga Merauke.
 
"Di situ sel-selnya memang masih melakukan rekrutmen, dan penguasaan wilayah," ujar Dedi.


Baca juga: Polisi Telusuri Rekening Veronica Koman

 
Dedi menjelaskan tujuan IS masuk ke Papua ialah melakukan amaliyah. Target mereka yakni kepolisian. Kelompok IS berbeda haluan dengan kelompok separatis di Papua. ISIS berjaringan dengan Jamaah Ansharut Daulah (JAD).
 
Menteri Pertahahan Ryamizard Ryacudu sebelumnya menyebut ada kelompok berafiliasi dengan IS yang memanfaatkan situasi di Papua. Kelompok itu terdeteksi di Bumi Cendrawasih beberapa hari lalu.
 
"Sebagai catatan, terdapat kelompok lain yang berafiliasi dengan ISIS telah menyerukan jihad di tanah Papua," kata Ryamizard di Kompleks Parlemen, Senayan, Kamis, 5 September 2019.
 
Menurut Ryamizard, keterlibatan kelompok itu terdeteksi sejak tiga hari lalu. Namun, keberadaanya sudah diketahui sejak tiga tahun lalu.
 
"Ya dari 2-3 tahun lalu saya bilang ya, di ISIS itu bukan hanya di Jawa dengan di Poso saja, sudah ke Ambon, ke Papua. Nah ini yang Papua ini di tengah-tengah," jelas dia. (Medcom/OL-1)
 

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More