Selasa 10 September 2019, 19:35 WIB

BMKG: Kabut Asap di Malaysia Berasal dari Titik Panas Lokal

Indriyani Astuti | Humaniora
BMKG: Kabut Asap di Malaysia Berasal dari Titik Panas Lokal

MI/ROMMY PUJIANTO
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati

 

BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan tidak ada asap dari kebakaran hutan dan lahan (kahutla) di Indonesia yang menyeberang ke wilayah Malaysia.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menjelaskan data dari pantauan satelit Himawari dan geohotspot menunjukkan asap tersebut berasal dari titik panas lokal (local hotspot) yang banyak muncul di wilayah Malaysia. Selain itu, ada peningkatan jumlah titik panas secara mencolok di beberapa wilayah di ASEAN, terutama di Semenanjung Malaysia dan sebagian wilayah Vietnam pada 4 dan 5 September.

"Pada 5 September Indonesia diduga mengirimkan asap dari Sumatra ke Malaysia. Tetapi data dari satelit Himawari menunjukkan di Riau justru terjadi penurunan titik panas karena hujan dengan curah 23 milimeter," paparnya dalam acara temu media mengenai kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Selasa (10/9).

Dwikorita menjelaskan BMKG juga menggabungkan data dari satelit Himawari dengan geohotspot untuk menganalisis arah angin. Terlihat di wilayah perbatasan Riau dan Semenanjung Malaysia pada 5 September mengarah dari Tenggara ke Barat Laut sehingga asap tidak menyeberang ke Malaysia. Dipaparkan juga ada peningkatan titik panas yang signifikan di Malaysia pada 6 dan 7 September 2019.

Baca juga:  Kabut Asap Riau mulai Pekat, Sekolah Diminta untuk Libur

Pada 6 September, terdeteksi ada 1.038 titik panas di Malaysia, lalu jumlahnya meningkat pada 7 September menjadi 1.423 titik. Ia pun tidak menampik adanya titik panas di wilayah Sumatra pada periode yang sama tetapi mengalami penurunan. Pada 6 September 2019, sebanyak 865 titik panas dan pada 7 September menurun menjadi 544.

"Asap di Riau, tidak terdeteksi melewati Selat Malaka karena terhalang oleh angin kencang dan dominan arah angin dan dominan arah angin bergerak ke Tenggara mengarah ke Barat Laut," imbuhnya.

Untuk kondisi asap di perbatasan Kalimantan dan Serawak, Kepala BMKG menyampaikan terdeteksi titik panas di Serawak dan Kalimantan Barat pada 4 September 2019. Meski demikian, ia mengatakan asap yang terjadi di perbatasan bukan berasal dari Kalimantan Barat sebab baik di Kalimantan Barat maupun di Serawak, Malaysia, terlihat titik panas yang signifikan pada 9 September 2019. Itu menyebabkan konsentrasi karbon monoksida (CO) mendekati maksimal di Laut Cina Selatan.

"Dari analisis baik dari citra satelit Himawari, Geohotspot, dan memerhatikan arah angin kandungan CO sebagian berasal dari Serawak, Kalimantan Barat, dan Semenanjung Malaysia akumulasi dari tiga wilayah itu," pungkasnya.(OL-5)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More