Selasa 10 September 2019, 13:16 WIB

Hujan Buatan akan Dilakukan di Kalimantan

Indriyani Astuti | Humaniora
Hujan Buatan akan Dilakukan di Kalimantan

Antara/Bayu Pratama
Foto udara kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan, Kamis (29/8).

 

REKAYASA hujan buatan akan dilakukan di Kalimantan untuk mengatasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Raffles B. Panjaitan menuturkan hujan buatan akan dilakukan dalam waktu dekat menggunakan pesawat millik Tentara Nasional Indonesia (TNI).

"TNI akan mengirimkan pesawatnya ke Kalimantan Tengah," ujar Raffles ketika dihubungi di Jakarta, pada Selasa (10/9).

Di Kalimantan, terang Raffles, menurut hasil analisisa Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), ada awan cukup untuk disemai menjadi hujan.

Hujan buatan akan dilakukan oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dengan dukungan dana dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). "Penebaran garam akan dilakukan," ucap Raffles.

Deputi Bidang Meteorolgi BMKG Mulyono R. Prabowo sebelumnya menyampaikan ada peningkatan potensi pembentukan awan hujan pada sejumlah wilayah di Indonesia karena massa udara basah di lapisan rendah yang terkonsentrasi di Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi bag Tengah, Maluku Utara, Papua Barat, dan Papua.

Selain hujan buatan, Raffles menjelaskan water bombing masih terus dilakukan di Jambi, Riau, Palembang, dan Kalimantan. Total ada 46 pesawat yang dikerahkan untuk waterbombing.

Berdasarkan hasil pemantauan citra Satelit Terra, Aqua, Suomi-NPP, NOAA-20, dan Satelit Himawari-8 (JMA) selama 10 hari terakhir (27 Agustus – 5 September 2019) BMKG telah mengidentifikasi setidaknya terdapat 3.649 titik panas dengan kategori tingkat kepercayaan tinggi di seluruh wilayah Asia Tenggara.

Hasil monitoring BMKG, terdapat juga jumlah titik panas di berbagai wilayah ASEAN dengan trend naik. Terpantau mulai tanggal 27 Agustus 2019 sebanyak 95 titik naik menjadi 266 titik pada tanggal 30 Agustus 2019. Kemudian meningkat lagi menjadi 381 titik pada 1 September 2019 dan kembali naik menjadi 787 titik pada 4 September 2019.

Lokasi dari titik panas tersebut di antaranya berada di wilayah Indonesia (Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan), juga terdeteksi di Malaysia, Filipina, Papua Nugini, Vietnam, dan Timor Leste.(OL-09)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More