Selasa 10 September 2019, 13:11 WIB

Rekor Baru, Jumlah Penumpang Trans-Jakarta Capai 892 Ribu Orang

Putri Anisa Yuliani | Megapolitan
Rekor Baru, Jumlah Penumpang Trans-Jakarta Capai 892 Ribu Orang

MI/PIUS ERLANGGA
Penumpang menunggu Bus Transjakarta di Halte Bundaran Senayan, Jakarta.

 

JUMLAH penumpang Trans-Jakarta mencapai rekor baru pada Senin (9/9), yang juga bertepatan dengan hari pertama resminya penerapan perluasan pembatasan ganjil genap.

Kemarin, jumlah penumpang Trans-Jakarta mencapai 892 ribu penumpang.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan jika ditambah dengan jumlah penumpang Moda Raya Terpadu (MRT) yang rata-rata mencapai 80 ribu penumpang per hari, jumlah penumpang angkutan umum dari kedua moda itu mencapai 970 ribu penumpang.

Anies pun tidak mau menduga kenaikan jumlah penumpang itu berkaitan dengan penerapan ganjil genap. Namun, ia memastikan penumpang angkutan umum terus meningkat setiap harinya.

"Menggunakan Trans-Jakarta itu 892 ribu per hari kemarin. Artinya hampir 900 ribu orag menggunakan Trans-Jakarta. Ditambah dengan MRT berarti hampir 1 juta orang menggunakan kendaraan umum. Itu adalah sebuah rekor," kata Anies usai menghadiri apel HUT ke-74 TNI AL di Tanjung Priok, Selasa (10/9) pagi.

Baca juga: 17 Kendaraan Langgar Ganjil Genap di Jalan Panglima Polim

Meningkatnya jumlah penumpang semakin meninggikan hasrat Anies yang ingin memperluas jangkauan kendaraan umum. Dengan demikian akan lebih banyak warga yang merasakan menggunakan angkutan umum.

"Mereka ingatnya kendaraan umum yang tahun-tahun lama sekali. Sehingga memori mereka tentang kendaraan umum tidak nyaman. Begitu mereka sekarang menggunakan kendaraan umum, ternyata nyaman dan berulang. Nah, inilah yang akan kita dorong terus. Jadi mendekti angka 1 juta adalah indikasi yang sangat positif," tegasnya.

Dalam perluasan jaringan angkutan umum, Anies menekankan pada integrasi yakni kemudahan antarmoda serta kemudahan pembayaran tarif saat berpindah moda.

Hal inilah yang akan menarik minat warga pengguna kendaraan pribadi ke angkutan umum sehingga kemacetan berkurang.

"Tanpa mereka berpindah, dari kendaraan pribadi ke kendaraan umum kita tidak menyaksikan kemacetan yang berkurang. Kemacetan berkurang itu karena orang-orang yang sukarela merasa terfasilisitasi dengan kendaraan umum. Bagian kami di pemerintah memastikan kendaraannya cukup, jangkauan luas, dan nyaman," pungkas Anies. (OL-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More