Selasa 10 September 2019, 14:00 WIB

Indonesia Sambut Komitmen India Samakan Tarif Bea Masuk Sawit

Andhika Prasetyo | Internasional
Indonesia Sambut Komitmen India Samakan Tarif Bea Masuk Sawit

ANTARA/Iggoy el Fitra
Pekerja menjalankan ekskavator memindahkan komoditas ekspor cangkang sawit, di CV Pinang Mas Energy, di Padang

 

MENTERI Perdagangan Enggartiasto Lukita mengapresiasi sikap India yang memutuskan menyamakan besaran tarif bea masuk produk minyak kelapa sawit yang telah disuling (refined, bleached, and deodorized palm oil/RBDPO) asal Indonesia dengan produk dari negara lainnya.

Bagi Indonesia, penurunan tarif RBDPO akan meningkatkan daya saing sehingga mampu berkompetisi dengan Malaysia di pasar India.

"India sudah menyetujui tarif untuk Indonesia akan disamakan dengan eksportir lainnya. Dengan begitu, ekspor RBDPO kita berpotensi meningkat US$500 juta dalam enam bulan ke depan," ujar Enggartiasto Lukita kepada Media Indonesia, Selasa (10/9).

Pada 2018, nilai ekspor minyak kelapa sawit dan turunannya tercatat sebesar US$3,56 miliar.

Sedianya, penurunan tarif itu sudah menjadi komitmen India di bawah perjanjian ASEAN-India Free Trade Agreement (AIFTA) yang disepakati pada 22 Februari 2019 silam.

Baca juga: UE Bantah Kampanye Hitam atas Sawit Indonesia

Namun, komitmen itu tidak langsung direalisasikan karena podusen minyak nabati India sedang mengalami kerugian serius akibat peningkatan impor RBDPO dari Malaysia.

Kini, ketika India sudah menyamakan tarif bea masuk RBDPO, Indonesia pun memberikan insentif berupa penurunan tarif bea masuk gula mentah asal Negeri Bollywood. Itu sudah dilakukan dan berlaku efektif per 8 Juli silam.

Penurunan tarif gula mentah akan memberikan dampak positif yang signifikan bagi India. Mereka kini memiliki peluang kompetisi yang sama dengan negara-negara ASEAN, Australia dan Selandia Baru dalam mengakses pasar Indonesia.

Selama ini, Indonesia banyak mengimpor gula mentah dari Thailand dan Australia.

India merupakan negara tujuan ekspor terbesar keempat dan negara sumber impor terbesar kesembilan bagi Indonesia.

Berdasarkan data Kemendag, pada 2018, total perdagangan kedua negara mencapai US$18,7 miliar.

Nilai eskpor produk Tanah Air tercatat sebesar US$13,7 miliar. Adapun, impor hanya US$5,0 miliar. Dengan demikian, Indonesia menikmati surplus sebesar US$8,7 miliar. (OL-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More