Selasa 10 September 2019, 10:55 WIB

Karangsambung di Tubir Jurang

Liliek Dharmawan | Nusantara
Karangsambung di Tubir Jurang

MI/Liliek Dharmawan
Seorang peneliti utama dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Chusni Ansori memperlihatkan batuan yang fenomenal di tebing Kali Munc

 

STATUS geopark nasional tidak membuat kawasan Karangsambung, di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, terjaga dari penambangan. Aktivitas penambangan batu dan pasir masih marak.

"Ini ancaman yang tidak boleh dibiarkan. Apalagi Geopark Karangsambung-Karangbolong tengah mengejar status menjadi UNESCO Global Geopark," kata Bupati Kebumen Yazid Mahfudz, kemarin.

Ia mengaku sejumlah perusahaan yang beraktivitas di lokasi itu mengantongi izin yang dikeluarkan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah. "Kami minta pemprov segera mengevaluasi izin penambangan di kawasan geopark ini. Saya mohon Pak Ganjar tidak mengeluarkan izin dan izin yang sudah keluar segera dicabut. Mari kita jaga geopark bersama," tandas Yazid.

Di Karangsambung, terbentang kawasan geopark seluas 22 ribu hektare. Ada sekitar 30 titik situs kebumian yang sangat penting dan menjadi laboratorium alam geologi.

Kantor Konservasi Kebumian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Karangsambung, telah menyurati Pemkab Kebumen agar penambangan ilegal ditertibkan. "Tambang batu dan pasir mengancam konservasi kebumian. Pemprov Jawa Tengah sebenarnya tahu soal tambang di sini. Mereka berwenang atas perizinan dan penindakan," ungkap Kepala Balai Informasi dan Konservasi Kebumian LIPI Karangsambung, Edi Hidayat.

LIPI mendorong agar masyarakat beralih profesi dari penambang ke pelaku wisata. Untuk itu, bebatuan yang berada di lahan pribadi tidak ditambang dan dijual.

Ciletuh terancam

Kerusakan juga mengancam UNESCO Global Geopark Ciletuh-Palabuhanratu, di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Ancaman datang dari aktivitas penambangan emas liar di sejumlah titik.

Para penambang itu masih menggunakan merkuri untuk memisahkan batu dan tanah dari emas. Bahan kimia inilah yang membuat air yang mengalir hingga Ciletuh terdampak.

"Kami khawatir karena aktivitas penambangan rakyat itu akan membuat kualitas air merosot," keluh Bupati Sukabumi, Marwan Hamami.

Lokasi penambangan emas berada di Kecamatan Ciemas, Simpenan, dan Lengkong. Jumlah penambang emas liar alias gurandil mencapai ratusan orang. Sebagian besar merupakan warga asal Garut, Bogor, dan Medan.

"Dengan ditutupnya Pongkor di Bogor, mereka pindah menambang di sini. Penyerobotan lahan hak guna usaha pun terjadi karena potensi emas sangat baik," lanjut Bupati.

Dia mengaku, semula sektor pertambangan digadang menjadi andalan pembangunan. "Tapi ternyata tidak memberi dampak signifikan menyejahterakan rakyat. Kami ganti fokus membangun pertanian dan wisata."

Di Kota Tasikmalaya, Ketua DPRD Aslim mendesak pemerintah segera menghentikan aktivitas penambangan galian C ilegal di wilayah Mangkubumi-Indihiang. "Rakyat sudah dirugikan karena sumber-sumber air hilang akibat penambangan liar ini. Pemerintah kota harus bertindak, meski kewenangan pertambangan ada di tangan pemerintah provinsi."

Alasannya, masyarakat Kota Tasikmalaya yang paling dirugikan. Selain hilangnya sumber air, kondisi udara di wilayah itu jadi rusak akibat debu yang ditimbulkan lalu lalang truk pengangkut hasil tambang. (BB/AD/N-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More