Selasa 10 September 2019, 03:30 WIB

Stabilitas Ekonomi Indonesia Terjaga

Ilham Ramadhan Avisena | Ekonomi
Stabilitas Ekonomi Indonesia Terjaga

MI/ROMMY PUJIANTO
Direktur Keuangan dan Strategi Bank Mandiri Panji Irawan.

 

Bank Mandiri menilai stabilitas ekonomi nasional masih terjaga di tengah ketidakpastian ekonomi global dan perang dagang Amerika Serikat dengan Tiongkok.

Direktur Keuangan dan Strategi Bank Mandiri Panji Irawan mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia masih lebih baik daripada negara emerging markets lain.

"Pada kuartal II 2019, pertumbuhan ekonomi tercatat sebesar 5,05%, sementara pertumbuhan ekonomi kuartal I 2019 sebesar 5,07%," ujar Panji dalam Media Gathering Macro Economic Outlook 2019 di Plaza Mandiri, Jakarta, kemarin.

Kondisi Indonesia lebih baik ketimbang negara emerging market lainnya yang mencatatkan pertumbuhan lebih rendah jika dibandingkan dengan Indonesia.

Ia mencontohkan Turki, pada kuartal I terkontraksi sebesar 2,4% dan di kuartal II kembali mengalami hasil negatif yakni 1,5%. Adapun Malaysia masih bisa tumbuh 4,9%, Thailand 3,7%, Brasil 1,01%, dan Rusia 0,9%.

Ia menuturkan ekonomi Indonesia lebih kuat karena terbukti dengan adanya keseimbangan ekonomi internal yakni inflasi yang masih terjaga dengan laju bulanan pada Agustus tercatat sebesar 3,49%, juga ekonomi eksternal yakni kurs rupiah pada kuartal I dan II untuk 2019 juga masih terkendali dengan nilai tukar 14.200 per dolar AS.

Angka itu didukung masuknya aliran modal asing (capital inflow) ke pasar obligasi sebesar Rp116 triliun dan pasar saham senilai Rp59 triliun hingga akhir Agustus. Oleh karena itu, ia optimistis stabilitas ekonomi nasional, baik internal maupun eksternal, tetap terjaga.

Neraca perdagangan juga mulai menunjukkan perbaikan. Hal itu dilihat melalui angka defisit pada Januari hingga Juli yang dapat diturunkan menjadi US$1,9 miliar. Angka tersebut turun jika dibandingkan dengan periode yang sama di 2018 yang mencapai US$3,2 miliar.

Tren positif itu, kata Panji, diharapkan mampu menjadi pijakan awal bagi Bank Indonesia untuk melakukan pelonggaran kebijakan moneter untuk mendo-rong pertumbuhan nasional.

"Pelonggaran kebijakan moneter ini sangat penting di tengah kecenderungan pelambatan pertumbuhan ekonomi global dan peningkatan ketidakpastian yang bisa menekan pertumbuhan ekonomi nasional," jelas Panji.

Saatnya investasi

Dalam kesempatan terpisah, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo meyakinkan investor Jepang bahwa saat ini merupakan kesempatan yang baik untuk melakukan investasi di Indonesia.

"Ada tiga alasan utama mengapa saat ini adalah kesempatan yang baik untuk investasi di Indonesia," kata Gubernur BI dalam pertemuan dengan pelaku pasar keuangan dan investor di Tokyo, Jepang, pekan lalu.

Pertama, imbuhnya, kondisi Indonesia masih tetap stabil di tengah berbagai tantangan perekonomian global. Kedua, komitmen kuat pemerintah untuk mengakselerasi reformasi struktural, termasuk di infrastruktur, industri, fiskal, hingga ekonomi dan keuangan digital.

Adapun yang ketiga ialah komitmen BI untuk berkontribusi nyata bagi perekonomian Indonesia melalui bauran kebijakan.

Dalam kesempatan di Tokyo itu, Gubernur BI juga melakukan pertemuan dengan Gubernur Bank of Japan (BoJ) Haruhiko Kuroda untuk berdiskusi mengenai kebijakan bank sentral, khususnya bauran kebijakan, di tengah dinamika ekonomi yang terjadi. (Ant/E-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More