Selasa 10 September 2019, 05:20 WIB

IK-CEPA Muluskan Lotte dan Hyundai

Andhika Prasetyo | Ekonomi
IK-CEPA Muluskan Lotte dan Hyundai

BKPM/Dok.MI/123RF
Perdagangan Indonesia Korea Selatan 2018

 

TUNTASNYA perundingan Indonesia-Korea Comprehensive Economic Partnership Agreement (IK CEPA) akan memuluskan keberlanjutan investasi dua konglomerasi usaha Korea Selatan, Hyundai dan Lotte, di Indonesia.

Saat ini kedua negara telah sepakat untuk menyelesaikan perundingan IK CEPA pada Oktober 2019.

Kesepakatan dicapai setelah Menteri Perdagangan RI Enggartiasto Lukita bertemu Menteri Perdagangan Korsel Yoo Myung-hee di sela-sela ASEAN Economic Ministers' Meeting Ke-51 di Bangkok, Thailand, kemarin.

"Untuk perundingan IK-CEPA, kami sepakat harus selesai pada 2019. Bahkan kami berupaya secara substansi sudah selesai Oktober," ujar Enggartiasto melalui keterangan resmi, kemarin.

Sebagai informasi, Hyundai berencana membenamkan investasi hingga US$1 miliar untuk memperbesar kapasitas produksi mobilnya di Indonesia. Adapun Lotte akan mengge-lontorkan dana US$3,5 miliar untuk mengembangkan pabrik petrokimia bersama Chandra Asri.

Lebih lanjut, Menteri Enggar mengatakan kedua negara sama-sama sangat menginginkan adanya peningkatan kerja sama ekonomi di masa mendatang.

Enggar menyatakan IK CEPA akan menjadi payung perjanjian yang akan memuluskan rencana keberlanjutan investasi dua industri raksasa Korsel, yaitu perusahaan kimia Lotte Group dan perusahaan otomotif Hyundai.

Sebaliknya, 'Negeri Ginseng' menginginkan akses pasar yang lebih besar ke Indonesia mengingat mereka tengah terganjal sengketa perdagangan dengan Jepang yang selama ini menjadi salah satu mitra dagang utama.

Perundingan IK-CEPA sedianya sudah diinisiasi sejak Oktober 2011. Selama periode 2012-2014, perundingan berlangsung hingga putaran ketujuh, tetapi kemudian terhenti selama 5 tahun.

Pada 19 Februari 2019, kedua negara sepakat mengaktivasi kembali perundingan IK-CEPA melalui pe-nandatanganan pernyataan bersama menteri perdagangan kedua negara.

Komitmen India

Selain dari Korea Selatan, Indonesia juga mendapatkan komitmen dari India untuk menurunkan bea masuk bagi produk olahan kelapa sawit yang telah disuling (refined, bleached, and deodorized palm oil/ RBDPO) asal Indonesia agar setara dengan bea masuk produk serupa dari Malaysia. Dengan begitu, bea masuk RBDPO Indonesia akan setara dengan Malaysia menjadi 45% atau turun 5% dari tarif sebelumnya.

India sebelumnya memang memberikan keringanan bea masuk RBDPO kepada Malaysia karena kedua negara itu memiliki perjanjian perdagangan India and Malaysia Implement Comprehensive Economic Cooperation Agreement (IMCECA).

"Kami mendapat kesamaan tarif soal RBDPO. Jadi disamakan dengan Malaysia. Dia (Piyush Goyal) menjanjikan itu. Targetnya (terealisasi) tahun ini," ujar Enggartiasto seusai bertemu dengan Menteri Perdagangan dan Perindustrian India Piyush Goyaldia.

Dalam pertemuan bilateral itu juga disampaikan bahwa Indonesia telah memberikan akses pasar bagi India untuk impor gula mentah. (Ant/E-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More