Senin 09 September 2019, 20:15 WIB

STFK Ledalero, Lembaga Pendidikan Filsafat Teologi Terbesar Dunia

Alexander P Taum | Nusantara
STFK Ledalero, Lembaga Pendidikan Filsafat Teologi Terbesar Dunia

MI/Alexander P. Taum
Perayaan 50 tahun berdirinya Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero, Minggu (8/9), dimaknai istimewa.

 

PERAYAAN 50 tahun berdirinya Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero, Minggu (8/9), dimaknai istimewa. Pengakuan oleh Pemerintah Republik Indonesia merupakan suatu tonggak sejarah yang penting dalam perkembangan lembaga pendidikan tinggi ini.

Bukan hanya bagi lembaga ini, melainkan juga dengan pengakuan ini akan bermanfaat bagi para lulusannya dan juga bagi Gereja Katolik.

Awalnya, lulusannya bergelar Bachelor of Arts (BA) dan Doktorandus (Drs) tapi kemudian diubah menjadi program Strata Satu Filsafat (SFil) dan Magister Theologi (MTh).

"Dengan adanya pengakuan ini lulusan STFK mempunyai kemungkinan diangkat menjadi pegawai negeri atau bekerja di lembaga swasta. Juga bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang S2 dan S3," ungkap Provinsial SVD Ende, Pater Lukas Yua SVD, Minggu.

Kenyataan ini, kata pater Lukas, memungkinkan para alumni untuk memberi sumbangan bagi pengembangan masyarakat pada umumnya di luar lingkup Gereja Katolik. Kebanyakan dari alumni, kata dia, mengabdi sebagai imam, pegawai Kementerian Agama, dan guru agama di samping jabatan publik lainnya.

"Banyak alumni yang bekerja di luar negeri sebagai pastor dan dosen. Sedangkan mereka yang tidak menjadi imam bekerja di dalam negeri pada berbagai LSM (NGO), sebagai wartawan, politisi dan lain-lain," terangnya.

Perayaan 50 tahun ini, tegas Lukas, bukanlah perayaan berdirinya STFK sebagai sebuah lembaga pendidikan tinggi, karena sekolah ini sudah berumur 87 tahun.

Angka 50 ini, sebutnya, dihitung sejak kegiatan perkuliahan filsafat pertama pada 1969 yang diakui pemerintah. Sementara sekolah ini dijalankan pada 1932 di Mataloko, dengan dosen filsafat pertama P Cor Molenaar SVD yang mengajar beberapa cabang filsafat.

Kuliah-kuliah perdana ini dijalankan sesuai dengan kurikulum filsafat yang berlaku di semua seminari tinggi di Eropa pada zaman itu. Bahasa yang digunakan juga sama yaitu bahasa Latin .

"Sejak berdirinya, STFK sudah dirancang untuk menjadi pendidikan tinggi yang bermutu, seperti pendidikan di Eropa pada zaman itu. Mahasiswa pertama di antaranya Mgr Gabriel Manke SVD," terangnya.

Sesuai dengan kebijakan SVD sejak berdirinya 144 tahun lalu, ungkap Lukas, pewartaan Sabda Allah tidak hanya dilakukan melalui pembangunan komunitas-komunitas Kristiani di daerah misi.


Baca juga: Pelantikan Anggota DPRD Flotim Habiskan Dana Rp217 Juta


Melainkan, juga melalui pengembangan ilmu pengetahuan, termasuk ilmu-ilmu eksakta, dengan mendirikan sekolah-sekolah untuk warga pribumi.

Atas dasar ini General SVD di Roma dan Regional SVD Ende bersama membuka seminari manengah Sikka 1926, yang kemudian pindah ke Mataloko pada 1929.

"Mulainya perkuliahan filsafat 1932 merupakan suatu langkah berani yang diambil oleh Mgr Verstaelen dan P Regional Stenel serta wakil Regional P Jan Bouma," jelasnya.

Di antara tamatan-tamatan perdana, yang menonjol, sebut Lukas, misalnya Mgr Gabriel Manek. Di bidang politik, ada P Adi Conterius yang dipilih menjadi utusan NTT untuk menghadiri konferensi Malino dan P Mige Raya dan P Robert Rewu yang menjadi anggota DPR RI.

Untuk mengembangkan STFK di masa depan, tegasnya, kita perlu belajar dari sejarah berdirinya dan tuntutan zaman sekarang.

STFK Ledalero juga, lanjutnya, akan membuka program-program studi baru yang dibutuhkan masyarakat NTT. Namun, STFK harus mempertahankan kekhasannya sebagai lembaga pendidikan filsafat teologi yang bermutu.

Sementara Ketua STFK Ledalero, Pater Dr. Otto Gusti, SVD, menyampaikan, sejak berdiri hingga sudah memasuki usia 50 tahun, STFK Ledalero sudah menghasilkan sebanyak 5.800 alumni. Di antara para alumni kata Pater Otto, ada 19 orang uskup, 1.822 imam dan 3.978 awam. Sebanyak 500-an lebih imam tamatan Ledalero sedang bekerja sebagai misionaris di mancanegara.

"Meskipun STFK Ledalero menjadi bagian dari pembentukan calon iman namun sebanyak 68,5 persen adalah awam," katanya.

Pater Otto mengatakan, mahasiswa yang kuliah di STFK Ledalero sekarang berjumlah 1.187 orang dengan perincian 1.005 mahasiswa S1 dan 161 orang mahasiswa Program Magister Teologi, S1 terdiri atas Program Studi Filsafat dan Pendidikan Keagamaan Katolik.

"Sebagian besar mahasiswa yang kuliah di STFK Ledalero adalah calon imam Katolik. Mereka semua berasal dari 16 biara. Selain calon imam dan suster, juga terdapat 120 mahasiswa awam yang kuliah disini,” jelasnya. (OL-1)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More