Minggu 08 September 2019, 11:30 WIB

Menekuni Selam tanpa Menguras Kantong

Abdillah M Marzuqi | Weekend
Menekuni Selam tanpa Menguras Kantong

dok. Lombok airport Dive club Youtube Lombok airport
Selam tidak harus menguras kantong.

BERADA di bawah tenda yang tak terlalu luas dan berbagi ruang dengan puluhan tabung berisi udara tidak mengganggu kenyamanan mereka, justru mereka bisa dengan asyik duduk.

Tiga orang perempuan asyik mengobrol sembari menyantap camilan. Di leher mereka masih terkalungkan masker selam. Kesan puas terpancar dari wajah mereka yang semringah.

Patutlah Putri Jessy Faya Fralinda dan kedua temannya berbangga. Hari itu mereka telah mencatatkan nama sebagai penyelam yang turut memecahkan rekor dunia yang diselenggarakan Wanita Selam Indonesia (Wasi) di Pantai Megamas Manado, 3 Agustus lalu. Acara itu mempertemukan pegiat olahraga selam dari seluruh Tanah Air.

Sehari sebelumnya, Jessy tiba di Manado dari Lombok. Ia harus tiba tepat waktu untuk registarsi ulang. Jika tidak, status kepesertaannya bisa hilang. Jessy merupakan anggota dari Lombok Airport Dive Club. Ia mengaku mendapat info acara dari media sosial.

Sesuai namanya, Lombok Airport Dive Club beranggotakan para pegiat selam yang bekerja di lingkup Bandara Internasional Lombok. Klub itu berdiri pada Februari 2019. Meski klub itu belum genap setahun berdiri, anggotanya sudah hampir mencapai 40 orang yang sudah berlisensi.

“Kalau sekarang anggotanya yang sudah berlisensi ada 40-an orang dari Februari. Kami sudah ada tiga batch untuk ambil lisensi,” terang Jessy saat berbincang lagi dengan Media Indonesia, Selasa (20/8).

Kegiatan rutin yang dilakukan klub itu ialah menyelam tiap dua minggu sekali. Itu juga yang membuat anggota Lombok Airport Dive Club mengantongi banyak jumlah penyelaman (log) meski mereka baru mendapat lisensi.

“Sampai sekarang dua minggu sekali diving,” tambah Jessy. Kini sudah mengantongi 18 log (jumlah penyelaman).

Mereka biasa mengeksplorasi pantai dan pulau yang berada di kawasan sekitar Pulau Lombok. Biasanya mereka berangkat dari Teluk Nara lalu menumpang kapal ke titik selam yang dituju. “Kalau enggak di daerah Kuta Mandalika, di daerah Gili; Gili Trawangan, Gili Meno, Gili Air,” tambah Jessy yang juga didapuk sebagai sekretaris Lombok Airport Dive Club.

Kerja Sama dengan pusat selam

Menurut Ketua Lombok Airport Dive Club, Achmad Agung Syahputra, mengajak orang untuk ikut menyelam punya tantangan tersendiri. Banyak anggapan bahwa menyelam ialah aktivitas mahal. Sekali turun ke laut bisa menghabiskan jutaan rupiah. Apalagi, aktivitas selam termasuk kategori kegiatan yang berisiko tinggi.

“Jadi, saya pendekatannya lebih ke ada teman-teman yang memang suka travelling. Saya cuma bilang kenapa kalian enggak coba laut,” tambahnya.

Agung mengaku, pada awalnya menjajal selam juga sempat merasa takut. Namun, keta kutan itu sirna ketika menyaksikan keindah an di dalam laut.

“Awalnya kan saya enggak begitu berani juga di laut, tapi setelah kita mencoba, ternyata ada dunia baru di dalam laut. Kalau kita turun itu pasti ketagihan. Akhirnya, jadi ada beberapa teman yang pengin ikut,” tambahnya.

Berkenaan dengan anggapan bahwa diving ialah aktivitas mahal, Lombok Airport Dive Club punya cara tersendiri untuk memasyarakatkan olahraga tersebut. Mereka menjalin kerja sama dengan pusat selam yang ada di Lombok untuk memperoleh harga yang lebih murah daripada harga normal yang berkisar antara Rp1 juta-1,2 juta. Biaya itu mencakup sewa peralatan untuk tiga kali turun selam dan transportasi.

“Makanya saya coba bikin MoU, kesepakatan, dengan beberapa dive centre. Salah satu dive centre mau partisipasi, kalau kami punya grup diving, dia bisa mengako modasi dengan biaya yang lebih rendah jika
dibandingkan dengan biaya yang di-publish di beberapa dive centre,” beber Agung. Namun, ia menolak menyebut harga hasil kerja sama dengan alasan kerahasiaan dengan pusat selam tersebut.

Menurutnya, selam sesungguhnya merupakan aktivitas simpel. Jika belum punya alat sendiri, alat bisa didapatkan di pusat selam. Di situ terdapat beragam peralatan menyelam seperti snorkel, kacamata selam (mask), perangkat kontrol daya apung (BC), kaki katak (fin), pakaian selam, hingga tabung scuba dan regulator. “Sebenarnya alat-alat itu sudah disiapkan, kita tinggal bawa badan saja,” tukasnya.

Senada, Jessy juga menepis anggapan aktivitas selam selalu identik dengan mahal. Memang ada beberapa aktivitas selam yang lumayan mahal, apalagi di titik selam yang terkenal. Namun, hal itu tidak berlaku mutlak.

“Mahalnya itu mungkin karena jarang orang yang mau coba atau berani untuk melakukan penyelaman, jadi mahal karena jarang. Makanya bagaimana kita promosikan selam itu enggak mahal lo. Kita bisa kok menyelam dengan bujet murah. Caranya dengan kita promosi dulu nih, kita bikin rame nih dunia selam,” tegas Jessy.

Lewat media sosial, mereka juga turut membantu perkembangan wisata laut Indonesia. Aktivitas klub selam itu juga tidak terbatas pada kegiatan rekreasi. Mereka juga menaruh perhatian besar terhadap lingkungan. Berbagai kegiatan yang berkenaan dengan lingkungan dilakoni, seperti bersih pantai, tanam mang rove, maupun gerakan hemat energi.

“Di klub ini kita biasanya menggandeng teman-teman komunitas. Kami mencoba untuk hubung an keluar. Artinya, dengan adanya grup ini kita mau coba yang dampaknya ke lingkungan, salah satu contoh ketika ada kegiatan earth hour, kita ikut berpartisipasi juga,” tegas Agung. (M-1)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More