Senin 09 September 2019, 12:41 WIB

Djarum Pamit, Prestasi Bulu Tangkis Dikhawatirkan Mandek

Rahmatul Fajri | Olahraga
Djarum Pamit, Prestasi Bulu Tangkis Dikhawatirkan Mandek

MI/LILIK DARMAWAN
Audisi Djarum Beasiswa Bulutangkis 2019 yang berlangsung di GOR Satria, Purwokerto, Jawa Tengah.

KEPUTUSAN Djarum Foundation untuk tidak lagi menggelar audisi umum beasiswa bulu tangkis pada 2020 sebagai buntut dari vonis eksploitasi anak oleh KPAI memancing reaksi dari masyarakat, khususnya pencinta dan pemandu bakat di daerah.

Aris Amaluddin, 45, pemandu bakat PB Bintang Jaya Kebumen menilai vonis KPAI soal eksploitasi anak adalah salah sasaran.

Jika KPAI melihat langsung anak-anak dan orangtua yang mengikuti audisi ini, ia yakin KPAI akan melihat ketulusan dan semangat berprestasi di masa depan.

"Tidak ada hubungannya soal rokok, soal bisnis. Ini murni untuk berprestasi melalui PB Djarum. Sampai hari ini prestasi PB Djarum kan bisa dilihat," kata Aris, ketika ditemui di sela audisi umum bulu tangkis di Purwokerto, Senin (9/9).

Audisi bulu tangkis beasiswa Djarum memang melahirkan pebulu tangkis top dunia, seperti Kevin Sanjaya Sukamuljo.

Pebulu tangkis peringkat 1 dunia bersama Marcus Fernaldi Gideon itu merupakan jebolan audisi umum Djarum pada 2007.

Baca juga: YLKI Sebut KPAI Hanya Minta Penggantian Logo Audisi PB Djarum

Jalan Kevin tidak mulus. Atlet kelahiran Banyuwangi, 24 tahun silam itu gagal pada audisi 2006. Namun, ia tidak menyerah. Setahun berikutnya, perjuangan Kevin membuahkan hasil. Ia lolos dan bergabung dengan PB Djarum Kudus.

Aris mengatakan dengan distopnya audisi umum itu sangat berdampak pada sisi psikologis pelatih klub, orangtua, dan anak.

Pasalnya, selama ini, sebagai pelatih, ia telah menyiapkan anak didinya untuk ikut berpartisipasi dan tembus ke babak final event tahunan ini.

Jika ditiadakan, menurutnya, bibit potensial tidak memiliki motivasi lebih untuk berkarier di dunia bulu tangkis.

"Selama ini disiapkan untuk ikut audisi Djarum. Harapannya bisa ke Kudus dan dilatih di sana. Peluang pelatnas juga lebih besar. Kalau tidak ada lagi audisi, besok anak-anak ini ya di daerah saja. Motivasinya juga akan kurang," kata Aris.

Aris mengatakan harus ada opsi lain agar turnamen pencarian bakat ini tetap berlangsung pada tahun depan. Bahkan, ia meminta KPAI sebagai penopang dana turnamen tahun depan.

"Ya, kalau gitu KPAI saja yang biayain turnamen tahun depan kalau mau atau ada opsi lain," kata Aris.

Sementara itu, Parjimin, 53, pelatih PB Tanker Boyolali kecewa dengan distopnya audisi Djarum.

Menurutnya, selama ini, Djarum telah memfasilitasi bibit pebulu tangkis daerah dengan turnamen yang tidak dipungut biaya.

Jika ini dihentikan, tidak ada lagi bibit unggul yang dapat terserap secara maksimal.

"Djarum sudah sangat membantu tiap tahun. Anak yang tidak mampu dan miskin, tapi punya bakat mampu tersalurkan dengan baik. Belum lagi ini menyedot anak-anak dari daerah lain. Jika tidak ada lagi sangat disayangkan," kata Parjimin.

KPAI mengizinkan Audisi Beasiswa Bulu Tangkis pada tahun ini tetap dilanjutkan di empat kota yakni Purwokerto, Surabaya, Solo, dan Kudus dengan syarat tidak memasang brand atau embel-embel produk tembakau atau rokok Djarum.

"Audisi kali ini berbeda. Audisi Beasiswa Umum Bulu Tangkis, Djarum-nya harus diturunkan sesuai dengan pemintaan (KPAI) yang menurunkan kami sendiri. PB sudah sadar untuk mereduksi polemik itu kami menurunkan," ujar Yoppy.

Pada lanjutan audisi umum beasiswa bulu tangkis di Purwokerto, hari ini, Minggu (8/9) segala atribut dan embel-embel berbau Djarum dicabut. Namanya pun berganti menjadi Audisi Umum Beasiswa Bulutangkis 2019. (OL-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More