Senin 09 September 2019, 10:50 WIB

BUM-Des Melepas Jerat Rentenir

Lina Herlina | Nusantara
BUM-Des Melepas Jerat Rentenir

MI/Seno
Ilustrasi

 

SEPULUH tahun lalu, Syarifuddin sangat akrab dengan bunga rentenir. Nyaris setiap musin tanam, peladang dari Dusun Borng Ganjeng, Desa Bonto Tiro, Kecamatan Sinoa, Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, itu didatangi sang lintah darat.

"Saya butuh mereka untuk mendapatkan bibit dan pupuk. Dari pinjam dana Rp100 ribu, saya harus kembalikan dua kali lipat dari hasil panen," keluhnya.

Puluhan tahun terjerat rentenir, Syarifuddin baru bisa melepas jerat itu pada 2010. Saat itu Badan Usaha Milik Desa Mattiro Bulu sudah berdiri selama dua tahun. Salah satu usaha BUM-Des itu ialah ko-perasi simpan pinjam. "BUMDes sangat membantu saya memutus hubungan dengan rentenir," lanjut Syarifuddin.

Perjalanan panjang BUMDes Mattiro Bulu diceritakan direkturnya, Aminah. Usaha bersama warga itu sudah dimulai pada 2008, jauh sebelum dana desa digulirkan. Anggaran pendirian berasal dari swadaya masyarakat.

Dua tahun kemudian, pada 2010, BUM-Des mendapat suntikan dana dari pemerintah kabupaten sebesar Rp100 juta, Dana itulah yang kemudian digunakan membentuk koperasi simpan pinjam.

Modal BUM-Des pun bertambah dengan suntikan dana desa dan Perum Pegadaian yang merangkul mereka sebagai mitra. Dari simpan pinjam, usaha mereka meluas ke bidang perdagangan, jasa, pertanian, peternakan, keterampilan, dan pertukangan.

"Yang paling diminati warga saat ini ialah jasa. Kami punya warung serbaada dan usaha transportasi, yaitu mobil BUM-Des yang sudah ada sejak 2013. Mobil digunakan membantu masyarakat dalam banyak hal, seperti mengangkut hasil pertanian," paparnya.

Camat Sinoa, Ijas Fajar, menambahkan BUM-Des Mattiro Bulu sudah memiliki omzet usaha hingga Rp800 juta. "BUM-Des ini mampu membantu sekitar 1.700 kepala keluarga yang ada di Bonto Tiro dan desa lain."

Syarifuddin mengakui BUM-Des sangat membantu warga desa. "Saya bisa menyekolahkan empat anak saya karena sudah tidak terjerat rentenir. Dulu, dari BUM-Des saya hanya boleh pinjam Rp500 ribu, tapi sekarang sudah bisa Rp5 juta untuk modal bertani."

Saat ini, Sulawesi Selatan sudah memiliki 1.522 BUM-Des dari 2.255 desa. Mattiro Bulu menjadi salah satu BUM-Des terbaik.

 

Berkah Mart

Di Bangka Belitung, Gubernur Erzaldi Rosman Djohan terus mendorong semua desa di wilayahnya mengoperasikan Berkah Mart. Untuk itu, pemprov memodali setiap unit usaha itu sebesar Rp100 juta.

"Berkah Mart dikelola BUM-Des. Dari 309 desa, saat ini sudah ada sekitar 200 Berkah Mart," tuturnya.

Berkah Mart menyediakan kebutuhan pokok dengan harga murah. Selain itu, warga bisa membeli buku dan peralatan sekolah dengan kartu Indonesia pintar. Pengelola juga diwajibkan membeli hasil bumi dan hasil kerajinan warga untuk dipasarkan kembali.

Dari Kulon Progo, DI Yogyakarta, seluruh desa sudah mencairkan dana desa tahap ketiga yang besarannya mencapai 40% dari total Rp90,3 miliar.

"Pencairan dana yang tepat waktu ini juga menunjukkan bahwa pelaksanaan pembangunan yang menggunakan dana desa berjalan lancar, tepat waktu, dan pertanggungjawaban yang tepat serta tidak ada persoalan," ungkap Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Sudarmanto.

Selain itu, keberhasilan ini menunjukkan kinerja desa dan kecamatan yang cukup baik sehingga dana desa terserap dengan baik pula. (RF/AU/N-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More