Senin 09 September 2019, 02:30 WIB

Kompetensi Kultural

Khoiruddin Bashori Direktur Advokasi dan Pemberdayaan Masyarakat Yayasan Sukma Jakarta | Opini
Kompetensi Kultural

Dok. Pribadi
Khoiruddin Bashori Direktur Advokasi dan Pemberdayaan Masyarakat Yayasan Sukma Jakarta

HARI ulang tahun (HUT) ke-74 kemerdekaan Republik Indonesia ditandai dengan kejadian istimewa. Terjadi huru-hara di wilayah timur Indonesia yang sarat dengan aroma SARA. Terlepas dari apa pun penyebabnya, demonstrasi dan rusuh massal menunjukkan belum tuntasnya proses integrasi nasional, terutama secara kultural. Masih terdapat api dalam sekam, yang sewaktu-waktu dapat berubah menjadi kebakaran besar yang sanggup meluluhlantakkan sendi-sendi kehidupan berbangsa.

Penelitian menunjukkan, konflik antarbudaya, misalnya, antara pendatang dan penduduk setempat sering kali disebabkan kurangnya kompetensi kultural tiap-tiap pihak. Kompetensi ini menunjuk kepada seperangkat perilaku, sikap, dan kebijakan yang bersifat saling melengkapi dalam suatu sistem kehidupan sehingga memungkinkan untuk saling berinteraksi secara efektif dalam suatu kerangka hubungan antarbudaya.

Menurut Moule (2012), terdapat empat area penting menyangkut kompetansi kultural ini. Pertama, menghargai keragaman. Kedua, menjadikan diri sadar budaya. Ketiga, memahami dinamika dalam interaksi budaya. Keempat, melembagakan pengetahuan tentang budaya dan melakukan penyesuaian terhadap keragaman budaya. Pendidikan multikultural seyogianya memperhatikan dengan saksama keempat ranah yang dimaksud.

 

Menghargai keragaman

Keragaman dapat didefinisikan sebagai 'kondisi berbeda.' Kesalahan yang acap kali dilakukan banyak orang ialah menyamakan keragaman hanya sebatas ras, budaya, dan agama. Cara berpikir bahwa keragaman ialah tentang 'seperti apa orang Papua' atau 'seperti apa orang Jawa' atau 'agama kita berbeda' tidak mencerminkan realitas yang sesungguhnya. Pendekatan demikian secara inheren cacat karena memperkuat stereotip dan mempromosikan mentalitas 'kita versus mereka'. Keragaman jauh melampaui ras, budaya, dan agama.

Ringkasnya keragaman dapat dibagi dua; primer dan sekunder. Dimensi primer ialah hal-hal yang tidak dapat kita ubah, seperti usia, ras, etnik, jenis kelamin, kualitas fisik, dan warna kulit. Dimensi sekunder mencakup pendapatan, pendidikan, keyakinan agama, pengalaman belajar, lokasi geografis, status orangtua, dan status perkawinan. Orang cenderung kurang sensitif dengan dimensi sekunder karena kita memiliki kekuatan untuk mengubahnya. Model ini dengan jelas menunjukkan kita semua ialah sama sekaligus berbeda dalam sisi-sisi tertentu yang tak terbatas.

Menghargai keragaman berarti mengakui perbedaan setiap orang dan melihat aneka perbedaan sebagai aset yang berharga. Pendidikan multikultural menekankan kontribusi berbagai kelompok etnik, agama, jenis kelamin, pendapatan, orientasi politik, dll dalam membentuk generasi unggul.

Menjadikan diri sadar budaya merupakan bekal penting dalam interaksi lintas budaya. Kesadaran budaya merupakan kapasitas dasar untuk berkomunikasi yang melibatkan kemampuan untuk mundur sejenak ke belakang untuk memahami diri kita sendiri. Dengan langkah demikian, kita menjadi sadar akan nilai-nilai budaya, kepercayaan, dan persepsi kita.

Orang melihat, menafsirkan, dan mengevaluasi berbagai hal dengan cara yang berbeda. Apa yang dianggap sebagai perilaku yang sesuai dalam satu budaya sering kali dipandang tidak pantas di budaya lain. Kesalahpahaman muncul ketika kita menggunakan makna sendiri untuk memahami realitas orang lain.

Orang yang berasal dari komunitas dengan budaya kerja keras tentu sulit memahami kultur masyarakat yang gemar minum kopi. Dalam komunitas yang sangat menghargai hubungan, jeda sejenak minum kopi memiliki konotasi sosial; orang berkumpul untuk berbicara dan bersantai, dan untuk saling mengenal lebih baik. Misinterpretasi sering terjadi, terutama ketika kita kurang memiliki kesadaran akan aturan perilaku kita sendiri, kemudian memproyeksikannya pada orang lain.

 

Interaksi lintas budaya

Disadari atau tidak, budaya mewarnai semua kehidupan kita. Menentukan cara kita berkomunikasi dan bagaimana kita berpikir. Berpikir, berbicara, mendengarkan, dan mengajar hanya dengan basis budaya kita sendiri akan menghilangkan hak mereka yang bukan anggota budaya kita. Di kelas multikultural, guru yang efektif menggunakan ideologi pembelajaran yang responsif terhadap budaya. Oleh karena itu, kemampuan untuk memahami dinamika dalam interaksi budaya merupakan keniscayaan.

Agar dapat melakukan itu, pendidik harus membangun hubungan yang kuat dengan siswa dan keluarganya, serta mengembangkan pedagogi yang mengakui, menghormati, merespons, membangun, dan memahami budaya yang berbeda. Dengan demikian, sekolah seyogianya menawarkan akses pendidikan penuh dan merata bagi siswa dari semua budaya.

Pendidikan yang responsif secara budaya ialah pedagogi yang mengakui pentingnya menyertakan referensi budaya siswa dalam semua aspek pembelajaran. Oleh karena itu, guru hendaknya dapat menjadi praktisi reflektif yang memiliki 'sikap menghormati perbedaan budaya, mengetahui sumber daya budaya yang dibawa siswa ke kelas, dan terampil dalam memanfaatkan budaya siswa sebagai sumber daya dalam proses belajar-mengajar' (Pewewardy: 2003). Ketidakselarasan budaya sering menimbulkan miskomunikasi antara siswa dan guru, yang pada gilirannya dapat menghasilkan permusuhan, keterasingan, harga diri berkurang, dan pada akhirnya kegagalan sekolah.

Melembagakan pengetahuan tentang budaya dan melakukan penyesuaian terhadap keragaman perlu dibiasakan. Hal ini berarti menjadikan sejumlah budaya, lengkap dengan pengalaman dan perspektif mereka, sebagai bagian integral dari proses pembelajaran secara berkelanjutan. Pemangku kepentingan pendidikan yang memiliki kompetensi kultural, tentu akan bekerja untuk memengaruhi budaya sekolah sehingga kebijakan dan praktik kependidikannya dipandu prinsip-prinsip keragaman budaya.

Pimpinan sekolah dituntut menggunakan pengetahuan budaya yang dimiliki untuk memandu kebijakan sekolah agar mencapai hasil pendidikan yang adil dan memenuhi harapan sosial. Pada akhirnya, tulisan ini tentu tidak dimaksudkan untuk mengabaikan prestasi akademik. Kompetensi akademik memang penting bagi masa depan siswa, tetapi dalam konteks berbangsa dan bernegara dalam komunitas yang sangat majemuk terdapat hal yang lebih penting, yaitu kompetensi kultural. 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More