Senin 09 September 2019, 00:50 WIB

Dian Sastro Membaca Buku Butuh Komitmen

Fetry Wuryasti  | Humaniora
Dian Sastro Membaca Buku Butuh Komitmen

AFP
Aktris Dian Sastro

 

PERKEMBANGAN dunia digital tidak bisa dimungkiri menjadikan manusia merasa saling 'terkoneksi' melalui berbagai platform untuk berkomunikasi dengan kerabat atau saudara, baik yang tidak ditemui tiap hari maupun tinggal di kota lain. Setidaknya, suasana seperti itulah yang dirasakan aktris Dian Paramita Sastrowardoyo, 37.

Ibu dua anak yang tenar dengan nama Dian Sastro itu sebenarnya menyayangkan kondisi itu.

"Di saat yang sama saya merasakan ada kecenderungan antarmanusia justru saling tidak menjalin hubungan, pada level yang lebih dalam," cerita Dian di sebuah acara di Jakarta, belum lama ini.

Menurut istri Maulana Indraguna itu, apa pun yang disuguhkan media sosial atau digital tidak pernah benar-benar memberikan kesempatan antarpribadi bertemu lebih dalam. Itu agak berbeda dengan media buku.

Menurut dia, bila seseorang membaca buku meski tidak mengenal pengarangnya, dalam proses membaca terjadi interaksi sangat intim untuk bisa berbagi hal-hal terdalam dari diri bersama si penulis tersebut.

Dalam buku, penulis mengeluarkan seluruh rasa dan pikiran. Pembaca, ucap Dian, dibolehkan untuk ikut merasakannya sehingga sebagai manusia akan terhubung dengan manusia lain dan menimbulkan rasa empati.

"Sehingga ketika kegiatan empati itu tidak dijalankan seperti kita tidak memanusiakan diri kita. Membaca sekarang menjadi sesuatu yang mahal sekali karena susah mencari waktunya," ujarnya.

Ketika sibuk bekerja, kesempatan membaca satu-dua halaman rasanya seperti pencapaian di dunia yang cepat seperti sekarang. Luar biasa.

Dian mengaku terakhir kali bisa membaca buku dengan cepat saat masa-masa menyelesaikan skripsi. Dahulu dia bisa menargetkan 'melahap' satu buku dalam beberapa jam menjadi bahan skripsinya.

"Sekarang membaca satu buku bisa satu tahun mungkin. Sangat memalukan. Memang betul butuh komitmen dan waktu untuk bisa menyelesaikan (membaca) sebuah buku. Walaupun kita menyeleweng ke buku-buku lain sebelum yang satu selesai," ungkapnya.

Bagi Dian, buku menjadi sangat penting karena kata-kata bermakna di dalamnya bisa mendeskripsikan situasi dan visual yang pembaca bangun dari imaji masing-masing. "Ini menjadi proses yang menarik karena kita seperti latihan membangun theater of mind dan melatih daya imajinasi," katanya.

Kini di rumahnya, Dian tengah menerapkan kebiasaan membaca menjadi sesuatu yang lumrah, terutama bagi anak-anaknya. Dia ingin anaknya memiliki kemampuan membangun imajinasi visualnya dari bahan tekstual.

Di situ, ada proses berpikir. Ada bagian otak yang dilatih. Kemahiran membangun imajinasi, kata Dian, tidak hanya perlu pada anak kecil. "Kita pun sebagai manusia dewasa dengan berbagai tantangannya memerlukan itu. Ibarat kegiatan nge-gym untuk melatih otot, membaca untuk melatih otak, untuk bisa thinking out of the box," pungkasnya. (H-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More