Minggu 08 September 2019, 14:30 WIB

Andreescu Ingin Kemenangannya Jadi Inspirasi

Despian Nurhidayat | Olahraga
Andreescu Ingin Kemenangannya Jadi Inspirasi

AFP/Johannes EISELE
Bianca Andreescu

BIANCA Andreescu membuktikan bahwa kemenangannya di ajang Kanada Terbuka 2019 pada Agustus lalu melawan Serena Williams bukanlah keberuntungan semata.

Pasalnya, saat itu, Williams mengalami cedera dan harus mengundurkan diri di babak final. Kini, keadaan Williams sangat bugar dalam melakoni pertandingan final Amerika Serikat (AS) Terbuka 2019 pada Minggu (8/9) dini hari WIB.

Petenis Kanada yang berusia 19 tahun ini kembali berhadapan dengan peraih 23 gelar Grand Slam tersebut. Bermodalkan tujuan menyamai capaian 24 gelar Grand Slam yang diraih Margaret Court, Williams sangat bertekad memenangkan laga final yang diadakan di Arthur Ashe Stadium ini.

Sayangnya, harapan Williams untuk bisa sejajar dengan Court harus tertunda karena Andreescu yang tangguh mampu menghentikan langkahnya di babak final ini.

Skor 6-3 dan 7-5 menjadi bukti bahwa Andreescu tidak mau membiarkan Williams bangkit di set kedua dan lebih memilih mengakhiri pertandingan dalam dua set langsung.

Baca juga: Andreescu Ingatkan untuk tidak Mudah Menyerah

Bagi Williams, ini merupakan keempat kalinya dia gagal menyelesaikan laga di final Grand Slam. Sedangkan bagi Andreescu, kemenangan ini menjadikan dirinya sebagai petenis perempuan termuda yang berhasil memenangkan ajang di Flushing Meadows, sejak terakhir kali Svetlana Kuznetsova meraih gelar pada 2004.

"Sangat sulit dijelaskan dengan kata-kata tetapi saya sangat bersyukur. Saya telah bekerja dengan sangat keras untuk saat ini," ungkap Andreescu dilansir dari AFP.

Usai kemenangan itu, Andreescu akan naik ke peringkat lima dunia yang juga menjadi peringkat tertinggi sepanjang kariernya pada Senin (9/9).

Selain itu, dia juga berhak meraup hadiah uang tunai sebesar US$3,85 juta.

Selain menjadi petenis termuda yang meraih gelar AS Terbuka, Andreescu juga menjadi perempuan Kanada pertama yang berhasil menjuarai ajang ini.

Sebelumnya pada 2014, Eugenie Bouchard pernah mencapai babak final AS Terbuka. Namun, Bouchard hanya mampu meraih posisi runner-up.

"Saya sudah mengatakan ini berkali-kali sebelumnya. Saya memiliki tujuan menginspirasi banyak orang, terutama atlet Kanada. Saya pikir kemenangan ini mudah-mudahan bisa menjadi pemicu akan hal itu. Tidak hanya kemenangan ini, tetapi juga apa yang telah saya capai tahun lalu karena begitu banyak atlet Kanada yang telah membuka jalan bagi saya ketika saya masih muda. Semoga saya bisa menjadi orang yang menginspirasi bagi mereka," lanjutnya.

Beberapa orang yang menginspirasi Andreescu ialah Carling Bassett, petenis Kanada yang mampu menembus babak semifinal AS Terbuka 1984, dan juga pemain NBA yang pernah menyabet dua gelar MVP, Steve Nash.

Sementara itu, di sisi Serena Williams, kekalahan ini seharusnya tidaklah menyakitkan bagi dirinya. Mengingat pengalaman seperti ini bukan kali pertama bagi perempuan yang kini berusia 37 tahun tersebut.

Pada 2018, Williams juga berhasil berada di posisi yang sama seperti saat ini di ajang AS Terbuka. Namun, lawannya kala itu merupakan petenis yang kini menyandang sebagai petenis perempuan peringkat satu dunia, Naomi Osaka.

Pada 2018, mungkin Williams kalah atas insiden dengan wasit yang juga memberikan banyak keuntungan bagi Osaka. Tapi, hal berbeda dialami olehnya melawan Andreescu dan bahkan Williams memuji pencapaian yang berhasil diraih perempuan muda tersebut.

"Bianca memainkan pertandingan yang sulit dipercaya. Saya sangat bangga dan bahagia untuknya. Itu merupakan permainan yang luar biasa. Jika ada yang bisa memenangkan ajang ini, selain Venus, saya senang gelar itu diperoleh Bianca," pungkas Williams. (OL-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More