Minggu 08 September 2019, 03:10 WIB

Setiap Orang Adalah Penulis

(Riz/M-1) | Weekend
Setiap Orang Adalah Penulis

MI/ ADAM DWI
Doktor dari University of East London bidang Media and Cultural Studies

TELAH menerbitkan banyak buku dan setidaknya tiga kali meraih penghargaan, Adania mengungkapkan jika menyukai dunia tulis-menulis sejak kecil.

“Di usia sembilan atau 10 tahun saat saya mulai menulis, saya merasakan kebahagiaan terbesar saya, merasakan kehidupan dan kebebasan. Saya tumbuh besar di desa yang kecil dan sepi, tapi saya beruntung karena dapat bertualang dengan membawa rangkaian kata-kata, bukan tas besar yang dipenuhi barang-barang. Saya membawa mimpi-mimpi dalam rangkaian kata-kata,” jelas perempuan kelahiran 1974 itu.

Meski begitu, peraih gelar doktor bidang Kajian Media dan Budaya University of East London, Inggris, tersebut masih belum merasa berprofesi sebagai penulis hingga kini. Bukannya tidak mencintai, justru sebaliknya. Bagi Adania, menulis sudah bagian yang tidak terpisahkan dari hidupnya sehingga sulit dikatakan sebagai profesi.

“Menulis seperti bernapas yang memang keharusan untuk eksistensi,” ujarnya.

Adania mulai mempublikasikan karya-karyanya sejak 1996 dalam majalah-majalah di dunia Arab maupun Eropa dan karyanya tersebut telah diterjemahkan dalam banyak bahasa, seperti bahasa Prancis, Jerman, Italia, hingga Korea. Respons yang didapat beragam.

Misalnya, di tanah kelahirannya, Palestina, karyanya amat diapresiasi dan menginspirasi para generasi muda. Karyanya dianggap telah menyampaikan kepada dunia apa yang ingin mereka dengar tentang Palestina. Namun, respons sangat berkebalikan datang dari Otoritas Israel. 

“Pertama kali saya pernah dikontak oleh sebuah majalah Israel yang ingin menerbitkan naskah-naskah saya, tetapi mereka tidak membacanya, mereka hanya mendengar tentang saya dan ingin menerjemahkannya. Tentunya saya persilakan, tapi ternyata setelah diterjemahkan, mereka menolak untuk menerbitkannya,” kata Adania.

Menurutnya, pihak Israel takut menerbitkan hasil terjemahan naskah tersebut karena di dalamnya saya bercerita, mempertanyakan, dan memiliki hubungan dengan kondisi kehidupan yang terjadi.

“Untuk kedua kalinya pihak Israel mengontak saya untuk memublikasikan cerita cinta yang saya buat dan saya menolaknya karena mereka hanya ingin mempublikasikan beberapa bagian. Saya katakan bahwa jika ingin mempublikasikan, publikasikan semuanya. Namun, mereka kukuh untuk melakukan penyensoran,” imbuh Adania.

Sikap yang ditunjukkan Israel tersebut, bagi Adania, menunjukkan ketidaksiapan mereka untuk membaca sebuah karya sastra yang jujur mengungkapkan realitas. 

“Mereka tahu kabar dari banyak berita, mereka tahu apa yang mereka lakukan, tapi mereka tidak ingin melihat hal itu semua (keburukan) dalam bentuk karya sastra. Dan saya merasa prihatin kepada mereka karena melakukan penyensoran, padahal di sisi lain kami (orang Palestina) tidak dapat membaca apa pun karya sastra Israel dan kami tidak dapat mempertanyakannya,” pungkas Adania. (Riz/M-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More