Minggu 08 September 2019, 01:15 WIB

Ivan Lanin : Kenalkan Ragam Bahasa kepada Milenial

FETRY WURYASTI | Weekend
Ivan Lanin : Kenalkan Ragam Bahasa kepada Milenial

MI/SUSANTO
Pegiat bahasa Indonesia Ivan Lanin,

PEGIAT bahasa Indonesia Ivan Lanin, 44, mengungkapkan sering menemui penggunaan bahasa gaul atau bahasa prokem yang tidak pada tempatnya. Bahasa gaul atau slang dibutuhkan sebagian orang untuk menunjukkan identitas mereka, dan terkadang digunakan untuk merahasiakan arti percakapan. 

Hanya saja, sering kali bahasa menjadi masalah ketika tidak dibedakan antara penggunaan bahasa resmi dan bahasa pergaulan sehari-hari. Banyak fenomena anak generasi Y dan Z yang tidak menyesuaikan penggunaan bahasa kepada orang yang diajak berkomunikasi.

“Contoh paling nyata, dahulu tidak ada kesulitan seseorang untuk memberi tahu kepada mahasiswa ketika menghubungi dosen pembimbing, mereka harus menggunakan gaya bahasa yang berbeda. Padahal, itu pengetahuan dasar dan umum,” ujar Ivan saat berbagi cerita di Jakarta, Rabu (4/9).

Menurut Uda Ivan, demikian sapaan akrabnya, anak-anak dan remaja mesti diajarkan penggunaan ragam bahasa. Oleh karena itulah, sejak 2007 ia rajin membagikan pengetahuan mengenai bahasa Indonesia melalui cicitan di akun Twitter-nya. Ivan menuturkan banyak kaidah bahasa sesuai dengan Kamus Besar Bahasa Indonesai (KBBI), menggali ragam bahasa, dan menjelaskan pengetahuan kata dengan cara ringan. Mulai 2010, ia menjawab pertanyaan warganet melalui akunnya.

Pria kelahiran 16 Januari 1975 tersebut selalu meluangkan dirinya berbagi pengetahuan di malam hari selepas kesibukan kerja. Becermin kepada diri sendiri, Ivan mengatakan, pengetahuan yang dia peroleh dipraktikkan ketika berbicara dengan orang lain, dengan tetap menjaga sopan santun.

“Hal sederhana, misalnya mengirim pesan Whatsapp ke orang yang tidak dikenal, sebaiknya menyebutkan dari mana, sebelum menyampaikan maksud tujuannya,” imbuh Direktur Proxsis Consulting Group tersebut.

Menurut Ivan, memberi pemahaman kepada generasi muda mengenai perbedaan ragam bahasa, cara berbicara kepada kalangan seusia atau lintas generasi, serta berbicara dalam situasi profesional, menjadi hal yang sangat penting. Jika generasi muda mengabaikan ragam bahasa, dikhawatirkan mereka akan gagap ketika masuk dunia kerja. 

“Yang penting menyadarkan orang bahwa ada ragam bahasa, dan kita menggunakan bahasa sesuai tempat dan dengan siapa berbicara,” tegas Ivan.

Sabar hadapi warganet
Kiprah Ivan dalam membumikan bahasa Indonesia tak hanya diakui warganet. Ia mendapatkan penghargaan Pembina Bahasa Indonesia 2016 sebgai Peneroka Bahasa Indonesia Daring dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Setelah Twitter, kini Ivan mulai merambah Instagram. Ia mengaku sering menghadapi pertanyaan berulang dan nyeleneh. “Kunci menghadapi warganet ada dua, sabar dan husnuzan. Ketika saya hadapi dengan telaten, dan tetap tidak terpancing motif-motif penanya, mereka akan sungkan sendiri. Jawab saja, sekalian latihan kesabaran,” imbuh Ivan.

Terkait proses mengulik padanan kata bahasa Indonesia dari bahasa Inggris, Ivan menjelaskan langkah pertama dipahami dulu arti dari kata berbahasa Inggrisnya, kemudian dicari pola yang ada di dalam bahasa Indonesia yang telah dipadankan.

“Kuncinya pahami dulu arti, cari konsep yang pernah ada, kemudian lemparkan kata itu ke publik, diterima atau tidak,” jelasnya. 

Ketika melayani pertanyaan warganet, ada satu perta­nyaan yang pernah menguras pikiran Ivan. “Kalau orang bertanya apa arti kata ‘Terserah’ dari perempuan. Itu saya tidak bisa menjawab. Nyerah saya,” tukas Ivan. (H-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More