Sabtu 07 September 2019, 23:00 WIB

Pembangkit Tenaga Bayu Tolo sudah Beroperasi Komersial

Antara | Nusantara
Pembangkit Tenaga Bayu Tolo sudah Beroperasi Komersial

Antara
Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) Tolo I

 

DIREKTUR Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Mineral (ESDM) Rida Mulyana meninjau ke Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) Tolo berkapasitas 72 megawatt (MW) di Kabupaten Jeneponto, Provinsi Sulawesi Selatan yang telah beroperasi komersial.

"Saya hadir di sini untuk memastikan apakah proyek PLT Bayu ini layak diresmikan. Ini dibangun sejak 2016 dan sudah beroperasi secara komersial 14 Mei 2019. Setelah tiga bulan, saya lihat produksi listriknya makin meningkat, bagus dan dilaporkan belum ada (kendala) apa-apa," kata Dirjen Rida dalam penjelasan tertulis yang diterima Antara di Jakarta, Sabtu (7/9).

Sifat pembangkit listrik berbasis Energi Baru Terbarukan yang intermitten menjadi tantangan sendiri bagi pengembang untuk mengoptimalkan pengoperasian. Isu prakiraan cuaca yang memengaruhi produksi listrik diharapkan dapat segera diatasi. "Ini dibutuhkan oleh PLN untuk keseimbangan pasokan dan cadangan jaringan," sambung Rida.

Terkait tantangan utama adalah terkait harga jual listrik yang lebih murah. "Tantangan bisnis yang kita (pemerintah) mintakan kepada pengembang listrik adalah pengalaman di tahap I dan PLTB Sidrap, mereka menjanjikan (pengembangan PLTB tahap kedua) harganya di bawah Biaya Pokok Produksi (BPP)," jelas Rida.

PLTB Tolo yang dikelola oleh pengembang listrik swasta (Independent Power Producer/IPP) ini memiliki Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang mencapai sekitar 40%.

Dengan tinggi 133 meter (m) dan panjang baling-baling 63 m, 20 turbin yang terpasang masing-masing mampu mengalirkan listrik sebesar 3,6 MW, sehingga kapasitas totalnya mencapai 72 MW. Kehadiran PLTB ini mampu melistriki setara 300.000 rumah tangga pelanggan 900 VA.

PLTB Jeneponto, imbuh Rida, masuk dalam program 35.000 MW. Ini merupakan bukti nyata komitmen pemerintah mewujudkan bauran energi primer energi baru dan terbarukan (EBT) sebesar 23% pada 2025. Pemerintah juga terus mendorong pengembangan industri ini semakin kompetitif.

"Mudah-mudahan proyek ini sebagai salah satu dari delapan proyek strategis sektor ESDM yang bisa diresmikan langsung oleh Presiden RI," kata Rida.

Selain meningkatkan kapasitas penyediaan listrik dan keandalan sistem interkoneksi sistem Sulawesi bagian selatan, PLTB ini juga mengurangi pemakaian BBM dan mengurangi biaya pokok pembangkitan dengan penghematan Rp577 per-kWh jika dibandingkan dengan dengan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD).

Pengembang PLTB Jeneponto rencananya melakukan ekspansi menyusul keberhasilan beroperasinya pembangkit yang sekarang. "Kalau sekiranya dikembangkan, saya gembira, mengingat (PLTB yang akan dibangun) sudah memiliki sistem penyimpanan energi. Akan membantu PLN bekerja dan utamanya pelanggan yang menjadi konsentrasi kita tidak mengalami masalah dari fluktuasi (produksi listrik)," jelas Rida.

Perluasan bisnis pembangkit EBT ini disambut hangat oleh Direktur Pengadaan Strategis 2 PT PLN (Persero) Djoko R Abu Manan, mengingat melimpahnya sumber EBT di Sulawesi Selatan.

Baca juga: Ini Tujuh Pemasok untuk Esemka. Lokal Semua

"Kita sangat mendukung energi terbarukan, karena energi fosil pasti akan habis. Di Sulawesi Selatan banyak potensi energi hidro, surya, angin juga banyak. Sulawesi ini luar biasa, karena potensi energi angin tidak di semua tempat, koridornya di Nusa Tenggara, Sulawesi dan Jawa Bagian Selatan. Ini berkah," ucap Djoko.

Sebagai informasi, saat ini kondisi sistem kelistrikan Sulawesi bagian selatan memiliki daya mampu sebesar 1.499 MW dengan beban puncak 1.165 MW dan cadangan daya sebesar 334 MW. Sementara rasio elektrifikasi Provinsi Sulawesi Selatan hingga Juli 2019 telah mencapai 99,99%.


 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More