Kamis 05 September 2019, 11:23 WIB

Produksi Gabah dari Kabupaten Cianjur Turun Hingga 15.396 Ton

Benny Bastiandy | Nusantara
Produksi Gabah dari Kabupaten Cianjur Turun Hingga 15.396 Ton

MI/Benny Bastiandy
Petani menunjukkan tanaman padi yang mengering dan gagal panen akibat kemarau di Cianjur, Jawa Barat.

 

KABUPATEN Cianjur, Jawa Barat, kehilangan produksi padi sebanyak 15.396 ton gabah kering giling (GKG) akibat dampak kekeringan. Dengan merosotnya produksi gabah kering akibat kemarau tersebut, diestimasi nilai kerugian mencapai sekitar Rp79,3 miliar.

"Hingga saat ini luasan lahan yang mengalami puso sekitar 1.283 hektare. Dari luasan lahan puso itu, produksinya mencapai 15.396 ton GKG dengan
rata-rata 6 ton per hektare," kata Kepala Seksi Sarana dan Prasarana Dinas Pertanian Perkebunan Pangan dan Hortikultura Kabupaten Cianjur, Dandan Hendayana, kepada Media Indonesia, Kamis (5/9).

Dandan mengatakan jika asumsi harga gabah kering giling sebesar Rp5.150 per kilogram berdasarkan harga pembelian pemerintah, penghitungan nilai
kerugian akibat kekeringan terhadap lahan pertanian sawah mencapai sekitar Rp79,3 miliar.

Estimasi nilai kerugian itu diperoleh dari penghitungan tingkat produksi sebanyak 15.396 ton GKG berdasarkan harga pokok penjualan (HPP).

"Sesuai prediksi, mudah-mudahan September ini sudah mulai masuk hujan. Kurun sepekan atau dua pekan terakhir, berdasarkan catatan kami sudah turun dua kali hujan," terang dia.

Selain yang mengalami puso, tutur Dandan, terdapat juga lahan yang mengalami kerusakan berat, sedang, dan ringan seluas 2.718 hektare.
Rinciannya terdiri dari kekeringan ringan seluas 931 hektare, kekeringan sedang seluas 947 hektare, kekeringan berat 840 hektare.

"Jadi, kalau diakumulasi lahan sawah yang sudah terdampak kekeringan terdiri dari rusak ringan, sedang, berat, dan puso di Kabupaten Cianjur
berdasarkan hasil pendataan dan laporan mencapai 4.001 hektare," ujar Dandan.

Selain berdampak terhadap lahan yang sudah mengalami kekeringan kemarau tahun ini juga hingga sekarang mengancam lahan sawah seluas 1.293 hektare.

Dinas Pertanian Perkebunan Pangan dan Hortikultura setempat pun merancang berbagai program penanggulangan jangka pendek, menengah, dan pajang.

"Penanganan yang kami mencoba lakukan dengan upaya bersifat jangka pendek. Jadi, lahan-lahan yang masih bisa diselamatkan, terutama yang kekeringan ringan, sedang, dan berat, kita turunkan statusnya. Misalnya dari berat ke sedang, sedang ke ringan,  ringan jadi terancam, dan yang terancam jadi tidak terancam," tutur Dandan.

Caranya dilakukan dengan memaksimalkan alat mesin pompa air yang sudah disalurkan kepada petani melalui kelompok-kelompok tani. Hanya saja,
pompa-pompa air tersebut harus sinergis dengan ketersediaan pasokan air di sumber-sumber air.

"Sehingga nanti petani bisa lebih cepat memproses pemeliharaan tanaman. Kami juga menambah jumlah unit pompa. Kami turunkan semua unit pompa air yang ada di Brigade Kabupaten dan Brigade Kecamatan," jelas dia.

Untuk penanganan jangka panjang, Dinas Pertanian, Perkebunan, Pangan dan Hortikultura (DP3H) Kabupaten Cianjur juga mempercepat pembangunan fasilitas fisik. Misalnya pembangunan embung, dam parit (channel reservoir), serta long storage (bangunan penahan air yang
berfungsi menyimpan air di dalam sungai, kanal dan atau parit pada lahan yang relatif datar).

"Ini bangunan-bangunan fisik itu sifatnya sedikit jangka panjang," tandas Dandan. (BB/BK/OL-09)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More