Kamis 05 September 2019, 11:45 WIB

Jakarta Peringkat Ke-53 Kota Teraman Dunia

Fathurrozak | Weekend
Jakarta Peringkat Ke-53 Kota Teraman Dunia

Dok. Antara
Jakarta tempati peringkat ke-53 kota teraman dunia.

Baru-baru ini majalah mingguan yang berbasis di London, The Economist baru saja merilis Indeks kota teraman 2019 (Safe Cities Index 2019) melalui The Economist Intelligence Unit (TEIU). Vaibhav Sahgal dan Divya Sharma Nag dari TEIU yang merancang dan membuat indeks tersebut.

Dalam indeks tersebut ada 60 kota yang dinilai dalam 57 indikator. Sejumlah indikator yang digunakan ialah keamanan digital, keamanan kesehatan, keamanan infrastruktur, dan keamanan pribadi.

Berdasarkan indeks itu, Tokyo berada di ranking pertama secara keseluruhan, dan ada enam kota di wilayah Asia Pasifik yang masuk 10 besar. Singapura (ke-2), Osaka (ke-3), Sydney (ke-5), Seoul (ke-8), dan Melbourne (ke-10).

Hanya ada dua kota di Eropa yang masuk 10 besar keseluruhan, Amsterdam (ke-4) dan Kopenhagen (ke-8) skor sama dengan Seoul. Sementara hanya ada dua kota dari Amerika yang ada di 10 besar, yaitu Toronto (ke-6), dan Washington, DC (ke-7).

Kota-kota di Asia Tenggara (ASEAN), peringkatnya paling rendah di antara 60 kota lainnya di seluruh dunia. Bagaimana dengan Jakarta? Jakarta berada di peringkat ke-53.

Meskipun Jakarta dinilai memiliki keamanan kesehatan, infrastruktur, dan keamanan pribadi yang baik, ibukota Indonesia yang akan segera menjadi mantan ibukota ini tidak punya mekanisme yang baik untuk kategori keamanan digital.

Negara-negara Asia Tenggara lainnya, Yangon, Myanmar menempati peringkat ke-58. Kota ini menempati peringkat terendah dalam hal keamanan digital di antara total 60 kota, dan di bawah rata-rata untuk keamanan kesehatan, infrastruktur, dan pribadi.

Ho Chi Minh, Vietnam secara mengejutkan berada di ranking ke-47, berbagi nilai yang sama dengan Bangkok Thailand. Ini dikarenakan kemampuan kota untuk memberikan keamanan pribadi yang lebih baik. Namun, sama seperti Jakarta dan Yangon, skornya sangat buruk untuk keamanan digital. Sedangkan Bangkok dinilai bagus dalam hal keamanan digital. Namun Bangkok berada di peringkat rendah untuk tiga kategori lainnya.

Manila mendapat skor lebih baik untuk keamanan pribadinya. Namun, karena ketidakmampuannya untuk menyediakan keamanan kesehatan yang lebih baik, laporan itu menempatkan ibukota Filipina pada peringkat 43.

Berada di posisi 35, modal Malaysia lebih baik berkat skor keamanan digital dan pribadi. Kuala Lumpur duduk bersama dengan ibukota Chili, Santiago, dalam hal keamanan kesehatan, dan tidak memiliki kekurangan dalam lini keamanan digital seperti kota-kota ASEAN lainnya.

Urbanisasi

Dalam laporan Safe Cities Index (SCI-2019) itu, juga disebutkan, lebih dari 56% dari kita tinggal di kota. Pada 2050, 68% akan melakukannya, mencerminkan kecepatan urbanisasi bahkan lebih cepat dari yang diperkirakan sebelumnya. Proses ini terjadi paling nyata di negara-negara berkembang.

Tantangan urbanisasi, jika tidak terpenuhi, dapat menimbulkan risiko manusia dan ekonomi yang substansial. Di sisi lain, jika ditangani secara efektif, pertumbuhan kota dapat menjadi bagian penting ekonomi yang sedang berkembang menemukan cara untuk mengejar ketinggalan yang ada di negara-negara yang lebih maju dan manusia secara keseluruhan menciptakan cara hidup yang lebih berkelanjutan.

Manajemen perkotaan akan memainkan peran mendasar dalam menentukan kualitas hidup sebagian besar manusia di tahun-tahun mendatang. Elemen kunci dari ini ialah kemampuan kota untuk menyediakan keamanan bagi penduduk, bisnis, dan pengunjung mereka. (M-3)

Baca juga : Cara Mudah Membaca Buku Tebal

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More