Kamis 05 September 2019, 03:40 WIB

Ribuan Ton Padi tak Terselamatkan

Benny Bastiandy | Nusantara
Ribuan Ton Padi tak Terselamatkan

(MI/BENNY BASTIANDY)
Tanaman padi di lahan sawahnya yang sudah tak bisa lagi dipanen akibat kekeringan

 

KERUGIAN akibat kekeringan bukan ancaman lagi. Kabupaten Sukabumi di Jawa Barat, misalnya, harus kehilangan potensi hasil panen sebesar 18.960 ton gabah kering giling akibat kemarau.

"Sampai akhir Agustus, kekeringan telah membuat lebih dari 7.000 hektare (ha) lahan terdampak. Sebanyak 3.160 ha di antaranya mengalami puso," keluh Kepala Dinas Pertanian Sudrajat, kemarin.

Ia mengakui puso akibat kekeringan cukup berpengaruh terhadap produksi gabah kering giling. Beruntung, luas lahan tanam yang sudah dicapai daerah ini pada musim tanam sebelumnya sudah mencapai 149 ribu ha.

Saat ini, lanjutnya, sejumlah petani tengah mengurus klaim program asuransi usaha tani padi.

Penurunan produksi gabah juga dialami petani di Kota Tasikmalaya, sebesar 13.722 ton. "Kekeringan melanda 2.226 ha lahan dari total 5.799 ha di seluruh wilayah ini," ungkap Kepala Seksi Produksi Pembenihan Tanaman Pangan, Deni Nugraha.

Dia mengakui kekeringan tahun ini terbilang paling buruk dalam beberapa tahun terakhir. "Kami tengah mengajukan bantuan untuk 17 kelompok tani."

Dampak serius kekeringan juga terjadi Kabupten Boyolali, Jawa Tengah. Bulan lalu, sawah puso baru mencapai 237 ha, dan bulan ini meluas menjadi 1.189 ha.

"Total luas tanaman padi mencapai 22.717 ha. Lahan terdampak kekeringan mencapai 1.392 ha dan 1.189 ha di antaranya puso," ujar Kepala Seksi Perbenihan dan Perlindungan Tanaman Marsini. Ia memastikan lahan pertanian yang mengalami kekeringan semakin meluas, begitu juga dengan sawah menuju puso.

Bencana kekeringan yang semakin parah juga terlihat dari kondisi sejumlah waduk di Tanah air. Di Kebumen, Jawa Tengah, volume air Waduk Sempor hanya tersisa 3% dari daya tampungnya yang mencapai 46 juta meter kubik. Di Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, 15 embung sudah tidak menyisakan air. Setali tiga uang, di Klaten, 20 mata air tidak menghasilkan lagi.

Kabut asap

Jutaan warga di Kalimantan dan Sumatra juga tidak bisa hidup tenang. Dalam beberapa hari terakhir, kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan mengepung mereka.

Di Jambi, dua kabupaten, Tanjung Jabung Barat dan Tanjung Jabung Timur, wilayah pesisir, dibuat menderita. Kabut asap membuat jarak pandang hanya mencapai 200-500 meter.

Para nelayan pun mengaku harus sangat berhati-hati saat mengemudikan kapal atau speedboat mereka. "Kami terpaksa tetap berlayar buat makan. Tidak bisa kencang karena jarak pandang sangat terbatas," keluh Somad, pengemudi speedboat.

Kepala Bidang Penanganan dan Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Sumatra Selatan menginformasikan bahwa kebakaran di dua kabupaten, yakni Ogan Komering Ilir dan Ogan Ilir, bisa berdampak ke Kota Palembang. "Angin mengarah ke Palembang. Sejak pagi, kabut udara sudah bercampur asap."

Kabut asap juga mengepung Bandar Udara Syamsuddin Noor di Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Di Provinsi ini, asap juga sudah merebak ke Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah dan Hulu Sungai Utara. "Luas kebakaran sudah mencapai 2.245 ha. Ada kawasan gambut di dalamnya seluas 200 ha," papar Kepala BPBD Wahyuddin Ujud. (AD/WJ/LD/FB/JS/SL/DW/DY/RF/SS/PO/N-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More