Kamis 05 September 2019, 02:25 WIB

Inspirasi, Inovasi, dan Integritas

Arif Satria Rektor IPB | Opini
Inspirasi, Inovasi, dan Integritas

MI/Seno
Opini

SELAMAT Dies Natalis ke-56 IPB, hari ini, 1 September 2019. Kita bersyukur usia kita telah bertambah yang tentunya prestasi pun harus bertambah. Setiap detik pertambahan usia ialah kesempatan pertambahan prestasi. Eksistensi kita di masa depan sangat bergantung dari utilisasi per detik pertambahan waktu kita itu. Eksistensi bisa tumbuh linier, bisa juga tumbuh eksponensial, tapi bisa juga 'nyungsep'. Semua tergantung dari kualitas utilisasi waktu kita. Kalau waktu kita anggap sebagai kesempatan untuk tumbuh berkembang, tak ada jalan lain selain day to day thinking dan bertindak cerdas tangkap peluang. Sementara itu, kalau pertambahan waktu kita anggap sebagai beban, yang ada ialah kecemasan setiap saat. Ini persis dengan cemasnya saat 2x15 menit perpanjangan waktu pertandingan sepak bola karena lebih ketakutan kebobolan gol dari pada optimisme untuk justru menambah gol.

Eksistensi IPB dulu hingga saat ini diuntungkan dengan orang-orang di dalamnya yang memanfaatkan pertambahan waktu dengan sangat baik dan sikap proaktif. Kalau kita pelajari perjalanan IPB selama ini sejak berdirinya pada 1963, ada tiga faktor penyebab suksesnya IPB, yaitu inspirasi, inovasi, dan integritas.

Pertama, inspirasi telah menjadi ciri IPB karena banyak ide IPB dalam bidang pendidikan dan pertanian yang merangsang berbagai pihak untuk mengadopsi atau mengembangkan lebih lanjut. Ide seleksi masuk IPB tanpa tes ialah yang monumental, yang kemudian diadopsi secara nasional dengan nama PMDK, lalu sekarang bernama SNMPTN. Begitu pula ide bimbingan massal yang menjadi program nasional di era Orde Baru sehingga kita mencapai swasembada beras 1984. Pemikiran pembangunan ala Sajogyo juga mewarnai pembangunan perdesaan di Indonesia. Inspirasi ialah fungsi dari kreativitas berpikir. IPB bisa terus menginspirasi karena kreativitas berpikir yang bisa tumbuh berkembang di lingkungan akademik kampus yang kondusif. Ide-ide yang menarik dan unik menjadikan orang lain tertarik untuk mengembangkan lebih jauh. Inilah yang dimiliki para pendahulu dan senior IPB, yakni kemampuan menginspirasi.

Kedua, inovasi proses pemanfaatan pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman untuk menciptakan atau memperbaiki produk barang atau jasa, proses, atau sistem yang baru, yang memberikan nilai tambah penting. Inovasi IPB sangat banyak. Dalam inovasi produk kurun waktu 2008-2018 ada lebih dari 450 inovasi yang prospektif dan memberikan kontribusi 39,6% dari total Inovasi paling prospektif menurut penilaian Business Innovation Center (BIC). Inovasi kelembagaan juga banyak, salah satunya Sekolah Peternakan Rakyat (SPR). Inilah yang membuat IPB dalam tiga tahun ini selalu mendapatkan anugerah Widyapadhi dari Menristek-Dikti. Inovasi IPB tersebut menjadi modal IPB untuk berperan di masyarakat. IPB bisa besar seperti sekarang ini karena inovasi-inovasinya yang bermanfaat, baik untuk pemerintah, industri, maupun masyarakat.

Ketiga, integritas yang berisi kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, dan komitmen menjadi penciri alumni IPB. Integritas menjadi pilar penting dalam membangun sinergi IPB dengan berbagai pihak. Integritas ini kemudian melahirkan trust, yang merupakan pilar penting modal sosial. Artinya, kepercayaan publik kepada IPB didasarkan pada integritas orang-orang di dalamnya dan di internal IPB pun akhirnya tercipta modal sosial yang kuat. Dengan modal sosial yang kuat tersebut, maka inovasi-inovasi pun bermunculan lebih lancar.

Jadi, ketiga faktor tersebut sebenarnya terkait satu sama lain. Pertanyaan sekarang ialah bagaimana konteks baru inspirasi, inovasi, dan integritas IPB di saat kita memasuki era baru VUCA (volatility, uncertainty, complexity, ambiguity) akibat revolusi industri 4.0?

VUCA memang bisa membuat kita 'fragile', tapi bisa membuat kita 'agile' kalau VUCA kita artikan dengan vision, understanding, clarity, dan agilility. Kita harus punya visi dan future mindset, lalu mampu menghadirkan masa depan ke dalam pikiran dan langkah hari ini. Kata orang, tommorrow is today dan future is now.

Volatility harus kita jawab dengan kecepatan. Uncertainty kita jawab dengan risk literacy karena ketidakpastian akan penuh dengan risiko. Complexity kita jawab dengan understanding terhadap multivariabel yang saling terkait dan ini pun butuh skill complex problem solving. Mochtar Riady pernah berpesan di Rumah Perubahan Rhenald Kasali, "kita jangan hanya tahu pohon, tapi harus tahu hutan". Artinya, kita harus tahu ekosistem dan hubungan tali-temali variabel-variabel di dalamnya. Ambiguity kita jawab dengan clarity, informasi harus lengkap dan jelas.

 

Diperlukan inspirasi baru

Saat ini yang diperlukan ialah inspirasi-inspirasi baru untuk menghadapi VUCA dan revolusi industri 4.0. IPB akan makin eksis kalau kita mampu hadir dengan ide-ide baru yang menginspirasi. Kita telah memiliki Rencana Pembangunan Jangka Panjang 2045. Kita telah memiliki Renstra IPB 4.0 yang menjadi panduan strategi dan program IPB menghadapi era 4.0. Kita telah memiliki konsep agro maritim 4.0 yang dapat menjadi acuan pembangunan sektor pertanian, peternakan, kehutanan, dan kelautan di era 4.0. Kita memiliki roadmap riset agro maritim 4.0 yang menjadi arah riset dan inovasi IPB. Kita telah memiliki kurikulum 2020 yang responsif terhadap era 4.0. Apakah pemikiran-pemikiran IPB tersebut sudah cukup menginspirasi?

Pada saat saya diundang FAO memaparkan gagasan IPB tentang digital agriculture, tidak sedikit orang apresiasi dengan kesiapan konsep IPB untuk pembangunan pertanian dunia ketiga. Begitu pula saat puluhan kesempatan menjadi pembicara seminar internasional dan nasional tentang 4.0, orang pun menyebut paparan yang menginspirasi. Namun, apa pun kata orang tentang inspirasi IPB, sebenarnya masih di tingkat permukaan. Hal ini karena yang sebenarnya ditunggu publik ialah inovasi konkret selaras dengan era 4.0 yang bermanfaat, baik inovasi produk atau jasa, inovasi kelembagaan, maupun inovasi sistem. Inovasi konkret ialah inovasi yang benar-benar telah dirasakan hasilnya dan membawa efek pertumbuhan eksponensial.

Karena itu, kita harus menjadikan ini sebagai momentum untuk membuktikan bahwa IPB selalu hadir dan eksis di setiap titik perubahan. Prestasi masa lalu IPB tak bisa lagi membantu reputasi kita manakala kita tak mampu memberikan kontribusi konkret saat ini dan masa mendatang. Kita tak bisa lagi bernostalgia dengan membanggakan kisah masa lalu. Orang tidak akan lagi menganggap prestasi masa lalu sebagai keberhasilan kita. Sebaliknya, orang menanti inovasi-inovasi baru dan prestasi-prestasi baru karena kita berada di era baru. Kita ialah pemilik hari ini dan pemilik masa depan. Orang pun menanti prestasi kita hari ini dan prestasi masa depan. Pendahulu kita memberi added value di eranya. Apakah kita sudah memberi added value di era kita yang baru ini?

Alhamdulillah, kita baru saja juara kedua Pimnas 2019. Kita dapat Anugerah Widyapadhi dan Anugerah Widya Krida dari Kemenristek-Dikti. Kita dapat Gold Winner Pelayanan Informasi publik. Kita dapat juara 1 dan 2 mahasiswa berprestasi nasional. Kita di urutan ketiga perguruan tinggi terbaik di Indonesia 2019. Semua itu kita dapatkan dalam Agustus 2019 ini. Kita pun masih top 100 world university ranking qs by subject agriculture & forestry.

 

Dua agenda besar

Tentu kita bersyukur dengan segudang penghargaan tersebut. Namun, kita tidak boleh terlena dan tidak boleh terlalu lama merasa nyaman di comfort zone ini. Prestasi-prestasi tersebut bukanlah akhir, ini ialah hanya modal penyemangat untuk menghasilkan inovasi-inovasi lebih dahsyat dan menyejarah. Hal ini karena kita masih punya dua agenda besar.

Pertama, bagaimana kita menghasilkan inspiring innovations untuk mempercepat transformasi masyarakat perdesaan ke arah smart society yang inklusif. Inovasi-inovasi baru harus segera hadir untuk menyelesaikan complex problems yang ada. Karena itu, kita harus dekat dengan kenyataan agar kita tahu masalah di lapangan. Kita pun harus update dengan teknologi 4.0 agar solusi mengatasi masalah pun lebih presisi dan efektif. Mahasiswa pun harus sering turun desa untuk menginspirasi anak-anak desa agar punya mimpi dan visi masa depan. Karena itulah, KKN di IPB bersifat wajib karena kita ingin mahasiswa bisa menginspirasi anak-anak desa tersebut, sekaligus mampu memetakan masalah riil dan memecahkannya secara kolaboratif dalam kerangka smart village. Agenda ini penting agar kita bisa segera mengatasi ketertinggalan dari negara maju, setidaknya dalam bidang pertanian.

Kedua, bagaimana kita menghasilkan inovasi yang menginspirasi masyarakat global. IPB telah menentukan tema kerja 2023, yaitu Local-global connectivity. Artinya, inovasi yang dihasilkan IPB harus menembus reputasi global. Indonesia kaya akan biodiversity dan culture diversity. Inilah modal untuk menghasilkan inovasi khas tropis yang tidak dimiliki ilmuwan asing. Kita lah yang lebih berkesempatan menguak realitas tropis ini yang hasilnya bisa mewarnai dunia. Saatnya kita menjadi produsen teori dan inovasi, bukan sekadar konsumen.

Keseriusan dan ketajaman kita membaca peluang serta konsistensi bermental pembelajar akan menentukan bisa atau tidaknya kita memainkan dua agenda besar ini. Agenda ini pun juga menuntut kita untuk membangun sinergi dan kolaborasi. Ternyata kesuksesan kolaborasi juga ditentukan sejauh mana kredibilitas kita dan kredibilitas ini sangat ditentukan profesionalitas dan integritas kita. Karena itu, sekali lagi inspirasi, inovasi, dan integritas menjadi satu kesatuan tak terpisah.

Bila dua agenda besar terwujud, IPB akan menjadi milik dunia dan inilah bukti bahwa IPB menjadi bagian dari sejarah dunia. Semoga dengan moto baru IPB, inspiring innovations with integrity, memotivasi kita untuk terus membuat sejarah baru.

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More