Rabu 04 September 2019, 18:40 WIB

Allah Beri Sentuhan Langsung di Kakbah

Sitria Hamid dari Arab Saudi | Haji
Allah Beri Sentuhan Langsung di Kakbah

MI/Sitria Hamid
Pakar hukum tata negara Universitas Gadjah Mada, Zainal Arifin Mochtar

SALAH satu 'penyakit' yang sering menghinggapi manusia adalah merasa paling benar. Bahayanya, otak sering mencari alasan pembenar, alih-alih alasan yang benar.

Merasa diri paling benar atau dibenarkan itu sempat dirasakan pakar hukum tata negara Universitas Gadjah Mada, Zainal Arifin Mochtar, saat berada di Masjidil Haram, Makkah, untuk melaksanakan salat zuhur. Zainal menjadi salah satu jemaah haji khusus 2019.

Ketika duduk di lantai tepat depan Kakbah, tiba-tiba seorang jemaah haji dari negara lain meloncati pembatas yang telah dipasang oleh polisi Masjidil Haram dan langsung duduk di sampingnya. Bahkan, jemaah haji tersebut membuat pria kelahiran Makassar 8 Desember 1978 itu, harus tergeser dari posisi duduknya semula.

Dalam pikiran Zainal, jika dirinya menepi, akan terkena pembatas yang dipasang polisi yang menjaga areal Masjidil Haram. Dan Zainal merasa dirinyalah yang datang lebih awal. Maka dia berhak mendapatkan tempat strategis depan Kakbah. Tempat bermunajat yang makbul menurutnya.

"Jika menepi, saya akan terkena pembatas. Tapi, tampaknya itu belum cukup buat jemaah haji itu. Dia memaksa dengan bahasa yang kira-kira mengatakan ikhlas lah di hadapan Allah, saya muslim dan mau salat beribadah juga," cerita Zainal kepada wartawan Media Indonesia, Sitria Hamid, saat bertemu di pintu 21 Masjid Nabawi, Madinah, Kamis (29/8) malam, sesaat sebelum Zainal pergi ke Bandara Madinah, untuk kembali ke Tanah Air.

Berkecamuk dalam pikirannya untuk melawan dan mengusir jemaah haji yang mengambil tempatnya itu. Atau mengalah dan memilih pindah ke lantai atas, yang diyakininya juga sudah sangat penuh di musim haji ini, tempat sekitar 3 juta umat muslim seluruh dunia berkumpul.


Baca juga: Di Madinah, Beberapa Hotel Jemaah Haji Khusus Downgrade Status


"Mengalah? Ada alasan untuk itu. Tidak mengalah dan menyuruh dia pindah juga ada alasan untuk itu. Mana alasan benar dan pembenar menjadi rancu," kata Direktur Pusat Kajian Anti Korupsi (Pukat) Universitas Gadjah Mada itu.

Akhirnya, Zainal memilih untuk mempertahankan tempatnya itu. Berkecamuk pertentangan dalam pikirannya. Bahkan, setelah salat zuhur usai.

"Kalau saya campur perspektif hukum, saya merasa makin benar. Lah wong dia meloncati pembatas. Dia melanggar aturan. Hukum ditegakkan harusnya pada dia," kata Zainal, dalam hati saat itu.

Tapi, lanjutnya, jika perspektif hukum itu digesernya, maka kesimpulan yang didapatnya berbeda.

"Mungkin ini juga yang disebutkan antinomi yang diderita oleh hukum. Perspektif beda akan membuat kesimpulan bisa berbeda."

Setelah salat zuhur berlalu agak lama, tiba-tiba jemaah haji yang ditolaknya tersebut datang menghampiri. Meminta maaf dan mengajak berpelukan. Zainal tidak kuasa menahan diri, Zainal merasa dirinya terguncang. Tidak terasa titik bening air mengalir dari kedua matanya. Mendadak semua menjadi pasrah dan ikhlas.

"Dia memeluk saya erat, dan saya pun demikian."

Pada kondisi tersebut, Zainal sangat menyadari tidak perlu lagi memiliki logika yang benar atau pembenar. Semuanya telah luruh. Zainal dan jemaah haji itu saling tersenyum sebelum berpisah.

Dia merasa mendapatkan pelajaran yang sangat berharga dari kehadiran jemaah haji itu. Dia berdoa, semoga jemaah haji itu juga merasakan hal yang sama. Allah telah memberikan sentuhan di depan Kakbah. Subhanallah. (OL-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More