Selasa 03 September 2019, 17:28 WIB

Sultan Trenggana Dalam Jejak Historis

Pembantu Dekan I Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro Alamsyah | Opini
Sultan Trenggana Dalam Jejak Historis

Dok Pribadi
Pembantu Dekan I Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro Alamsyah

SAAT kita melakukan perjalanan darat dari Kota Semarang ke Kota Kudus, Jawa tengah, ketika melewati alun-alun Demak, di sebelah kiri terlihat Masjid Agung Demak.  

Meskipun bangunan ini telah mengalami beberapa kali perbaikan, Masjid Agung berada di bekas kota pusat Kerajaan Demak. Bagi yang memahami tentang sejarah sejarah Kota Demak, ingatannya seolah diajak berekreasi pada peristiwa sekitar 500 tahun silam, di mana kerajaan Islam pertama di Jawa berdiri tidak jauh dari lokasi tersebut.

Peninggalan artefak menandakan bahwa di akhir abad ke-15 lahirlah penguasa Islam Demak, Raden Patah, dan penerusnya seperti Adipati Unus, Sultan Trenggana, dan Sunan Prawata.

Pada abad ke-16, melalui Kerajaan Demak, Islam menunjukkan eksistensi sebagai kekuatan religi, politik, sosial, dan ekonomi. Jejak-jejak historis terlihat nyata dalam bentuk artefak yang masih dapat dilihat hingga saat ini.

Ketika ada sebagian masyarakat menyangsikan keberadaan Sultan Trenggana sebagai pemimpin Demak, pandangan tersebut tidak menjadi masalah sepanjang didukung oleh data dan fakta historis.

Penulis mencoba memaparkan eksistensi penguasa kerajaan Islam Demak, utamanya Sultan Trenggana. Berdasarkan  fakta-fakta yang ada menunjukkan bahwa Demak mengalami kemajuan pada periode Sultan Trenggana.

Bagi masyarakat Demak, Sultan Trenggana adalah pahlawan kultural masyarakat. Sebagian besar masyarakat mengetahui sejarah, eksistensi, dan kiprah Sultan Trenggana sebagai tokoh regional yang berkontribusi pada perjuangan.

Wilayah kekuasaannya saat itu meliputi hampir seluruh Jawa, sebagian Sumatra, dan pengaruhnya hingga ke Malaka. Oleh karena itu, artikel ini memaparkan keberadaan, eksistensi dan peran  Sultan Trenggana sebagai penguasa ketiga Kerajaan Islam Jawa (Demak).

Demak dalam historiografi
Berbicara tentang Demak, sudah banyak literatur yang menggambarkan tentang kerajaan Islam pertama di Jawa ini. Raden Patah adalah pendiri dan raja yang menganut agama Islam di Jawa.

Sebelum Demak eksis, wilayah ini menjadi vasal Majapahit. Menurut Babad Tanah Jawi, tumbuhnya kota pusat kerajaan Demak di Bintara yang diperintah oleh Raden Patah atas petunjuk Sunan Ampel, salah seorang Wali Sanga.

Raden Patah berkuasa pada akhir abad ke-15 sampai dengan 1518. Penguasa ini menikah dengan putri Tiongkok yang kemudian berputra enam orang.

Selama masa kekuasaan Raden Patah hingga Sultan Trenggana, Demak merupakan pusat penyebaran agama Islam dan pusat kekuasaan politik, yang memegang peranan penting dalam bidang perdagangan.

Pada periode ini, komoditas dagang antara Demak, Malaka, dan daerah lain yang utama adalah beras. Hubungan perdagangan tersebut mulai terganggu sejak Malaka  dikuasai Portugis pada 1511.

Jatuhnya Malaka ke tangan Portugis menimbulkan perimbangan baru dalam bidang politik dan ekonomi. Bagi Demak, Malaka adalah pasar beras dan rempah-rempah.  

Keberadaan Portugis di Malaka sangat mengganggu aktivitas perdagangan dan pelayaran pedagang Demak, terlebih Portugis menganggap orang Islam adalah lawannya dan harus ditaklukkan. Sehingga Portugis menyerang pusat-pusat kedudukan Islam untuk merebut perdagangan mereka.

Pasca-Raden Patah, penggantinya adalah Adipati Unus atau Pangeran Sabrang Lor, yang memerintah pada 1518 hingga 1521. Adipati Unus meninggal pada usia sangat muda dan belum mempunyai keturunan. Wafatnya Adipati Unus memunculkan instabilitas karena ia tidak berputra sehingga mengakibatkan terjadi perebutan kekuasaan sesama keturunan Raden Patah, yaitu antara Pangeran Sekar Seda ing Lepen dan Sultan Trenggana. Dan yang akhirnya berkuasa adalah Sultan Trenggana.  

Sultan ini hidup pada 1487-an hingga 1546 dan berkuasa di Demak dari sejak 1521 hingga 1546.

Sumber yang menjelaskan tentang historiografi Demak mendasarkan pada catatan perjalanan Portugis yang menulis peristiwa secara cermat. Kronologinya sangat teliti, kadang terdapat keterangan hari dan tanggal.

Dalam mendeskripsikan tentang Sultan Trenggana, selain berbasis pada catatan perjalanan juga menggunakan karya penulis Belanda dan sumber tradisional.

Historiografi tradisional digunakan untuk mengisi sejumlah besar kekosongan yang memberi informasi sejarah sangat penting. Sumber sejarah tradisional memunyai kedudukan penting sebagai pembanding sumber Eropa karena secara substansial, sumber tradisional memuat pengetahuan tentang berbagai peristiwa dan keadaan sesuai dengan pola pikir masyarakat lokal pada zamannya yang tidak disebut dalam sumber barat. Sumber ini berguna untuk melakukan crosscheck dengan sumber Eropa. Di sisi yang lain, sumber Eropa kurang memiliki informasi tentang berbagai keadaan yang sesungguhnya.

Sultan  Trenggana dan fakta historis
Sultan Trenggana dengan berbagai sebutan seperti Ki Mas Palembang (Sadjarah Banten), Molana Trenggana (Hikayat Hasanudin), Arya Trenggana (Cornelis de Bruin), Pate Rodin Jr (Tomi Pires), dan Sultan Trenggana (Babad Demak) adalah tokoh yang berperan penting dalam perjalanan kerajaan Demak (de Graaf dan Th Pigeaud, 1958:4-47; Tim Pemda Demak, 1991: 40).

Secara genealogis, Sultan Trenggana merupakan putra dari Raden Patah hasil perkawinannya dengan putri Tiongkok. Dari perkawinan ini melahirkan enam orang putra. Anak pertama seorang putri bernama Ratu Mas yang diperistri oleh Pangeran Cirebon. Adik-adiknya laki-laki yaitu Pangeran Sabrang Lor, Pangeran Sekar Seda Lepen, Pangeran Trenggana, Raden Kanduruwan, dan Raden Pamekas.

Meskipun dalam versi lain mengatakan Raden Patah mempunyai beberapa putra dan putri yang lahir dari tiga ibu. Adipati Unus dan Pangeran Trenggana lahir dari putri Sunan Ampel. Sementara Pangeran Sekar (Pangeran Seda Lepen) lahir dari putri Adipati Jipang. Pangeran Seda Lepen lebih tua dari pada Pangeran Trenggana tetapi ia lahir dari istri ketiga, sedangkan Pangeran Trenggana lahir dari istri pertama.

Keberadaan Sultan Trenggana secara eksplisit termaktub dalam Babad Tanah Djawi dan Babad Demak 1. Dalam Babad Demak 1, Sultan Trenggana mempunyai enam putra-putri, yakni Pangeran Mukmin yang diangkat menjadi wali oleh Sunan Giri dengan sebutan Sunan Prawata. Lalu, seorang puti yang menikah dengan Pangeran Langgar, putranya Kiai Gede Sampang Madura.

Ketiga, seorang putri yang menikah dengan Pangeran Hadiri, Bupati Kalinyamat. Keempat, seorang putri yang menikah dengan Bupati Pajang Hadiwidjaya (Jaka Tingkir). Kelima, seorang putri yang menikah dengan seorang Panembahan Pasarean, putranya Fatahillah (Sunan Gunung Jati Cirebon). Terakhir, seorang laki-laki dengan julukan Pangeran Timur yang kemudian diangkat menjadi Bupati Madiun dengan sebutan Panembahan.

Hal ini dijelaskan dalam kutipan di bawah:
"Sultan Trenggana tilar putra 6 jaiku: 1. Pangeran Mukmin, wis diangkat dadi wali dening Sunan Giri, djuluk Sunan Prawata, 2. Putri, daup entuk Pangeran Langgar, putrane Kyai Gede Sampang, dedalem ana ing Madura. 3. Putri, daup entuk Pangeran Hadiri, Bupati Kalinjamat. 4. Putri, daup entuk Bupati Padjang Hadiwidjaja (Djaka Tingkir). 5. Putri, daup entuk Panembahan Pasarean, putrane Patahillah (Sunan Gunungdjati), Tjerbon. bareng dadi randa marga ditilar seda garwane bandjur karma ngarangulu entuk Hasannudin bupati Banten. 6. Kakung, djuluk Pangeran Timur, kang bandjur diangkat dadi bupati ana ing Madiun lan ketelah disebut Panembahan." (Atmodarminto, 1955: 116)

Keberadaan Sultan Trenggana juga terdapat dalam Babad Demak 2 dan karya de Graaf, De Regering Van Panembahan Sénapati Ingalaga. (1954: 114; Sabariyanto, 1981: 23 dan 138).

Baca juga: Radikalisme Agama dan Ilmu Pengetahuan Integratif

Sumber tradisional tentang Sultan Trenggana diperkuat dengan sumber Eropa (Portugis) karya Fernao Mendes Pinto (1510-1583) berjudul Peregrinacao atau Ziarah.

Tulisan Pinto ini menggambarkan bahwa Raja Demak, Sultan Trenggana, pada 1546 telah menguasai Jawa, Angenia, Bali, dan Madura. Sultan juga mengirim utusan seorang perempuan ke Banten dengan tujuan meminta bantuan untuk melakukan ekspansi ke beberapa wilayah termasuk melawan pengaruh Portugis.

Pinto melukiskan tentang pertempuran Demak bersama dengan Pasuruan ke Blambangan, Pajarakan, dan Panarukan. Dalam eskpedisi ini menyebabkan Sultan Trenggana meninggal dunia (de Graaf , 1958: 58).

Dari fakta di atas menunjukkan adanya eksistensi Sultan Trenggana, sebagai penguasa  Demak.

Eksistensi Sultan Trenggana
Sultan Trenggana merupakan Sultan ke-3 Kerajaan Islam Demak yang memerintah pada 1521 hingga 1546 atau selama 25 tahun. Dia menggantikan Adipati Unus (1518-1521).

Pada masa pemerintahan Sultan Trenggana, upaya yang dilakukan adalah perluasan kekuasaan dengan mengirim pasukan di bawah pimpinan Falatehan, tokoh yang menikah dengan saudara perempuan Sultan Trenggana.

Joao de Barros dalam bukunya Da Asia menggambarkan relasi antara Sultan Trenggana dan dengan Falatehan, yang merupakan putra Pasai yang kecewa ketika wilayahnya dikuasai oleh Portugis. Akibatnya dia mengembara ke Demak sekaligus menyebarkan agama Islam.

Baca juga: Yayasan Dharma Bakti Lestari Susun Aspek Sejarah Ratu Kalinyamat

Di wilayah ini, Falatehan menikahi seorang saudari raja. Atas izin Raja Demak Sultan Trenggana, sekitar 1525 hingga 1527, Falatehan pergi ke Banten untuk menyebarkan agama Islam serta merebut Pelabuhan Banten dan Pelabuhan Kalapa dari kekuasaan Raja Sunda.

Kontribusi Falatehan, sebagai pendiri Banten, terhadap Sultan Trenggana terlihat dalam ekspansi ke arah barat sekitar 1525. Dari wilayah ini dilakukan ekspedisi ke pedalaman dan ke pelabuhan-pelabuhan lain, terutama ke Sunda Kelapa yang ditaklukkan pada 1527.

Peristiwa pendudukan Sunda Kelapa ini menggagalkan Portugis --di bawah pimpinan Henri Leme-- melakukan perjanjian dengan raja Sunda. Jadi, ekspansi Demak ke Jawa Barat tujuannya untuk mendahului kemungkinan dominasi orang Portugis, yang sebelumnya singgah ke daerah ini.

Begitu pula kemenangan Hasanudin, putra Falatehan, menduduki Sunda Kelapa ditandai oleh penggantian nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta. Dalam perkembangannya, Hasanudin memerintah di Banten, sedang Falatehan melanjutkan ekspansi ke Cirebon.

Menurut historiografi Banten, Hasanudin dianggap sebagai pendiri Kerajaan Banten dan dia kawin dengan putri Sultan Trenggana pada 1552. Dari perkawinannya itu, lahir dua orang putra, yakni Maulana Yusuf dan Pangeran Jepara.    

Selain ke wilayah barat, Sultan Trenggana melakukan ekspansi ke daerah-daerah Jawa Timur, daerah bekas vasal Kerajaan Majapahit. Dalam ekspansinya, pada 1527, salah satu negara vasal Majapahit, Tuban, dapat ditaklukkan. Wilayah lain yang juga dikalahkan oleh Sultan Trenggana adalah Wirasari pada 1528, Gegelang (Madiun) pada 1529, Medang Kamulan (Blora) pada 1530, Surabaya (1531), Pasuruhan (1535),  Lamongan, Blitar, Wirasaba, ketiganya ditaklukkan pada 1541-1542, Gunung Penanggungan sebagai benteng elite religius Hindu-Jawa pada 1543, Mamenang (Kediri) pada 1549, dan Sengguruh (Malang) pada 1545.

Sasaran akhir Sultan Trenggana adalah Panarukan dan Blambangan. Pada 1546 Blambangan dapat ditaklukkan. Namun, pada masa tersebut, Sultan Trenggana gugur dalam pertempuran ke Panarukan.

Pada masa Sultan Trenggana ini beberapa wilayah di bawah pengaruhnya adalah Sumatra di daerah Palembang dan Jambi serta pulau Kalimantan.

Sebagai kerajaan maritim, Sultan Trenggana menguasai pusat-pusat ekonomi maritim yaitu pelabuhan yang berada di bawah pengaruh Sultan Trenggana seperti Tuban, Jepara, Sidayu, Kotakembar, Jaratan, dan Gresik.

Dari gambaran tentang perjalanan Sultan Trenggana menunjukkan bahwa sosok ini adalah tokoh riil yang telah memberi kontribusi bagi Nusantara. Semangat untuk mengeliminasi pengaruh Portugis di Jawa begitu kuat. Kolaborasi dalam membangun hubungan diplomasi dengan beberapa wilayah seperti Banten, Cirebon, Sumatra, dan Kalimantan telah dilakukan cukup intens.

Dia mempunyai semangat untuk melawan Portugis mengikuti jejak pendahulunya, salah satunya menghalau Portugis dari Sunda Kelapa untuk membendung pengaruh Portugis. Tradisi perlawanan penguasa Demak telah diajarkan jauh sebelum Sultan Trenggana menjadi penguasa, dan tradisi ini dilanjutkan oleh keturunannya, salah satunya adalah Ratu Kalinyamat.

Puncak pengabdian Sultan Trenggana berakhir pada 1546 dan posisinya digantikan oleh anaknya yaitu Sunan Prawata.

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More