Selasa 03 September 2019, 14:15 WIB

Kemenhub dan KNKT Investigasi Insiden Kecelakaan Cipularang

Golda Eksa | Nusantara
Kemenhub dan KNKT Investigasi Insiden Kecelakaan Cipularang

MI/Rommy Pujianto
Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menyampaikan sambutan saat acara Seminar dan Dialog Nasional Milenial Indonesia

 

MENTERI Perhubungan Budi Karya Sumadi berjanji akan mengevaluasi dan menginvestigasi kasus kecelakaan maut di tol Cipularang, Jawa Barat. Insiden di KM 89 hingga KM 91 yang melibatkan 21 kendaraan itu merenggut 8 korban jiwa pada Senin (2/9) siang.

Budi mengaku telah menugaskan jajaran Ditjen Perhubungan Darat Kemenhub dan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk melihat pelbagai hal seputar kecelakaan tersebut, semisal ketaatan aturan dan lain sebagainya.

"Saya juga minta untuk kerja samanya dengan ITB. Bisa jadi ini berkaitan dengan alignment daripada jalan," ujar Budi kepada wartawan di Kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Selasa (3/9).

Jika musibah kecelakaan beruntun itu terkait dengan teknis struktural maka dibutuhkan waktu selama satu pekan untuk menganalisisnya. Analisis tersebut dilakukan lantaran kecelakaan kerap terjadi di KM 90 tol Cipularang.

Baca juga: Tujuh Orang dalam Satu Keluarga Jadi Korban Kecelakaan Cipularang

Menurut dia, ada 2 masalah yang perlu diperhatikan dalam kasus kecelakaan di tol Cipularang. Pertama, disiplin pengendara terkait kecepatan kendaraan saat melaju di jalan bebas hambatan. Nantinya akan diatur dengan cara-cara yang lebih pasti, semisal teknik kamera atau punishment yang sangat signifikan sehingga sopir bisa menaatinya.

Berikutnya, terang dia, menyangkut beban muatan yang dibawa kendaraan. Kelebihan muatan dikhawatirkan akan mengganggu kestabilan kendaraan. Ia mengaku akan mendiskusikan mengenai muatan yang terkait eskpor tersebut dengan para pelaku usaha dan stakeholder.

Selain itu, imbuh dia, Kemenhub pun punya rekomendasi terhadap cara berkendara yang baik. Begitu pula dengan alignment dan flow yang dirasa tidak sesuai kaidah konstruksi jalan maka PT Jasa Marga perlu melakukan perbaikan.

"Tapi paling tidak kita akan minta pada Jasa Marga untuk memberikan suatu warning di tempat itu. Dengan lampu, dengan mungkin adanya petugas yang interaktif memberikan perhatian, mungkin juga dengan bunyi-bunyian, apa segala sesuatu, sehingga tempat yang legendaris atau selalu terjadi di situ bisa diselesaikan dengan baik," pungkasnya.(OL-5)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More