Selasa 03 September 2019, 08:00 WIB

Pilihan Model Daya Saing SDM

Pendiri Religious Forum for Peace and Justice Jakarta Marwan Ja’far | Opini
Pilihan Model Daya Saing SDM

ANTARA FOTO/Wahyu Putro A
Presiden Joko Widodo

PRESIDEN Joko Widodo merilis visi lompatan kemajuan bangsa Indonesia melampaui bangsa-bangsa lain abad ke-21 dalam Pidato Kenegaraan HUT Ke-74 Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia, di depan sidang bersama DPD dan DPR, Jumat (16/8) di Gedung MPR/DPR/DPD RI Senayan. Modalnya ialah SDM-SDM yang berhati Bhinneka Tunggal Ika, berideologi Pancasila, bekerja keras, berdedikasi, dan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.

Jelang akhir abad ke-20 dalam jurnal Foreign Policy (1990: 153-171), Joseph S Nye, ahli strategi ekonomipolitik global asal AS, mengkaji soft power tiga negara yakni Uni Soviet, AS, dan Jepang; kekuatan Uni Soviet merosot; perang dingin berakhir; AS bakal memosisikan kekuatannya tanpa ancaman nyata dari Uni Soviet; dan Jepang yang kalah dalam Perang Dunia II, menjadi negara adidaya soft power akhir abad ke-20. Itu karena SDM Jepang unggul soft power yakni nilai-budaya (jati diri), sains, dan teknologi.

Pada 1978, arsitek modernisasi Tiongkok Den Xiaoping membaca bahwa model komando (central planning) pembangunan Uni Soviet rapuh menghadapi AS dan sekutunya. Deng belajar dari kisah-sukses Restorasi Meiji abad ke-19 di Jepang, yakni lokomotif lompatan kemajuan
bangsa berbasis nilai-budaya, sains, teknologi, dan pendidikan SDM.

Deng pun melipatgandakan anggaran riset dan jumlah peneliti sains dan teknologi serta menerapkan pilihan taktis shí shì qiú shì (seek truth from facts) dalam strategi Gaige Kaifang (reformasi dan keterbukaan) tata ekonomi Tiongkok dengan membuka keran ekonomi-pasar di atas pilar-pilar sosialisme Tiongkok (Deng Xiaoping, 1978; Li Zhisui, 1994).

Deng membuka kawasan ekonomi khusus (KEK) untuk aliran investasi asing dan pasar global, membatasi persaingan swasta, dan memperkuat daya saing SDM bidang agrikultur, sains, teknologi, dan industri ringan. Hasilnya, ia menjadi arsitek kemajuan ekonomi paling cepat dalam sejarah dan mampu meningkatkan standar hidup lebih dari 1 miliar jiwa rakyat Tiongkok jelang akhir abad ke-20 (Michael YM Kau, 1993:179).

Model Jepang

Masa Restorasi Meiji (1868-1912) di Jepang, Kaisar menghapus rezim feodal, membangun peradaban dan kecerdasan bangsa (bunmei kaika) (Hirakawa Sukehiro, 1971:86) dan ‘makmurkan rakyat, perkuat angkatan bersenjata’ (fukoku kyôhei) melalui model tsugiki--sinergi dua pohon menjadi satu pohon berkualitas pohon terbaik--sinergi model pendidikan SDM AS dan Jerman (Ken Kempner et al, 1999).

Pemerintah Jepang melatih rakyatnya di bidang inovasi dan adaptasi teknologi Eropa. Jepang mengadaptasi teknologi jam asal Swiss, motor
asal Inggris, mobil asal Jerman dan AS, dan instrumen-instrumen musik dan anggur asal Prancis. Pada 1873, Jepang membangun sistem perbankan dan 1881 membentuk Bank of Japan ala bank sentral AS.

Kemudian pada 1879, Kaisar Jepang merilis kyôgaku taishi--perintah Kaisar tentang prinsip pokok pendidikan karakter seperti tanggung jawab, loyalitas, berbakti, dan kepahlawanan. Sejak 1880, pendidikan budi pekerti (shûshin) diterapkan dalam kurikulum sistem pendidikan. Di 1894, Jepang membangun bank pertanian untuk petani dan bank industri untuk pabrik-pabrik.

Di 1872, Jepang membangun rel kereta Tokyo-pelabuhan Yokohama dan jalur postelegraf 1886. SDM Jepang dilatih dan dididik bidang perbankan, komersial, transportasi, dan industri. Hasilnya, modernisasi Jepang ala Eropa yang berbasis nilaibudaya (jati diri) misalnya kokutai (nasionalisme) dan nihonshugi (nilai Jepang) (MB Jansen, 2000:427; Rie K Askew, 2004:). Model pendidikan SDM ini diterapkan Jepang hingga awal abad 21. Hasilnya, Jepang mengalahkan Tiongkok dalam perang Tiongkok-Jepang (1894-1895) ketika merebut zona Taiwan dan wilayah lain Tiongkok, dan Jepang mengalahkan Rusia pada perang Rusia-Jepang (1904-1905).

Daya-saing Jepang hingga hari ini bukan terutama dipacu impor teknologi dan akumulasi keuangan dari Eropa dan AS, tetapi terutama
pendidikan karakter SDM-SDM Jepang melalui edukasi membaca, menulis, berhitung, dan the spirit of scientific inquiry sejak usia dini pada masyarakat-masyarakat desa sejak abad 19 Masehi (Keneth Scott Latourette, 1957; S Sumikawa, 1999).

Model Norwegia

Sejak akhir abad 17 M, riset dan kajian ahli-ahli ekonomi selalu menyimpulkan bahwa SDM merupakan unsur dan faktor sangat menentukan kemakmuran setiap bangsa dan negara (Petty, 1690; Smith, 1776; Farr, 1853; Engel, 1883; Schultz (1961, Becker, 1964; Mincer, 1974). Bahkan meskipun kondisi miskin atau penipisan SDA pun, suatu negara dapat meraih kemakmuran dan menciptakan produk dan jasa
berbasis SDM unggul (Hamilton etal, 2006; Moe, 2007; Alfsen et al, 2008; UNECE, 2009).

Namun, tantangan SDM tiap negara sejak awal abad ke-21 bukan hanya kemiskinan dan ketimpangan sosial-ekonomi, tetapi keberlanjutan pembangunan sosial-ekonomi-lingkungan negara (sustainable development) yang mencegah dan mengatasi risiko-risiko akibat perubahan iklim dan pemanasan global.

Maka pilihan bidang-bidang pendidikan sains dan teknologi sangat menentukan daya saing SDM. Misalnya, di era ekonomi digital dewasa ini,
pilihannya ialah sains dan teknologi industri 4.0 seperti artificial intelligence (AI), big data, mobile devices, cloud computing, internet of things,
augmented reality, dan cyber security. Sektor-sektor itu termasuk strategicsciences yang harus didukung pembangunan scientific infrastructure dan technological infrastructure.

Di sisi lain, model strategi SDM Norwegia awal abad ke-21 termasuk sukses menghasilkan pembangunan berkelanjutan. Yakni W=f (FC, RC, HC, NC, IC, TC) yakni W=welfare, FC=financial capital, RC=real capital, HC=human capital, NC=natural capital, IC=institutional capital, TC=technological knowledge (Moe, 2010: 7-12). Jadi, ada sinergi 6 modal.

SDA (NC) terdiri dari; (a) modal yang dapat dijual-beli (market based capital) seperti gas, minyak, mineral, perikanan, dan lain-lain; (b) modal
yang tidak dapat diperjualbelikan (non market based capital) seperti fungsi ekosistem, keragaman hayati, dan lain-lain.

Kebijakan publik Norwegia fokus pada tata kelola ke-6 modal itu. Hasilnya, antara lain 2016, Norwegia menghimpun dana-negara US$985
miliar sebagai kekayaan Norwegia yang hanya berpenduduk 5.213.985 jiwa di zona seluas 385.252 km2 (Statistics Norway, 2016).

Sesuai amanat Pembukaan UUD 1945 tentang tugas Pemerintah RI ialah mencerdaskan kehidupan bangsa, alokasi APBN 20% ke sektor pendidikan (Pasal 31 ayat 4), serta dasar negara RI Pancasila, rakyat dan pemerintah RI dapat mengadopsi model daya saing SDM ala Jepang.

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More