Senin 02 September 2019, 21:05 WIB

Raja Salman Beri Cek ke KBRI Riyadh Santunan Korban Crane

Sitria Hamid dari Arab Saudi | Haji
Raja Salman Beri Cek ke KBRI Riyadh Santunan Korban Crane

MI/Siswantini Suryandari
Duta Besar RI untuk Arab Saudi, Agus Maftuh Abegebriel.

KEDUTAAN Besar Republik Indonesia Riyadh telah menerima cek santunan Khadimul Haramain as-Syarifain Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud untuk para korban musibah jatuhnya crane pada musim haji 2015 di komplek Masjidil Haram Mekah. Santunan diserahkan akhir Agustus 2019.

Cek senilai US$6,133 juta setara dengan 23 juta Riyal (Rp85,1 miliar dengan kurs Rp14.150) ini diserahkan oleh Penasihat Hukum Deputi Konsuler Kementerian Luar Negeri Kerajaan Arab Saudi, Mohammad Alshammeri kepada Koordinator Perlindungan Warga KBRI Riyadh Raden Ahmad Arief di Kantor Kementerian Luar Negeri, Riyadh Arab Saudi.

Duta Besar RI untuk Arab Saudi, Agus Maftuh Abegebriel, menyampaikan ucapan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada Raja Salman dan Putra Mahkota Mohamed bin Salman (MBS) atas empati dan perhatian yang luar biasa, kepada para jemaah haji Indonesia korban musibah crane yang terjadi pada 11 September 2015 tersebut.

Dubes Agus Maftuh mengirim surat ucapan terima kasih kepada Raja Salman dan Putra Mahkota MBS. Surat yang sama juga dikirimkan kepada Gubernur Mekah Pangeran Khalid al-Faisal serta berbagai kementerian terkait di Arab Saudi. Mulai Kementerian Luar Negeri Kerajaan Arab Saudi, Kementerian Dalam Negeri KSA, Kementerian Kesehatan KSA. Serta, Kementerian Keuangan KSA atas dukungannya dalam merealisasikan santunan korban crane itu..

Cek-cek tersebut berjumlah 35 lembar dan terdiri atas dua nominal. Pertama US$133.333 (setara 500 ribu Riyal) atau Rp1,8 miliar untuk korban luka berat. Dan kedua, nominal US$266.666,66 (setara 1 juta Riyal) atau Rp3,7 miliar untuk korban meninggal dan korban cacat permanen. Adapun 1 Cek untuk korban luka berat masih perlu pencocokan data paspor dan secepatnya akan direalisasikan sehingga total menjadi lengkap 36 cek.

KBRI Riyadh juga sudah menyampaikan detail laporan kepada Kementerian Luar Negeri RI untuk selanjutnya dilakukan koordinasi dengan Kementerian Agama RI untuk finalisasi administratif, terkait penyampaian dana santunan kepada para korban luka berat dan cacat permanen. Serta para ahli waris korban meninggal dunia.

Menurut Agus Maftuh, hampir setiap minggu para keluarga ahli waris di Indonesia menghubungi melalui Facebook, WhatsApp, atau media sosial, mempertanyakan kapan realisasi santunan Raja Salman tersebut.

"Selalu kami jawab bahwa sejak kami mulai bertugas di KBRI Maret 2016 selalu prioritaskan untuk menyelesaikan kasus crane, melakukan upaya komunikasi dengan pemerintahan Kerajaan Arab Saudi," tegas Agus Maftuh, yang juga Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tersebut, seperti dilaporkan wartawan Media Indonesia, Sitria Hamid, dari Riyadh.

Agus Maftuh menambahkan, bahwa ketika baru bertugas 2 bulan di Saudi pernah dipanggil ke Istana Raja dan saat itu, pihaknya langsung menyampaikan harapan para ahli waris korban crane kepada Diwan Malaki (Royal Court) yang merupakan Kantor Raja Salman.

Dalam beberapa nota diplomatik yang diterima KBRI Riyadh dari Kementerian Luar Negeri Saudi dijelaskan bahwa sebenarnya penyelesaian pembayaran santunan Raja Salman untuk para WNI yang menjadi korban baru akan diberikan setelah selesainya proses fatwa waris dari masing-masing korban meninggal.

Namun, akhirnya Kerajaan Arab Saudi memutuskan untuk memberikan kemudahan kepada Indonesia dengan merealisasikan penyerahan cek itu, sebelum selesainya finalisasi fatwa waris yang sekarang masih dipersiapkan oleh Kementerian Agama RI.


Baca juga: 110 Jemaah Haji Sakit berhasil Dipulangkan


Dubes Agus Maftuh sangat mengapresiasi kemudahan yang diberikan Kerajaan Arab Saudi. Serta, menyampaikan penghargaan yang tinggi kepada Kedutaan Arab Saudi di Jakarta yang selalu melakukan kolaborasi kerja sama untuk menuntaskan santunan yang merupakan kepedulian Raja Salman kepada bangsa Indonesia itu. Penyelesaian cek untuk Indonesia diberikan pertama oleh Saudi sebelum negara-negara yang lain.

"Alhamdulillah, semua dilancarkan oleh Allah," tegasnya lagi.

Seperti diberitakan, musibah jatuhnya alat berat crane di Masjidil Haram terjadi pada Jumat 11 September 2015 menewaskan lebih dari 100 orang dan mencederai lebih 200 orang. Jamaaah haji yang menjadi korban musibah crane berasal dari Indonesia, Pakistan, India, Bangladesh, Malaysia, Turki, Aljazair, Iran, Irak, Libia, Afghanistan dan Mesir.

Perjalanan kasus musibah robohnya crane di Masjidil Harom ini memakan waktu yang cukup panjang. Kerajaan Arab Saudi sangat serius dalam menerjunkan tim pencari fakta untuk melakukan verifikasi yang detail terkait musibah tersebut.

Pemerintah Kerajaan Saudi pernah juga menetapkan 13 tersangka dalam kasus ini termasuk Kontraktor Bin Ladin. Namun dalam sidang Mahkamah pada Oktober 2017, Hakim dengan sebelumnya membacakan 108 halaman naskah putusan, memutuskan bahwa tidak ada unsur pidana dalam kasus itu.

Akhirnya 13 tersangka dibebaskan dari tuntutan hukum dan Kerajaan Saudi memutuskan bahwa ambruknya crane adalah murni bencana alam akibat badai besar yang terjadi di Mekah pada 2015 tersebut.

Berdasarkan fakta persidangan itu, Dubes Agus Maftuh menyebut cek senilai US$6,13 juta tersebut bukan sebagai diyat ataupun ganti rugi. Namun, murni santunan dan perhatian besar Raja Salman terhadap para korban musibah robohnya crane di dekat Shafa tersebut. (OL-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More