Selasa 03 September 2019, 09:00 WIB

Mengulik Pembuatan Kapal Pinisi Angelic di Bulukumba

Galih Agus Saputra | Weekend
Mengulik Pembuatan Kapal Pinisi Angelic di Bulukumba

MI/Galih Agus Saputra
Pembuatan kapal pinisi.

PERNAHKAH Anda berpikir untuk mengarungi samudera? Berlayar dari satu pulau ke pulau lainnya menggunakan kapal pribadi bersama seluruh kru di dalamnya? Jika benar demikian, kapal pinisi barangkali dapat menjadi salah satu solusi untuk menjawab keinginan Anda.

Bersama kapal ini, Anda bisa pergi kemana saja atau dapat mengarungi samudera dengan sensasi layaknya Christopher Columbus bersama kapalnya Nina, Pinta, dan Santa Maria ketika berlayar ke Amerika.

Kapal pinisi merupakan kapal tradisional bugis bersistem layar dan merupakan kapal layar tradisional terbesar di Indonesia, sejak menghilangnya Jong, kapal raksasa dari Pulau Jawa yang pada zaman dahulu kerap digunakan nenek moyang untuk mengarungi samudra hingga Brasil dan Ghana. Pada 7 Desember 2017, seni pembuatan kapal Pinisi juga ditetapkan UNESCO sebagai Karya Agung Warisan Manusia yang Lisan dan Tak Benda di Sesi ke-12 Komite Warisan Budaya.

Pada mulanya kapal pinisi dibangun oleh kelompok sub-etnis Bugis-Makassar atau suku Konjo yang sebagian besar tinggal di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Namun demikian, pada perkembangannya ia juga digunakan masyarakat Bugis pada umumnya, bahkan kini telah menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat Indonesia dan dunia, sebagaimana yang dapat dilihat pada kapal pinisi pesanan orang Beijing, Tiongkok, bernama Angelic.

Proyek Angelic dimulai sejak awal Januari di Desa Panrangluhu, Bonto Bahari, Bulukumba, Sulawesi Selatan. Pada Rabu (24/8) lalu, Media Indonesia sempat berkunjung ke sana dan bertemu dengan Konsultan Teknik dan Interior Kapal Pesiar PT. Sinar Harapan Bahari, Andi Nur Fajar untuk mengintip proses pembuatan Angelic. Secara umum, kata Andi, Angelic merupakan kapal pesiar yang seluruh materinya terbuat dari kayu. Sementara rute berlayarnya akan dimulai dari Bali menuju Labuan Bajo. Namun demikian, berhubung pemesannya adalah orang Beijing, nantinya tujuan atau pelayaran kapal tersebut akan berakhir di Beijing.

"Kami menjadwalkan pembuatan Angelic ini selama satu tahun. Jadi perkiraan selesainya nanti mungkin di Desember. Pertama-tama, kami memulai pembuatan lambungnya kurang lebih memakan waktu empat bulan. Tapi ini baru penjadwalannya saja ya, sekarang saja interiornya belum dimulai. Jadi nanti mungkin bisa molor sampai Februari tahun depan," tutur Andi.

Angelic digarap oleh tim yang kurang lebih terdiri dari 14 orang. Enam orang bergabung sejak awal atau mulai membangun kontstruksi dan beberapa bagian dari nol. Lalu setelah itu muncul lima orang lagi untuk menggarap dinding, lantai, atau interior. Menjelang akhir pembuatan, kata Andi, nantinya akan didatangkan lagi satu sampai tiga orang yang akan bertugas menjadi tenaga ahli di bidang permesinan.

"Khusus interior, kami biasanya mengkuti permintaan klien. Awalnya, memang kami menawarkan beberapa pilihan, tapi nanti kalau mereka tidak cocok dengan tawaran kami, ya bisa dibuat sesuai kemauannya seperti apa. Pembuatannya pun juga tidak harus di sini, karena sejauh yang kami tahu selama ini pembuatan interior untuk kapal Pinisi itu hanya ada tiga tempat di Indonesia, yaitu di bengkel ini, Labuan Bajo, dan Bali. Kebetulan, untuk Angelic ini pemesannya ingin interior-nya dikerjakan di sini," imbuh Andi.

Material

Andi selanjutnya mengatakan bahwa sebagian besar bahan yang digunakan untuk membangun Angelic itu didatangkan dari Bulukumba. Salah satunya adalah Kayu Ulin atau Kayu Besi yang dimanfaatkan sebagai material penyokong lambung kapal. Jenis kayu ini dipilih karena tidak mudah diserang serangga atau rayap, dan yang paling penting ia tahan terhadap air.

Selain itu, beberapa bagian pada tubuh Angelic juga diperkuat dengan Kayu Jati dan Kayu Biti. Kayu Biti memiliki keunikan tersendiri karena ia dapat melekung secara alami. Bahkan, beberapa orang di Sulawesi juga meyakini bahwa semakin bengkok Kayu Biti, maka ia akan menghasilkan harga yang cukup tinggi.

Menurut Andi, setiap penggarapan bagian pada tubuh Angelic memiliki tingkat kesulitannya masing-masing. Namun, bagi ia sendiri yang mulanya mengawali karir di pembuatan kapal dengan konstruksi besi dan pindah ke kapal dengan konstruksi kayu, kesulitan yang paling menonjol justru didalami ketika menggarap anjungan.

"Kalau men-setting lantai atau dinding sepertinya sudah biasa bagi tukang kayu dimanapun mereka berada. Tapi untuk anjungan, dia memiliki tingkat ketelitian tersendiri yang cukup tinggi. Selain itu, tingkat kesulitan tentu pada instalasi mesin. Maka dari itu, kami mengundang tenaga ahli untuk meneliti proporsi. Poros, propeler dan beberapa bagian memang harus sesuai, sehingga nanti waktu diujicoba di laut tidak terjadi keretakan (crack), yang biasanya terjadi akibat adanya perbedaan level bagian-bagian tersebut," papar Andi.

Pembangunan kapal pinisi pada umumnya mengenal beberapa tahapan. Andi mengatakan tahap awal pembangunan biasa dimulai dengan peletakan lunas atau balok panjang yang menjadi bagian paling bawah pada kapal. Jika lunas sudah siap, maka tahap yang harus dipenuhi selanjutnya ialah proses pembuatan lambung kapal, hingga berlanjut pada pembangunan seluruh bagian kapal. (M-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More