Sabtu 31 Agustus 2019, 08:08 WIB

Adu Gengsi Arsenal dan Tottenham Hotspur

Dewan Redaksi Media Group Suryopratomo | Sepak Bola
Adu Gengsi Arsenal dan Tottenham Hotspur

MI/PANCA SYURKANI
Dewan Redaksi Media Group Suryopratomo

 

ADA dua pertandingan yang selalu berlangsung panas dan keras di Liga Inggris. Satu ialah pertandingan antardua tetangga, Liverpool melawan Everton di Liverpool, dan Arsenal melawan Tottenham Hotspur di London Utara. Rata-rata ada empat kartu harus dikeluarkan wasit apabila mereka saling bertemu.

Itulah yang diperkirakan akan terjadi saat Arsenal menjamu Spurs di Stadion Emirates besok malam. Apalagi, kedua tim harus memenangi pertandingan setelah pekan lalu sama-sama menelan pil pahit.

Pekan silam, Spurs dipecundangi tim yang musim lalu hampir terdegradasi, Newcastle United. Di kandang sendiri, 'the Lilywhite' dipaksa menyerah 0-1. Sementara itu, tim asuhan Unai Emery dihajar pimpinan klasemen Liverpool 1-3 di Anfield.

Bagi pendukung dari dua 'kampung' yang bersebelahan, kalah dari klub lain masih bisa dimaafkan, tetapi tidak oleh klub tetangga. Mereka merasa mendapat aib besar apabila tim kesayangan kalah dari 'klub sebelah'.

Itulah yang membuat permainan di lapangan hijau selalu panas. Semua pemain sadar untuk tidak boleh sampai mempermalukan para pendukung. Setiap jengkal lapangan akan dijaga mati-matian untuk tidak dikuasai pemain lawan.

Audere est Facere

Pada pertandingan kali ini Spurs datang sebagai tamu. Namun, semua tahu tidak ada kata gentar bagi 'the Lilywhite' untuk menghadapi Arsenal di mana pun. Lambang yang ada di kostum para pemain Spurs memang bukan hanya ayam jantan yang berdiri di atas bola. Ada tulisan latin yang berbunyi Audere est Facere; berani itu adalah melakukan.

Doktrin itulah yang tertanam kuat pada para pemain Spurs. Tidak pernah ada rasa takut dari pemain Spurs ketika dipercaya tampil di lapangan hijau. Mereka akan melakukan apa pun untuk keberhasilan tim.

Satu momen yang bisa menggambarkan itu ialah apa yang dilakukan bintang Spurs Paul Gascoigne saat tampil di final Piala FA 1991. Bersama Gary Lineker, Gazza--panggilan akrab Gaiscoigne--menjadi pemain Spurs yang berhasil ikut membawa Inggris lolos hingga semifinal Piala Dunia 1990 Italia. Perjalanan mereka terhenti hanya karena kalah adu penalti dari Jerman Barat.

Gazza yang tampil cemerlang di Italia benar-benar menjadi pahlawan baru Inggris. Permainannya yang tidak mengenal kompromi membuat ia menjadi pujaan. Apalagi, ketika ia meneteskan air mata saat mendapatkan kartu kuning kedua di semifinal sehingga tidak bisa tampil untuk laga selanjutnya. Foto Gazza yang sedang menangis membuat orang merasa kagum akan rasa tanggung jawabnya kepada tim.

Tidak usah heran seusai Piala Dunia, Gascoigne mendapatkan kontrak dari Lazio dengan nilai transfer yang besar untuk ukuran masa itu, 8,5 juta pound sterling. Sebelum berlaga di Serie A Italia, ia ingin mempersembahkan piala terakhir untuk klub yang membesarkannya.

Pada pertandingan final Piala FA melawan Nottingham Forest, Gazza bermain luar biasa. Ia menjelajah ke semua sudut lapangan tanpa mengenal lelah. Setiap pertarungan perebutan bola tidak ada satu pun yang ia tidak menangkan.

Pada satu momen ada bola yang agak jauh dari jangkauan Gazza. Namun, karena tidak mau bola direbut lawan, ia memaksakan untuk mengambilnya. Sliding tanggung yang ia lakukan ternyata mahal sekali harganya. Gascoigne bertabrakan dengan Gary Charles dan ternyata ligamen lututnya robek. Ia bukan hanya harus ditandu keluar, melainkan juga kiprahnya yang ditunggu di Serie A harus mundur sampai satu musim.

Setelah cedera parah itu, Gascoigne tidak pernah menemukan kembali permainan terbaiknya. Satu yang membuat ia bangga ialah bisa ikut mempersembahkan Piala FA yang kedelapan untuk Spurs.

Mengembalikan kejayaan

Hampir dua dekade setelah ditinggal Gazza dan Lineker, Spurs menemukan kembali tim terbaiknya. Dengan Harry Kane, Delle Alli, Son Heung-min, Lucas Moura, Christian Eriksen, Hugo Lloris, Spurs tampil sebagai tim yang kembali disegani.

Musim lalu merupakan puncak penampilan tim asuhan Mauricio Pochettino. Untuk pertama kalinya dalam sejarah The Lilywhite, mereka bisa lolos hingga pertandingan puncak Liga Champions Eropa. Spurs mampu menyingkirkan Manchester City dan Ajax Amsterdam untuk tampil di final.

Sekarang ini Kane dan kawan-kawan masih berjuang untuk menemukan kembali form terbaik mereka. Empat angka yang baru dikumpulkan dari tiga penampilan Premier League musim ini menunjukkan bahwa The Lilywhite masih dalam proses untuk menemukan kesebelasan terbaiknya.

Inilah yang membuat mantan penyerang Arsenal, Paul Merson, merasa yakin apabila The Gunners akan bisa menaklukkan musuh besarnya. Tidak tanggung-tanggung bekas penyerang sayap Arsenal itu yakin The Gunners akan bisa mengalahkan Spur dengan skors 4-1.

Kuncinya tergantung dari keberanian Emery untuk memainkan tiga penyerang terbaiknya. Mantan striker Arsenal Ian Wright mengkritik Emery yang ragu untuk tampil menyerang. Padahal ia memiliki trisula yang bisa membuat lawan gentar yaitu Pierre-Emerick Aubameyang, Alexander Lacazette, dan pemain muda Nicholas Pepe.

Kiper Hugo Lloris pasti harus bekerja keras apabila Emery memainkan tiga penyerang sekaligus. Apalagi mereka memiliki tiga gelandang yang solid, Granit Xhaka, Lucas Torreira, dan Dani Ceballos.

Spurs harus membenahi barisan belakang yang mudah ditembus pemain lawan. Dua center back mereka, Jan Vertonghen dan Toby Alderweireld, harus lebih taktis untuk membaca arah serangan lawan. Dua pemain asal Belgia ini lemah dalam menghadap wallpass lawan.

Untuk menghindari menjadi bulan-bulanan lawan, Spurs harus berani mengambil inisiatif menekan terlebih dahulu lawan. Pochettino bukan hanya pantas berharap trio penyerang mereka, Kane, Moura, dan Son untuk bisa tampil bersama, tetapi dukungan dari Eriksen dan Alli dari lapangan tengah sangat menentukan.

Spurs bisa belajar dari Liverpool dalam menggoyahkan duet pertahanan Arsenal, David Luiz dan Sokratis Papastathopoulos. Kecepatan Mohamed Salah, Roberto Firmino, dan Sadio Mane membuat pertahanan Arsenal banyak melakukan kesalahan yang tidak perlu.

Adu serang di antara kedua tim akan membuat pertandingan besok malam menarik untuk ditonton. Kita pantas berharap akan banyak gol yang tercipta sehingga derby dua klub asal London Utara ini akan dikenang sebagai salah satu pertandingan terbaik di musim ini.

Apalagi pertandingan ini bukan hanya sekadar pertandingan biasa. Ini pertandingan yang membawa gengsi di antara dua klub bertetangga yang tidak pernah berakhir untuk mengatakan bahwa merekalah yang terbaik di antara yang lain.

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More