Jumat 30 Agustus 2019, 21:44 WIB

Asa Pengembangan SDM Samboja Sambut Ibu Kota Baru

M. Ilham Ramadhan Avisena | Nusantara
Asa Pengembangan SDM Samboja Sambut Ibu Kota Baru

MI/Pius Erlangga
Proyek pembangunan tol Samarinda-Balikpapan yang melintasi Kecamatan Samboja jadi pintu masuk ke ibu kota baru

 

KECAMATAN Samboja berada di lokasi strategis lantaran lokasinya yang berdekatan dengan Selat Makassar. Selain memiliki dua pelabuhan berskala internasional, Somboja juga masih memiliki banyak lahan yang bisa dijadikan untuk pengembangan pangkalan militer.

Hall itu ditegaskan Pelaksana tugas (Plt) Camat Samboja, Nurkhalis saat ditemui di kantornya, di Samboja, Kabupaten Kutai aertanegara, Kalimantan Timur, Jumat (30/8).

Selain aspek letak geografis itu, menurut Nurkhalis, kemajemukan yang ada di Samboja identik dengan masyarakat kota besar pada umumnya. Ia menuturkan, hingga kini belum ada gesekan antarmasyarakat yang berdasar etnis.

Meski Samboja berada di lingkup Kabupaten Kutai Kartanegara yang didominasi oleh suku lokal, Samboja yang berada di pesisir telah dihuni oleh suku lain dari luar Kalimantan.

"Samboja ini adalah daerah pesisir, kemudian dekat dengan perkotaan tentu pendatang juga banyak yang berdiam dan tinggal di sini, ada suku banjar yang bahasanya jadi bahasa pengantar, ada suku jawa, makassar, madura, butun dan beberapa suku lainnya. Sehingga kalau bicara keragaman, itu sudah terbentuk artinya sikap menghormati, harmonis, tenggang rasa dan saling menghargai budaya itu sudah ada di sini," jelasnya.

Baca juga : Tata Ruang Ibu kota Baru Wajib Minimalisasi Risiko Bencana

Terlebih, mayoritas masyarakat Samboja mendukung soal pemindahan pusat pemerintahan yang menyentuh wilayah Samboja. Tidak ada resistensi dari masyarakat atas keputusan Presiden Joko Widodo yang diumumkan awal pekan ini tersebut.

Untuk itu menyeimbangkan keadaan tersebut dengan masyarakat Samboja, Nurkhalis mengatakan pihaknya akan mengupayakan sosialisasi program yang beriringan dengan pembangunan Ibu Kota baru yang akan dilakukan.

"Masih ada waktu untuk menyiapkan mereka. Kita mengharapkan ada anggaran khusus untuk meningkatkan SDM di sini," imbuh Nurkhalis.

"Misal, sebagian besar mereka nelayan, tentu diberikan kemampuan pemahaman dalam mengemudi kapal, kemudian sertifikasi harus dipenuhi dalam rangka memiliki izin nelayan. Karena kalau tidak memiliki izin tentu ada kesulitan dalam melaut mencari ikan," sambungnya.

Kapasitas pemuda Samboja, kata Nurkhalis juga perlu ditingkatkan guna menyongsong dampak terusan dari pemindahan ibu kota.

"Tentu ada pelatihan khusus sehingga nanti tidak kaget kalau ada pendatang yang mengadu nasib di ibu kota baru," ujarnya.

Senada, Djunaedi, 51, warga Samboja asal Balikpapan mengharapkan adanya pemanfaatan dan pemberdayaan penduduk lokal dari pemindahan Ibu Kota Negara.

Sebab peluang usaha dan kesempatan kerja penduduk lokal saat ini menurutnya masih kurang optimal. Melalui pembangunan pusat pemerintahan itu, Djunaedi berharap bisa ikut meningkatkan akses mencari kerja

"Karena pasti ada perubahan pendapatan, usaha lebih banyak variasinya, sekarang kan usahanya terbatas peluang anak muda juga terbatas di sini. Penduduk lokal jadi prioritas dulu untuk dipekerjakan sesuai dengan kemampuan, harapan kita selama ini begitu aja," jelasnya.

Pun demikian dengan Alfian, 60, ia yang warga asli kelahiran Samboja itu seolah tak sabar menanti tanah kelahirannya menjadi bagian dari pusat pemerintahan NKRI.

Padahal, lama sebelum Samboja ditetapkan sebagai bagian ibu kota baru, warga setempat kerap menuntut agar wilayahnya dimekarkan menjadi Kabupaten.

Baca juga : Pindah ke Kaltim, Fasilitas ASN Dijamin

"Kalau saya ya senang, karena untuk membangun, di sini masih banyak lahan kosong, cuma penduduknya yang kurang. Kalau ini jadi Ibu kota, ya jelas semua senang. Kemarin kan warga inginnya dijadikan kabupaten sebenarnya, malah dijadikan ibu kota, ya senang semua jadinya, berarti maju kita nanti," pungkasnya.

Takdir Tuhan

Tuhan berkata lain, demikian pula yang diungkapkan Nurkhalis, masyarakat pesisir Samboja, kata dia memiliki keinginan untuk berdiri sendiri menjadi daerah otonomi.

"Ini takdir tuhan yang lain untuk menjawab doa masyarakat. Percepatan pembangunan tidak lagi mengharapkan dana bantuan Pemprov dan Pemkab, tapi langsung di bawah pemerintah pusat. Jadi percepatan pembangunan, penataan lingkungan ke depannya mudah-mudahan Samboja jadi lebih baik," imbuhnya.

 

"Dengan catatan tidak melupakan jati diri daerah, kearifan lokal, budaya lokal, termasuk untuk meningkatan SDM dan mental menjadi warga ibukota yang baik dan menjadi cermin bagi warga lainnya yang akan datang ke Samboja," tandasnya.

Besaran luas wilayah Kecamatan Samboja diketahui ialah 70.416.56 kilometer persegi dengan jumlah penduduk 65.874 jiwa. Terdiri dari 34.790 laki-laki dan 31.084 perempuan.

Nurkhalis menyatakan, tingkat pendidikan warganya didominasi oleh tamatan SMA. "Secara kasat mata sebagian besar penduduk kita lebih bannyak lulus SMA daripada lulus SMP. S2 S3 juga sudah agak banyak," terangnya. (OL-7)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More