Sabtu 31 Agustus 2019, 09:05 WIB

Gundala: Antara Pahlawan Membumi dan Ceramah Politik

Fathurrozak | Weekend
Gundala: Antara Pahlawan Membumi dan Ceramah Politik

Instagram @gundalaofficial
Poster film Gundala yang mulai tayang di bioskop 29 September 2019.

SETELAH cukup lama dan gencar dipromosikan, film jagoan dalam negeri Gundala akhirnya tayang di bioskop mulai Jumat (29/8). Film besutan Joko Anwar ini bisa dibilang punya beban besar karena menjadi awal dari rangkaian film jagoan Jagat Sinema Bumilangit. Sesuai namanya rangkaian film itu dibuat Bumilangit dengan cita-cita menjadi seperti Marvel Cinematic Universe (MCU) yang melahirkan film-film superhero laris dunia.

Dalam film Gundala yang diangkat dari komik ciptaan Harya Suraminata atau akrab disapa Hasmi itu Joko cukup berhasil memenuhi citra yang dijanjikan pada tagline film. Dari kata patriot pada tagline itu maka karakter ke-Indonesiaan mesti kental. Nyatanya memang demikian.

Joko dengan kekuatan penceritaannya berhasil membumikan karakter Gundala (Abimana Aryasatya). Kisah yang disorot ialah realisme sosio-politik ke-Indonesiaan, sehingga terasa relevan untuk dinikmati sebagai tontonan.

Kisah berlatar belakang ketika Sancaka kecil (Muzakki) harus hidup di jalanan, setelah ayahnya yang merupakan aktivis buruh (Rio Dewanto) meninggal dalam demonstrasi, dan ibunya (Marissa Anita) pergi meninggalkan Sancaka.

Dalam komik, Sancaka merupakan seorang insinyur. Namun, dalam interpretasi Joko sebagai penulis, ia mengarahkan Sancaka hidup sebagai kaum proletar, besar di jalanan, dan ketika dewasa berprofesi sebagai petugas keamanan di salah satu kantor surat kabar. Adegan ini ditampilkan dalam pemaknaan saat Sancaka kecil yang tengah dikejar gerombolan anak jalanan, lalu ditolong oleh sepasang suami-istri yang memberhentikan mobilnya. Dalam perjalanan itu pun, ia ditawari untuk tinggal bersama si penolong, dan hendak disekolahkan. Namun, Sancaka justru keluar mobil.

Semasa hidup di jalanan, Sancaka ditolong dan kemudian tinggal cukup lama bersama Awang. Namun, sayangnya Awang harus pergi ke Tenggara. Ini mungkin bisa jadi petunjuk untuk para fan untuk film jagoan Joko berikutnya. Merujuk pada lini masa karyanya, Joko sempat menyelipkan Tenggara di film Kala sebagai nama kota. Juga nama Awang yang merupakan nama asli dari karakter Godam.

Ceramah dan Kritik Politik
Tema politik mengambil porsi cukup mayor. Intrik yang disajikan ialah berkutat pada isu politik nasional. Pengkor (Bront Paralae), tokoh antagonis utama di Gundala merupakan bandit yang bersarang di balik para anggota dewan. Ia dengan supremasi yang tidak tersentuh mampu mengendalikan gejolak yang muncul.

Menyaksikan Gundala mengingatkan kita pada karya Joko sebelumnya, A Copy of My Mind. Intrik politik yang disematkan dalam kisah cinta dua orang biasa antara Alek dan Sari. Bahasan mengenai kemunafikan politik, nyinyir atas egoisme masing-masing kelas lapisan masyarakat kembali disorongkan.

Meski demikian, kritik-kritik yang dideraskan kadang justru malah terkesan berceramah sebab repetitif. Akibatnya juga cenderung 'omong kosong'. Ada kalanya, nyinyir soal kepedulian pada sekitar terasa pas pada tempatnya, tetapi saat itu dimunculkan ulang dalam adegan lain dengan penambahan gimmick justru terlihat celah kelemahan.

Seperti ketika Sancaka lewat di salah satu jalan, ada pemalakan dan orang-orang dari lantai atas hanya sibuk mengabadikan momen. Salah satu dialog terkesan menceramahi, misalnya saat Wulan --Sedhah Esti Wulan (Tara Basro) yang memberitahu pada Sancaka ihwal harapan para pedagang pasar.

Beberapa adegan laga juga terasa kurang gereget, baik dari sisi koreografi dan pergerakan kameranya. Meski efek CGI di beberapa adegan terasa mulus, ada minor yang masih muncul. Meski begitu secara keseluruhan, Gundala tetap merupakan film jagoan Tanah Air yang patut diapresiasi. Film ini bukan hanya mencerminkan semangat untuk menyaingi banjir film Hollywood, khususnya super hero, melainkan juga kebanggaan atas ke-Indonesiaan.

Di luar soal film, Bumilangit dan juga Joko juga harus merespon kegelisahan pers atas adanya surat perjanjian mengenai embargo waktu pemberitaan dan pembatasan pemberitaan plot film Gundala. Surat tersebut harus ditandatangani sebelum pemutaran film bagi pers yang digelar, Rabu (28/8). Meski embargo waktu sudah lumrah dilakukan, pembatasan plot pemberitaan menunjukkan ketidakpercayaan terhadap pers.

Padahal jika melihat pemberitaan banyak media di Tanah Air mengenai peluncuran film baru, pers sudah cukup paham untuk tidak memberitakan mengenai plot-plot penting atau puncak. Bumilangit juga pantas meniru yang dilakukan MCU dan para aktornya dengan menyebarluaskan hastag Nospoilers atau Antispoilers kepada masyarakat, jika memang ingin menghadang bocornya plot penting. (M-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More