Jumat 30 Agustus 2019, 12:25 WIB

Pemindahan Ibu Kota Jabar Dipertanyakan Dewan

Bayu Anggoro | Nusantara
Pemindahan Ibu Kota Jabar Dipertanyakan Dewan

MI/Bayu Anggoro
Gubernur Jabar Ridwan Kamil merencanakan memindahkan ibu kota Jabar. Namun DPRD menilai wacana itu belum pernah dibahas.

 

DPRD Jawa Barat mempertanyakan pemindahan ibu kota provinsi yang digulirkan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil (Emil). Pasalnya, rencana Emil itu dianggap tidak tepat dan belum mendapat persetujuan dari legislatif. Ketua Komisi IV DPRD Jawa Barat, Ali Hasan mengatakan pihaknya belum pernah berkomunikasi dengan eksekutif terkait rencana itu. Selama ini, menurutnya tidak pernah ada pembahasan terkait rencana pemindahan ibu kota ke tiga daerah baru seperti yang diungkapkan Emil.

"Dulu memang sempat ada pemindahan ibu kota ke Tegal Luar (Kabupaten Bandung). Tapi itu juga sudah dicoret karena daerahnya rawan bencana," kata Ali di Bandung, Jumat (30/8).

Ali pun mengaku tidak setuju dengan rencana pemindahan ibu kota provinsi.

"Kita belum pernah diajak bicara, gimana mau setuju," katanya.

Di tempat yang sama, anggota DPRD Jawa Barat lainnya, Asep Wahyu Wijaya mengatakan, rencana itu merupakan sikap sepihak dari pemerintah provinsi dalam hal ini gubernur.

"Mestinya Pak Gubernur tidak asal klaim," katanya.

Menurut Asep, pihaknya memang pernah membahas rencana pemindahan ibu kota ke Tegal Luar yang akhirnya dicoret karena rawan bencana.

"Setelah pansus 7 konsultasi ke BNPB, ternyata di situ banyak potensi bencananya, jadi dicoret," lanjut Asep.

Disinggung daerah Walini (Kabupaten Bandung Barat) dan kawasan Segitiga Rebana (Kabupaten Majalengka) sebagai alternatif lain, Asep mengaku tidak tahu.

"Tidak ada Walini atau Rebana. Itu pernyataan sepihak, belum pernah ada pembahasan soal itu," katanya.

Sebelumnya, langkah Presiden Joko Widodo yang memindahkan ibu kota negara ke Kalimantan Timur diikuti Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil (Emil). Emil berencana memindahkan ibu kota provinsi tersebut yang saat ini di Kota Bandung ke tiga daerah yang sementara ini jadi pilihan, yakni Kabupaten Bandung, Bandung Barat, dan Majalengka.

Rencana pemindahan ibu kota ini memiliki alasan yang sama dengan pemindahan ibu kota negara dari Jakarta ke Kalimantan Timur. Sebab, menurut Emil saat ini Kota Bandung sudah memiliki beban yang berlebih baik sebagai pusat pemerintahan maupun bisnis.

"Karena pada dasarnya secara fisik Kota Bandung sama dengan Jakarta," katanya di Bandung, Kamis (29/8).

Selain itu, menurutnya tata kota di daerah tidak ideal untuk menjadi pusat pemerintahan. Oleh  karena itu, pihaknya sudah memilih tiga kawasan sebagai pilihan calon ibu kota yang baru, yakni di Tegal Luar (Kabupaten Bandung), Walini (Kabupaten Bandung Barat), dan Segi tiga Rebana (Kabupaten Majalengka).

Kajian kelayakan di tiga daerah itu sudah dilakukan dan diprediksi akan tuntas pada enam bulan ke depan.

"Terbuka di mana saja, tapi yang dimention tiga itu dulu. Kajiannya nanti enam bulan selesai," katanya.

baca juga: Politisi NasDem Jadi Pimpinan DPRD Manggarai Barat Sementara

Namun, menurutnya calon ibu kota baru itu harus memenuhi setidaknya tiga kriteria utama yakni minim risiko bencana, kemudahan akses, dan ketersediaan air yang bagus.

"Saya rasa itu penting. Lain-lainnya kita lihat dari pembahasan," ujar Emil. (OL-3)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More