Rabu 28 Agustus 2019, 23:20 WIB

Pintu Dunia lewat Festival Gotong Royong

MI | Humaniora
Pintu Dunia lewat Festival Gotong Royong

Dok Papermoon
Salah satu pertunjukan teater boneka

 

TIDAK hanya mementaskan karya lewat pertunjukan tunggal, Papermoon Puppet Theater juga membuat Festival Teater Boneka Internasional setiap tahun. Tahun lalu festival itu sudah mencapai usia ke tujuh dan sudah berhasil menarik 20 kelompok teater boneka dari 16 negara. 

Lewat festival itu, nama Papermoon bukan hanya dikenal dunia, melainkan pula menjadi jalan bagi publik dalam negeri untuk mengenai kesenian teater boneka dari berbagai negara. Singkat kata, Maria Tri Sulistyani atau akrab disapa Ria pun bisa terus menghidupkan semangat awalnya, yakni berbuat untuk pendidikan seni anak-anak Indonesia. 

Ria bertutur pembiayaan festival itu sempat dilakukan dengan menggalang dana dengan menggelar pertunjukan di Jakarta. Meski awalnya sempat ragu laku, tiket Rp300 ribu untuk lakon Secangkir Kopi dari Playa nyatanya selalu ludes. Ria membatasi hanya 50 penonton per pertunjukan dan ia menggelar 13 pertunjukan. Dari situlah biaya festival tertutupi. 

Namun, Ria mengungkap jika konsep festival internasional itu sebenarnya gotong-royong. Kelompok-kelompok teater yang ambil bagian datang dengan biaya sendiri. 


Medium kertas

Saat ditanya mengapa menggunakan bahan dasar kertas sebagai medium, Ria mengungkapkan tiga alasan. Pertama, ia memilih kertas karena merupakan material yang mudah didapatkan.

Selain itu, kertas juga dianggap sebagai medium yang sangat akrab bagi banyak orang. Sementara itu, alasan ketiga dan tidak kalah penting ialah karena kertas merupakan material yang mudah untuk dibetulkan.

Tidak seperti boneka wayang umumnya yang diupayakan awet, boneka-boneka Papermoon justru sebaliknya. “Kalau dia awet malah tidak bisa dimainin jadinya seperti patung gitu. Kemudian, karena fungsinya bertemu dengan banyak orang dan bisa dipakai untuk berinteraksi. Semua eco friendly dan nature friendly. Kita tidak perlu impor susah-susah pakai cairan kimia,” tambah Ria.

Mengenai karya favorit atau masterpiece, Ria mengaku tidak memiliki.  Ia pun berfilosofis jika karya terbaik ialah karya yang besok akan dihasilkan. Prinsip itu membuatnya terus memacu diri membuat karya yang lebih baik. 

“Karena setiap karya punya kelebihannya masing-masing. Jadi kami tidak memilih satu karya untuk menjadi anak emas. Kasian yang lain. Kami juga tidak ada pakem, bekerja secara visual dan tidak ada batasannya, bahkan teman-teman disabilitas pun bisa mengerti,” pungkas Ria. (LN/M-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More