Rabu 28 Agustus 2019, 23:00 WIB

Berkarya Sesuai Semesta Tempat Berada

Lina Herlina | Humaniora
Berkarya Sesuai Semesta Tempat Berada

MI/Lina Herlina
Maria Tri Sulisyani

 

CAHAYA matahari muncul dari balik dedaunan pohon rindang yang tumbuh di seputar studio sederhana dengan dinding batu bata di Desa Sembungan, Kelurahan Bangunjiwo, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, pagi itu.

Sebuah pertunjukan teater boneka kertas tengah digelar dan hanya dihadiri tidak lebih 100 orang. Ternyata itu bagian dari kelas intensif yang rutin mereka gelar.
“Pada pertemuan pertama, mereka diberi pemahaman seni menghidupkan objek di sekitar kita. Itu selama empat jam. Setelah itu, mereka dibuat berkelompok dan mengajukan proposal dan dipilih delapan orang, di antaranya dengan background masing-masing sehingga mereka tetap dengan ciri khasnya sendiri tanpa hanya mengikuti Papermoon,” jelas seorang perempuan berambut pendek.

Sosoknya bukan hanya dikenal di antara para anggota kelompok pertunjukan itu, melainkan juga bagi penonton setia Papermoon. Dialah Maria Tri Sulistyani atau lebih dikenal Ria Papermoon.

Selain ikut menjadi direktur artistik, Ria merupakan salah satu pendiri Papermoon Puppet Theater. Ria mendirikan teater yang merupakan teater boneka satu-satunya di Tanah Air itu bersama sang suami, Iwan Effendi, pada 2008. Dua tahun sebelumnya, cikal teater itu didirikan sendiri oleh Ria, yakni Papermoon yang merupakan sanggar anak. 

Keteguhan perempuan kelahiran Jakarta 4 November 1981 itu dalam menjalankan konsep berkeseniannya bukan saja membawa kekaguman, melainkan juga membuka wawasan akan industri seni yang belum banyak di Indonesia. Lalu, tidak saja bisa bertahan, teater boneka yang berciri boneka-boneka dengan bentuk wajah seperti bulan tersebut terkenal sampai ke luar negeri. Keberadaannya bahkan sudah lebih dulu diapresiasi media-media internasional, salah satunya New York Times, sebelum heboh di dalam negeri.

Hebatnya, di tengah antusiasme masyarakat yang tinggi akibat penampilan teater itu di film Ada apa dengan Cinta (AADC)? 2, Ria tetap mampu menjaga idealisme berkarya. Ia tidak gagap dengan popularitas, bahkan cenderung menyepi demi menjaga kualitas teaternya.

Berbincang dengan Media Indonesia, Jumat (26/7), Ria mengaku mengenal dunia seni saat berkuliah meski sebenarnya bukan bidang yang ia pelajari. Lulusan Ilmu Komunikasi di Universitas Gadjah Mada, Ria bergabung dengan kelompok teater selama tiga tahun sejak awal kuliah. Setelah itu, selama dua tahun ia be­kerja di studio keramik dan kemudian menjadi relawan TK selama setahun. Selepas kuliah, ia pun mantap menjadi seniman dengan mendirikan sanggar anak.

Ia mengaku hal pertama yang mendo­rong tekadnya ialah kegelisahan atas seni di Indonesia. “Aku merasa pendidikan seni waktu itu tidak untuk mengekspresikan. Karena seni itu selalu menghafal, selalu masalah nilai, dan bukan ada apa di balik itu,” ujar ibu satu anak ini.

Gempa Bantul yang terjadi sebulan setelah Ria mendirikan sanggar Papermoon membuatnya mengaktualisasikan pendidikan seni itu. Ria dan komunitasnya membuat workshop bagi anak-anak korban gempa. Kegiatan itu sempat berjalan hingga 1,5 tahun, tetapi rontok karena sistem yang masih berupa kerelawanan.


Memilah alternatif

Tersisa ia dan Iwan, Ria tidak patah semangat akan dunia seni.  “Dari awal (saya) memutuskan untuk tidak bekerja sesuai kuliah, saya selalu punya keyakinan sekecil apa pun usaha yang kita lakukan, kalau benar-benar serius dan ditekuni pasti bisa menghidupi,” kenang Ria. 

Keteguhannya diakui juga karena cara pandangnya melihat kehidupan dan alam raya. “Catatan pentingnya adalah kita harus melihat semesta di mana kita berada,” tambahnya.

Meski begitu, ia dan Iwan, diakui juga sempat merenung dan bertanya-tanya akan langkah selanjutnya. Mereka menimbang dan menyingkirkan alternatif-alternatif yang tidak benar-benar diyakini, termasuk LSM anak maupun sanggar. Dari situlah akhir­nya mereka menyadari jika kecintaan mereka yang paling kuat ialah saat proses membuat teater boneka, walaupun sebenarnya belum ada patronnya di Tanah Air.
Proses pencarian juga belum berhenti. Dengan anggota yang berjumlah lima orang, mereka bersepakat berkarya untuk penonton dewasa. 

Di sisi lain, idealisme itu disadari juga harus sejalan dengan keberadaan pasar sebab idealisme tanpa penghidupan tidak akan berjalan lama.

“Memutuskan membuat Papermoon di kala tak jelas siapa yang akan membeli tiket pementasan teater boneka (apalagi untuk dewasa), membuat saya harus lebih jeli mempelajari siapa yang akan menjadi penonton kami, siapa yang akan kami ajak bicara, siapa yang akan kami ajak berbagi,” tutur Ria yang bersama teaternya mendapat nominasi untuk Edinburgh Fringe Sustainable Practice Award (2015).

Karakter teater mereka semakin menemukan bentuk setelah Ria dan Iwan mendapatkan beasiswa belajar teater boneka di Amerika Serikat selama enam bulan. Pulang ke Indonesia, ia juga mendapat program pembiayaan dari Yayasan Kelola dan HIVOS Foundation. Dari program dua tahun itu, mereka bisa melahirkan lakon Mwathirika (2010) dan Secangkir Kopi dari Playa (2011). Lakon kedua inilah yang masuk ke film AADC?2.

Kini, lebih dari satu dekade usia Papermoon Puppet Theater, Ria dan timnya tetap solid menjalankan masing-masing peran maupun saling mengisi mengurus segala kebutuhan teater sampai hal terkecil. Ria mengaku selain menjadi direktur artistik bersama sang suami, ia juga mengurus manajemen, membuat naskah, membuat kurikulum, membuat merchandise, bahkan hingga menyapu dan mengepel. 
Sementara itu, Anton Fajri, Beni Sanjaya, dan Pambo lebih banyak berperan dalam eksperimen visual dan menjadi pemain.  

Tidak hanya berkarya sendiri, bersama teaternya, Ria berbagi ilmu dan inspirasi lewat kelas lokakarya rutin. Namun, ia tidak ingin gerakannya itu hanya menghasilkan seniman pereplika Papermoon. Sebab itu, ia tidak menunjukkan cara kerja teaternya agar para seniman peserta kelas dapat menghasilkan gaya yang orisinal. Dengan cara ini pula Ria yakin dunia seni, khususnya teater Indonesia akan semakin berwarna. (M-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More