Selasa 27 Agustus 2019, 19:15 WIB

Film Misti Merekatkan Toleransi dan Keberagaman

Film Misti Merekatkan Toleransi dan Keberagaman

Ist
Film Misti

BERCERITA tentang perjuangan seorang remaja di Kota Jakarta yang hidup  dalam tradisi nikah muda tetapi tetap ingin melanjutkan sekolah, film  Misti sangat menebarkan nilai-nilai positif di tengah masyarakat.

Film pendek produksi Yayasan Kursi Putih ini diharapkan bisa memberi  semangat kepada anak-anak Indonesia untuk terus belajar dan sekolah  setinggi-tingginya. Hal itu disampaikan Pembina Yayasan Kursi Putih, Adis Prasetyo, dalam  wawancara dengan Media Indonesia di kantor Media Group, Jakarta, Jumat  (23/8).

Adis yang didampingi sang  Produser Pelaksana, Bambang Supriadi, menceritakan Misti merupakan film sosial. Karena itu, targetnya ialah  menyampaikan pesan tentang pendidikan, empati, toleransi, dan kebangsaan  sehingga nilai-nilai itu semakin rekat dalam kehidupan sehari-hari. "Banyak detail pada film tersebut. Kami mau menunjukkan kepada penonton  kayak gimana sih nilai toleransi itu, hormat ke orangtua, hormat ke  guru, etika, dan kebangsaan yang kini mulai hilang," ujar Adis.

Menurutnya, alasan memilih film sebagai media untuk menyampaikan  konten-konten positif ke tengah masyarakat lantaran yayasan memandang audio visual efektif dan cepat menjangkau khalayak luas. Ketika dipergunakan dengan baik, media ini dipandang tidak akan salah sasaran. Terlebih, masyarakat saat ini banyak mengakses berbagai video melalui  situs web.

Adis mengatakan film Misti diperuntukkan semua kalangan, terkhusus kaum muda. Ini sejalan dengan pesan yang ingin ditanamkam bahwa tidak ada kata hambatan untuk menimba ilmu setinggi mungkin asal ada usaha, dan negara hadir untuk melindungi seluruh lapisan masyarakat.

Ia pun berharap film yang akan tayang di Metro TV pada 31 Agustus 2019 ini bisa menarik penonton sebanyak-banyaknya. Ekses yang timbul di tengah masyarakat imbas dari perbedaan pililhan dalam pesta demokrasi  Pileg dan Pilpres 2019 pun diharapkan dapat terhapus dengan hadirnya Misti.


Tiga bulan

Produser film Bambang Supriadi menambahkan tahapan penulisan skenario dikerjakan anak-anak muda. Prosesnya melewati banyak tahapan dari presentasi hingga revisi serta mendapatkan esensi pesan yang hendak disampaikan dalam film. Proses mulai dari persiapan hingga rilis film memakan waktu sekitar tiga bulan. "Durasi film ini memang pendek, tapi muatannya cukup banyak," ujarnya.

Untuk proses syuting sendiri hanya berlangsung tiga hari dengan lokasi di ­Cilincing, Jakarta Utara. Wilayah itu dipilih lantaran dianggap pas dengan kebutuhan skenario Misti.

Tantangan pembuatan Misti, jelas Bambang, terletak pada penyelarasan pesan yang ingin disampaikan dengan time line dan budgeting. Lokasi yang merupakan perkampungan padat juga memberikan tantangan lain dalam proses produksi. "Meski tempat-tempatnya berdekatan, mobilitasnya agak sulit," kata Bambang.

Yayasan Kursi Putih berdiri tahun 2016 serta berkegiatan dalam lingkup sosial dan kemanusiaan. Dimulai dengan Chairity acara penggalangan dana  untuk pasien kanker anak Yayasan Kursi Putih telah menyelenggarakan bakti sosial seperti operasi katarak, sunat massal, dan pembuatan pojok  buku.

Saat ini, Yayasan Kursi Putih lebih berfokus anak-anak dan pendidikan yang merupakan salah satu concern lembaga itu. (Hym/S5-25)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More