Rabu 28 Agustus 2019, 13:29 WIB

Hulu Ledak Korea Utara Bisa Tembus Perisai Pertahanan Jepang

Tesa Oktiana Surbakti | Internasional
Hulu Ledak Korea Utara Bisa Tembus Perisai Pertahanan Jepang

AFP/KCNA
Kantor berita Korea Utara, KCNA, menunjukkan peluncur roket ukuran besar di lokasi tidak diketahui.

 

KOREA Utara (Korut) diyakini tengah mengembangkan hulu ledak untuk menembus perisai rudal yang melindungi Jepang. Hal itu diungkapkan Menteri Pertahanan Jepang, Takeshi Iwaya.

Takeshi mengungkapkan sejumlah roket yang dikembangkan ialah rudal balistik jarak pendek. Dia menyoroti lintasan tidak beraturan, yang secara teoritis dapat mengakali sistem pertahanan.

Uji coba rudal jarak pendek yang digencarkan Pyongyang belakangan ini, memicu peringatan bagi negara tetangga, Jepang. Sekalipun Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, sempat menganggap peluncuran itu bukan masalah besar.

Jepang dan AS mempunyai kapal perusak Aegis yang dikerahkan di Laut Jepang. Armada itu dipersenjatai rudal pencegat, yang dirancangkan menghancurkan hulu ledak di luar angkasa. Tokyo juga berencana membangun dua meriam Aegis berbasis darat, untuk meningkatkan perisai rudal balistik.

Akan tetapi, sistem pertahanan tersebut dirancang melawan proyektil pada lintasan reguler dan dapat diprediksi. Alhasil, variasi jalur penerbangan berpotensi mempersulit intersepsi. Jepang dan AS dilaporkan tengah menganalisis secara rinci peluncuran terbaru Korut.

Dewan Keamanan PBB membahas tindakan Korut dalam sesi khusus pada Selasa waktu setempat. Pertemuan itu merupakan permintaan Jerman, Prancis dan Inggris. Tiga negara Eropa mengutuk uji coba rudal Pyongyang yang provokatif, karena melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB.

"Sanksi internasional harus tetap diberlakukan secara penuh, setidaknya sampai Korea Utara membongkar program nuklir dan rudal balistik. Dewan Keamanan PBB harus menjaga persatuan dan menegakkan resolusinya," bunyi pernyataan bersama Jerman, Inggris, dan Prancis.

Uji coba pada Sabtu (24/8) lalu, terjadi setelah Korea Selatan mengakhiri perjanjian berbagi data intelijen dengan Jepang. Keputusan itu diambil ketika hubungan Seoul dan Tokyo memanas, yang dipengaruhi perselisihan terkait kerja paksa masa perang.

Pejabat pemerintah Jepang menilai keputusan Seoul tidak rasional. Apalagi ancaman dari Korea Utara semakin meningkat.(AFP/Tes/OL-09)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More