Rabu 28 Agustus 2019, 08:20 WIB

Optimalkan Nilai Tambah Kemajuan Revolusi Industri 4,0

(Bay/H1-25) | WAWANCARA
Optimalkan Nilai Tambah Kemajuan Revolusi Industri 4,0

DOK KEMENTRIAN DIKTI
JUMAIN APPE: Direktur Jenderal Penguatan Inovasi, Kementrian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti)

GAUNG era revolusi industri 4.0 telah menggema di Tanah Air sekaligus mendorong industri nasional untuk lebih efektif, efisien, serta memungkinkan produk-produk dalam negeri bisa bersaing dengan memanfaatkan teknologi, artifisial intelijen, robotik, kemudian digital teknologi.

Hal tersebut merupakan bentuk dari penelitian dan inovasi kini banyak dikembangkan, di lembaga-lembaga penelitian dan pengembangan (litbang) serta perguruan tinggi. Nah bagaimana hasil riset dan inovasi yang mengarah pada industri 4.0 dikembangkan pada industri ke depan. Berikut wawancara wartawan Media Indonesia Syarief Oebaidillah dengan Dirjen Penguatan Inovasi Kemenristek-Dikti Jumain Appe di Jakarta.

Apa yang tengah dikembangkan dari hasil riset dan inovasi dalam negeri?

Negara kita yang kaya akan produk lokal memerlukan nilai tambah. Hal itu bisa dilakukan dengan meningkatkan ke industri melalui penerapan teknologi baru. Selain itu, yang tidak kalah pentingnya ialah mengembangkan juga industri kreatif yang memang banyak sekali bermunculan melalui start up, industri software, industri kerajinan yang disebut dengan handicraft. Ini semua bisa menjadi kekuatan Indonesia kita ke depan karena memiliki nilai-nilai historis, budaya yang sudah berkembang.

Tapi selama ini sifat industri di Tanah Air sebagian besar masih dalam tataran memanfaatkan teknologi. Bagaimana menurut Anda?

Dari sinilah Kemenristek-Dikti melihat peluang, dan dengan industri 4.0. Diharapkan melalui hasil inovasi tersebut, bisa meningkatkan nilai tambah dan kreatifi tas dari industri-industri yang ada di Indonesia.

Dampak apa yang diharapkan dengan adanya inovasi teknologi itu?

Teknologi yang mensyaratkan daya inovasi dan diharapkan bisa memberikan perubahan secara cepat atau bertahap. Dari tidak ada menjadi ada, lebih dari itu inovasi ini harus memberikan dampak baik secara ekonomi, sosial, budaya, maupun keilmuan dan berkelanjutan. Inti dari inovasi itu sendiri adalah ilmu pengetahuan dan teknologi, jadi inovasi itu bisa terjadi jika ada ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikembangkan. Melalui penelitian dan pengembangan, serta pengkajian dan penerapan, menghasilkan suatu ilmu pengetahuan teknologi yang disebut invension atau penemuan. Invensi ini lah yang kita lakukan penerapannya, pengenalannya kepada masyarakat, baik secara perorangan, maupun di dunia industri, juga kepada negara.

Apa manfaat yang bisa diambil dari penerapan teknologi?

Pada saat semua persyaratan teknologi itu diterapkan maka akan memberi perubahan yang signifi kan terutama memberi nilai tambah secara sosial dan ekonomi maupun budaya. Nah, agar hal ini berkelanjutan inovasi harus menjadi model enterpreneur. Jadi hubungannya antara iptek, inovasi dan usaha, itu harus ada nilai yang akan menjadi ujung tombak guna menjadi suatu kemampuan ekonomi nasional yang bisa bertahan secara terus menerus.

Bagaimana pemerintah dalam hal ini Kemenristek-Dikti menghadapi era 4.0

Langkah pemerintah melalui Kemenristekdikti di era revolusi industri 4.0 juga diharapkan dapat menjaga kemandirian bangsa. Dengan demikian, dapat dibangun industri yang meminimalkan ketergantungan pada negara-negara lain. Pasalnya, manakala terjadi suatu perubahan ekonomi seperti terjadi krisis, Indonesia akan kena dampak mengalami penurunan. Contohnya, krisis yang pernah terjadi pada 1998 sebagai akibat Indonesia tidak berhasil membangun kemandirian dalam ilmu pengetahuan, ekonomi, dan teknologi serta inovasi. Jadi kita harus membangun kemampuan industri nasional kita dengan kemampuan ilmu pengetahuan teknologi dan inovasi yang kita miliki. Kendati diakui tidak mungkin kita menguasai secara keseluruhan, paling tidak minimum 60% kita kuasai teknologi dan inovasi terhadap industri industri yang dikembangkan ke depan. Ini arah kita harus ke sana. (Bay/H1-25)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More