Selasa 27 Agustus 2019, 17:20 WIB

Pasar Residensial Tetap Menjanjikan

Ahmad Punto | Ekonomi
Pasar Residensial Tetap Menjanjikan

ANTARA/Hafidz Mubarak
Suasana sebuah pameran properti yang digelar REI di Jakarta, beberapa waktu lalu.

 

PASAR properti hunian di Indonesia dinilai masih sangat potensial. Selisih pasokan dan permintaan (backlog) hunian di Indonesia yang masih tinggi, yakni 11,4 juta unit, dan laju pertumbuhan penduduk menjadi dua faktor utama pendorong prospektifnya properti residensial tersebut.
 
"Kami meyakini bahwa peluang bisnis properti hunian tapak maupun vertikal masih cukup besar," ujar Aulia Firdaus, Chief Executive Officer (CEO) Repower Asia Indonesia, salah satu pengembang properti di Jabodetabek, dalam siaran pers di Jakarta, Selasa (27/8).
 
Hingga saat ini, ia menambahkan, rumah tapak masih diminati konsumen, terutama dari segmen keluarga termasuk keluarga usia muda. Itu menjadi salah satu potensi yang membuat pasar menjadi terus bergairah. Karena itu, lanjut Aulia, Repower Asia gencar mengembangkan proyek rumah tapak, terutama di Kota Depok, Jawa Barat.
 
Dalam kesempatan terpisah, pengamat bisnis properti Panangian Simanungkalit memproyeksikan sampai dengan akhir 2019, permintaan rumah tapak bakal meningkat hingga kisaran 6%-8% jika dibandingkan dengan tahun lalu.
 
"Kapitalisasi pasar perumahan sampai dengan akhir 2019 saya perkirakan berkisar Rp110 triliun-Rp120 triliun," papar dia.
 
Potensi pasar residensial juga bisa dilihat dari program pemerintah. Melihat tingginya kebutuhan akan hunian, pemerintah sejak 2015 mencanangkan Program Sejuta Rumah. Lewat program itu pemerintah menggulirkan dana subsidi bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

Salah satu dana subsidi yang digulirkan pemerintah ialah melalui kredit pemilikan rumah (KPR) berskema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP).

Sepanjang rentang empat tahun terakhir, 2015-2018, pemerintah mengklaim torehan Program Sejuta Rumah terus meningkat setiap tahunnya. Pada 2015, program tersebut merealisasikan sebanyak 699.770 unit. Lalu, pada 2016 (805.169 unit), 2017 (904.758 unit), dan 2018 (1.132.621 unit). Untuk 2019, pemerintah menargetkan pembangunan 1,25 juta rumah.
 
Direktur Jenderal Penyediaan Perumahan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Khalawi A Hamid pernah mengatakan, tantangan ke depan antara lain adalah ketersediaan lahan di kawasan strategis. Terutama, untuk membangun rumah terjangkau bagi MBR.

Salah satu cara mengatasi hal itu misalnya dengan membangun rumah susun (rusun) dekat dengan stasiun kereta atau transit oriented development (TOD). Lalu, membangun rusun dengan kombinasi pasar seperti Rusun Pasar Rumput, Jakarta setinggi 25 lantai berjumlah tiga menara. (RO/X-12)

Baca Juga

Antara/Puspa Perwitasari

Ada Covid-19, Perusahaan Ini Percepat Bagi Bonus Karyawan Rp318 M

👤Raja Suhud 🕔Sabtu 28 Maret 2020, 23:50 WIB
Manajemen Indosat juga mengumumkan segera memberikan bonus tahunan lebih awal sebesar total Rp318 miliar kepada seluruh...
Antara/Abriawan Abhe

Ini Tata Cara Pengerjaan Proyek Perkeretaapian Selama Covid-19

👤Despian Nurhidayat 🕔Sabtu 28 Maret 2020, 22:10 WIB
Disarankan penundaan sementara pekerjaan switch over yang melibatkan jumlah personil yang banyak (tidak dimungkinkan untuk menjaga...
ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal

Terminal 1 dan Terminal 2 Bandara Soetta Ditutup Sebagian

👤Despian Nurhidayat 🕔Sabtu 28 Maret 2020, 21:29 WIB
Pembatasan pengoperasian Terminal 1 dan Terminal 2 dilakukan dalam rangka optimalisasi pengendalian alur penumpang baik Domestik maupun...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya