Selasa 27 Agustus 2019, 08:15 WIB

Dana Desa Mandirikan Kaum Perempuan

Akhmad Safuan | Nusantara
Dana Desa Mandirikan Kaum Perempuan

Antara
Ilustrasi

 

DANA desa yang dikucurkan ke Provinsi Jawa Tengah terus meningkat. Di 2019, nilainya mencapai Rp7,8 triliun atau naik 17,8% ketimbang 2018 sebesar Rp 6,7 triliun.

Tahun ini, titik konsentrasi penggunaan dana tersebut ialah untuk pemberdayaan desa. Berdasarkan pemantauan Media Indonesia, kemarin, di jalan utama Semarang-Purwodadi, telah berdiri balai desa berlantai dua yang dibangun menggunakan anggaran dana desa.

Balai desa tersebut tidak hanya berfungsi untuk pelayanan administrasi desa, tetapi juga dipakai untuk kegiatan usaha kerakyatan. Warga perempuan yang tergabung dalam PKK, terlihat melakukan berbagai kegiatan di bidang keterampilan dan usaha dengan omset mencapsi puluhan juta rupiah setiap bulan.

Mereka ada yang menjahit, membordir, dan membatik. Hasil karya mereka dipajang di balai desa yang sekaligus menjadi unit usaha bersama. Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) di Desa Gubug, Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan itu telah berhasil memanfaatkan dana desa untuk mengangkat perekonomian warga desa yang berjumlah 10.232 jiwa.

Kaum perempuan di desa itu kini lebih mandiri setelah berkarya membuat berbagai produk yang banyak dipesan. “Kami sampai kewalahan melayani pesanan batik, karena jumlah produksi ibu-ibu pembatik tidak sebesar pesanan yang terus datang,” kata Fathonah, 45, yang berprofesi sebagai pembatik.

Kepala Desa Gubug, Hadi Santoso, menambahkan dana desa yang diperoleh setiap tahun, telah berhasil memandirikan kaum perempuan.

Bangun lapangan

Sementara itu, dana desa yang dikucurkan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi untuk membangun lapangan sepak bola Sakti Lodaya di Dusun Babakan Sukarame, Desa Cisayong, Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya, telah menghadirkan. lapangan sepak bola berstandar Federation of International Football Association (FIFA).

Pemerintah Desa Cisayong memanfaatkan dana tersebut untuk membangun sarana ­olahraga di lahan seluas 93 x 54 meter. Kepala Desa Cisayong, Yudi Cahyudin, mengatakan sarana olahraga rakyat itu diberi nama Lapangan Bola Lodaya Sakti karena pemerintah memberi tema agar dana desa bisa bermanfaatdi sektor olahraga.

Terpisah, di Nusa Tenggara Timur, penduduk Kampung Cipi, Desa Bere, Kecamatan Cibal, Manggarai, kini bisa bernapas lega. Pasalnya, pembangunan jalan rabat beton yang menghubungkan pusat desa dengan kampung terpencil itu berdampak besar bagi masyarakat setempat.

Kampung Cipi yang dihuni puluhan keluarga, merupakan satu-satunya wilayah Desa Bere yang terletak di ketinggian, yang selama ini dihubungkan hanya dengan jalan setapak. Jalan tersebut saban hari dilewati warga untuk beraktivitas seperti pergi ke sawah dan kebun.

Persoalan muncul saat warga harus membawa beban berat, seperti hasil panen dan bahan bangunan, karena kondisi jalan menanjak dan licin saat musim hujan. (AD/PO/BB/N-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More