Senin 26 Agustus 2019, 05:10 WIB

Reorientasi Penilaian Pendidikan

Syamsir Alam Divisi Pengembangan Kurikulum dan Penilaian Yayasan Sukma | Opini
Reorientasi Penilaian Pendidikan

Dok. PribadI
Divisi Pengembangan Kurikulum dan Penilaian Yayasan Sukma, Syamsir Alam.

ANDREAS Oranje (2018) mengatakan bahwa testing's disruption merupakan sebuah keniscayaan, sesuatu yang sulit untuk dielakkan. Direktur Riset Educational Testing Service (ETS) itu bahkan memperkirakan dalam 10 tahun ke depan, penilaian dan pengujian akan tersambung menjadi satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dengan pembelajaran.

Pendidikan pada abad ke-21 ini juga ditandai dengan pentingnya keterampilan (skills), seperti berpikir kritis dan kreatif dan serangkaian proses. Dengan penguasaan keterampilan (skills) ini, siswa diharapkan mampu beradaptasi dengan konteks, menghadapi tantangan--yang beragam, dinamis, dan nonlinier--dan memecahkan masalah yang belum diketahui sebelumnya. Bahkan pendidikan diharapkan bukan sekadar mengajarkan pengetahuan dan keterampilan; lebih dari itu, pendidikan juga harus memikirkan bagaimana membantu siswa dalam mengembangkan alat (tools) yang mereka butuhkan untuk mengarungi samudra kehidupan yang semakin kompleks, tidak stabil, dan tidak pasti (Schleicher A: 2019).

Perubahan ini, bagi kalangan yang menekuni penilaian pendidikan (test specialists) seyogianya dapat jadikan kesempatan untuk melakukan reorientasi arah dan tujuan penilaian, dari yang sebelumnya berfokus pada hasil, yang diwujudkan dalam bentuk skor/peringkat (summative assessment) kepada yang lebih substantif, yaitu penguasaan keterampilan dan proses (formative assessment), sebuah model penilaian yang dapat mendukung pembelajaran keterampilan dan serangkaian proses, yang akan dibawa siswa dalam menyongsong situasi yang penuh ketidakpastian tersebut (Ester E dan Vista A: 2017).

 

Kompetensi global

Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) sudah mengisyaratkan akan pentingnya pengusaan kompetensi global atau keterampilan abad ke-21 ini. Hal itu antara lain ditunjukkan kurikulum nasional melalui sejumlah kompetensi yang harus dicapai/dikuasai siswa setelah mereka menyelesaikan suatu jenjang pendidikan tertentu. Kenyataannya, memang masih sering dikeluhkan adanya ketidakselarasan (unaligned) antara kurikulum, pembelajaran, dan penilaian, baik pada ujian nasional maupun penilaian pada tingkat kelas/sekolah sehingga hasilnya belum sepenuhnya mampu menjelaskan pengetahuan dan keterampilan yang sudah dapat dikuasai siswa selama kurun waktu mereka belajar di sekolah.

Sejak dua tahun terakhir penyelenggara ujian nasional (UN) memang sudah mulai mengupayakan perbaikan kualitas, sesuai dengan tuntutan kurikulum. Beberapa soal yang digunakan pada UN sudah dirancang untuk menangkap gambaran kemampuan siswa dalam pemecahan masalah dan berpikir kompleks. Namun, UN, meskipun sudah berbasis komputer bersifat normatif, masih berorientasi pada perolehan hasil akhir (skor/peringkat) sehingga belum sepenuh mampu menjelaskan sejauh mana siswa sudah mengusai pengetahuan dan keterampilan yang dimandatkan kurikulum. Desain ujian masih seragam, one test fits for all. Sejalan dengan itu, ujian yang diselenggarakan guru/sekolah juga belum menunjukkan perbaikan/perbaikan secara signifikan, baik kualitas instrumen yang digunakan, ragam penilaian, maupun pemanfaatan hasilnya, yang umumnya masih sebatas untuk kepentingan nilai rapor atau ranking. Data hasil penilaan formatif yang seharusnya digunakan untuk memperbaiki strategi siswa dalam belajar dan guru dalam memberikan bimbingan pembelajaran belum sepenuhnya dimanfaatkan.

 

Adaptive testing

Penilaian abad ke-21 diarahkan pada pengembangan keterampilan siswa, yang berarti setiap langkah pembelajaran perlu mendapatkan perhatian. Karena itu, dibutuhkan teknologi penilaian berbeda yang dapat membantu untuk menggambarkan kemampuan siswa dalam memahami langkah-langkah itu. Computer adaptive testing merupakan teknologi yang diharapkan dapat digunakan untuk kebutuhan di atas. Adaptive testing bekerja berdasarkan pada respons/jawaban siswa terhadap satu butir soal tes yang sudah dikalibrasi (calibrated item), apabila siswa berhasil menjawab butir soal yang disajikan, siswa yang bersangkutan akan dihadapkan pada soal yang lebih sulit dan kompleks, begitu seterusnya. Sebaliknya, apabila siswa yang bersangkutan gagal menjawab butir soal tes itu dengan benar, ia akan dihadapkan pada soal lain yang lebih sederhana/mudah. Jadi adaptive testing ialah desain penilaian untuk mengukur kemampuan siswa sesuai dengan tingkat pemahaman tiap individu siswa terhadap mata pelajaran yang diujikan (on target). Pada akhirnya, semua siswa tidak akan menyelesaikan soal-soal yang sama karena adanya perbedaan pemahaman/kemampuan terhadap materi yang diujikan dan karenanya, semua siswa dinilai secara lebih akurat dalam hal kemampuan mereka yang sebenarnya (Ester E dan Vista A: 2017).

Computer adaptive test dapat digunakan untuk berbagai tujuan, termasuk pengujian berskala besar dan high-stakes; penilaian formatif, yang digunakan untuk memberikan umpan balik/feedback kepada guru dalam proses pembelajaran, yang hasilnya juga dapat digunakan guru untuk memodifikasi teknik pengajaran; dan penilaian sumatif, yang digunakan guru untuk menentukan apa yang sudah bisa dipelajari siswa pada akhir unit, semester, atau tahun. Adaptive test juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi siswa yang mungkin memerlukan dukungan akademis khusus dalam keterampilan atau bidang studi tertentu, seperti membaca, atau matematika.

Untuk teknologi adaptive test ini, sebagaimana dilaporkan The Glossary of Educational Reform (2013), perkembangannya masih relatif baru meskipun riset tentang ini sebenarnya sudah dilakukan sejak permulaan 1990-an. Prospek pemanfaatan teknologi penilaian ini sebagai mana disebutkan dalam laporan lembaga mitra sekolah dan masyarakat di atas tampaknya juga cukup baik. Sebagai contoh, dua institusi penilaian utama di Amerika Serikat, seperti The Smarter Balanced Assessment Consortium dan The Partnership for Assessment of Readiness for College and Careers (PARCC), berkeinginan untuk menggunakan teknologi ini. Secara umum, computer adaptive test diadopsi sekolah-sekolah di beberapa negara bagian Amerika Serikat dengan empat pertimbangan; pertama, penilaian lebih tepat (appropriate), efisien, dan waktu yang dibutuhkan juga lebih sedikit sehingga guru dan siswa memiliki lebih banyak waktu yang dapat digunakan untuk kegiatan pembelajaran. Pada saat yang sama, tetap akan mendapatkan hasil tes yang sama akuratnya dengan tes tradisional atau malah bisa lebih akurat. Kedua, pertanyaan/soal tes menyesuaikan dengan pengetahuan dan kemampuan siswa sehingga menghindarkan siswa bergumul (stucked) dengan pertanyaan soal yang sulit atau sebaliknya, menghabiskan waktu pada pertanyaan soal yang terlalu mudah. Ketiga, tes dapat memberikan informasi yang lebih tepat dan cepat tentang kebutuhan belajar siswa, yang dapat digunakan guru untuk menyesuaikan pengajaran dan meningkatkan dukungan akademik bagi siswa. Keempat, keamanan ujian dapat ditingkatkan karena tidak semua peserta tes mengerjakan pertanyaan soal yang sama.

Jika dikatakan bahwa penilaian adalah masalah perkiraan atau approximations, adaptive test dapat menghasilkan data-data yang lebih dekat dengan gambaran kemampuan siswa yang sebenarnya. Wallahu a'lam.

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More