Minggu 25 Agustus 2019, 13:48 WIB

Trump Klaim Bisa Hentikan Bisnis AS di Tiongkok

Ihfa Firdausya | Internasional
Trump Klaim Bisa Hentikan Bisnis AS di Tiongkok

AFP
Presiden AS Donald Trump saat bertemu Presiden Prancis Emmanuek Macron dalam pertemuan G7 di Prancis, Minggu (25/8).

 

PRESIDEN Donald Trump mengklaim bahwa ia memiliki hak mutlak untuk memerintahkan perusahaan-perusahaan AS berhenti berbisnis dengan Tiongkok. Trump akan melibatkan penggunaan otoritas eksekutifnya yang luas dengan cara yang baru dan belum pernah terjadi sebelumnya di bawah undang-undang tahun 1977.

Ketika meninggalkan Gedung Putih untuk menghadiri KTT G7 di Prancis, Trump mengatakan kepada wartawan bahwa dia memiliki hak mutlak untuk melakukan itu.

"Tetapi kita akan lihat bagaimana hasilnya," ujar Trump, Sabtu (24/8).

Dia kemudian menjelaskan tentang  Undang-Undang Kekuatan Ekonomi Darurat Internasional (IEEPA) 1977 dalam cuitannya yang ditulis pada Jumat (23/8).

"Untuk semua Reporter Berita Palsu yang tidak memiliki petunjuk tentang apa hukum relatif terhadap kewenangan Presiden, China, dll., coba lihat Undang-Undang Kekuatan Ekonomi Darurat 1977. Kasus ditutup!"

Wewenang ini telah sering digunakan. Hingga kini sudah ada 54 darurat nasional, 29 di antaranya sedang berlangsung. Dalam penggunaan pertama UU IEEPA, selama krisis sandera Iran pada 1979, Presiden Jimmy Carter menjatuhkan sanksi perdagangan terhadap Iran dam membekukan aset Iran di AS.

Stephen Vladeck, profesor hukum di University of Texas, mengatakan kepada CNN Mei lalu bahwa apa yang ingin dilakukan Trump mungkin berada dalam wewenang Kongres.

"Gagasan di balik otoritas ini adalah bahwa Presiden memiliki posisi yang lebih baik untuk membuat penentuan semacam itu daripada Kongres. Jadi saya pikir keputusan Presiden mungkin ada dalam undang-undang ini. Namun, saya sangat meragukan pelaksanaan otoritas semacam ini seperti apa yang ada dalam pikiran Kongres," kata Vladeck kepada CNN pada saat itu.

baca juga: Ribuan Tentara Brasil Dikerahkan Atasi Kebakaran Hutan Amazon

Sebelumnya pada Jumat (23/8), Tiongkok meluncurkan babak baru tarif pembalasan atas barang-barang AS senilai US$75 miliar. Itu merupakan peningkatan terbaru dalam perang dagang yang sedang berlangsung dan memberi tekanan pada dua negara ekonomi terbesar dunia itu. Sebagai tanggapan, Trump menulis di Twitter Jumat malam: "Perusahaan-perusahaan besar Amerika dengan ini diperintahkan untuk segera mulai mencari alternatif selain China, termasuk membawa perusahaan Anda kembali ke rumah, dan membuat produk Anda di AS." (OL-3)

 

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More