Minggu 25 Agustus 2019, 13:05 WIB

Dengan Investasi Rp800 Miliar, BJB Luncurkan Digital Banking

Mirza Andreas | Ekonomi
Dengan Investasi Rp800 Miliar, BJB Luncurkan Digital Banking

Antara/Raisan Al Farisi
Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil bersama Direktur Utama Bank BJB Yuddy Renaldi menunjuk logo Bank BJB.

 

PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan bannten Tbk (BJB) siapkan Rp800 miliar untuk penguatan infrastruktur digital. Rencananya, PT BJB akan luncurkan layanan perbankan digital pada akhir Agustus ini.

"Kita siapkan investasi sekitar Rp800 miliar. Namun tidak dilakukan sekaligus tapi bertahap (multiyears) hingga 2022 mendatang. Untuk tahun ini, kami terus mengkaji dengan melihat kemampuan finansial perusahaan," kata Direktur Utama PT BJB Yuddy Renaldi di Bali, kemarin.

Di sela-sela kegiatan Media Gathering tersebut, Yuddy menyatakan pihaknya sudah memfokuskan diri pada tiga hal dalam persiapan peluncuran layanan perbankan secara digital tersebut, termasuk pengembangan e-money server based untuk transaksi menggunakan QR Code.

Persiapan pertama, ujarnya, pihaknya langsung mereposisi sejumlah kegiatan bisnisnya. Ke depan, PT BJB akan mengembangkan bisnis pada sektor produktif yang mendorong perekonomian di Jawa Barat dan Banten, sambil tetap mempertahankan pangsa pasar captive market.

Fokus kedua, perseroan mereorganisasi yang tercermin dalam penyesuaian struktur organisasi guna mendukung implementasi dari strategi yang ditetapkan perseroan.

Persiapan ketiga, re-engineering teknologi informasi. Pada persiapan ini, PT BJB akan terus memperkuat infrastruktur, penggunaan, dan pengembangan teknologi yang tepat dari sisi waktu dan kualitas dengan memperhatikan aspek user experience dan customer behavior.

"Lompatan besar sudah harus dilakukan seiring dengan pergeseran perilaku masyarakat ke arah digital. Iindustri perbankan pun dituntut untuk terus melakukan inovasi dalam rangka merespons kebutuhan konsumen. Bagi yang lamban mengadaptasi perubahan, ia akan tergilas seiring berjalannya waktu," tandas Yuddy.

PT BJB, sambungnya, terus memperkuat layanan perbankan digital untuk percepatan bisnis dan peningkatan layanan kepada nasabah.

Untuk jangka pendek, BJB melakukan akselerasi produk dan layanan elektronik serta digital banking, termasuk pengembangan e-money server based untuk transaksi menggunakan QR Code. Perluasan fitur mobile banking, yakni BJB Digi, juga dilakukan agar yang lebih user friendly.

Begitu juga dengan integrasi bisnis digital bersama perusahaan fintech, e-commerce, dan self-service banking machine atau e-kiosk.

Sedangkan untuk pengembangan jangka panjang, PT BJB mengoptimalkan kolaborasi dengan pemerintah daerah dalam bentuk elektronifikasi layanan pengelolaan keuangan daerah, antara lain digitalisasi layanan publik dan pemerintah serta mendukung Program Smart City.

Optimalisasi kolaborasi itu dilakukan di tengah berjalannya beberapa program kolaborasi dengan pemerintah daerah yang saat ini telah berlangsung, antara lain layanan PBB-P2, E-Samsat, T-Samsat, Samsat J'bret, Sambat, IBC dan KKP.

"Persiapan QR Code Bank BJB sendiri sudah rampung dan akan di-launching pada akhir Agustus 2019, ini jadi bagian lompatan digital banking kami," kata Yuddy.

Sebagai BPD terbesar dan menjadi trend setter BPD lain di Indonesia, lanjut diai, perseroan berupaya menuju cashless society dari kebiasaab saat ini yang konvensional.

"Tujuannya adalah ingin memberikan nilai tambah kepada konsumen," kata Yuddy Renaldi.

Di kesempatan yang sama, Direktur IT, Treasury dan International Banking Bank BJB, Rio Lanasier, menambahkan, untuk penguatan sistem IT, pihaknya bakal mengalokasikan sekitar 10% dari laba tahunan. Sebagai gambaran, laba tahunan 2018 sebesar Rp1,5 triliun.

Menurut dia, konsep yang bakal diterapkan adalah memperkuat infrastruktur yang ada. Saat ini, infrastruktur IT sudah cukup baik, tinggal dirapikan, termasuk rencana penggunaan cloud. Sehingga, mobile banking bisa untuk melakukan semua transaksi.

"Teknologi saat ini berkembang lebih cepat. Bahkani perkembangan aplikasi mobile sudah cukup cepat. Kalau kami tidak mengembangkan IT ini, 5 sampai 10 tahun lagi kami akan tertinggal," ujarnya. (Msc/BY/OL-09)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More