Minggu 25 Agustus 2019, 12:38 WIB

Surat Online Buat Warga Papua: Indah Pagi Merekah

Gantyo Koespradono, Anggota Majelis GKJ Tangerang dan penggiat media sosial. | Opini
Surat Online Buat Warga Papua: Indah Pagi Merekah

Antara
Ilustrasi

SAUDARA-saudaraku sebangsa dan setanah air di Papua Barat yang saya sayangi dan pastinya dikasihi Tuhan Yang Maha-Agung, Perkasa dan Mulia. Izinkan saya menulis surat terbuka (online) kepada kalian. Semoga kalian berkenan membaca dan merenungkannya di mana pun kalian berada. Saya menulis surat ini pada hari Minggu (25 Agustus 2019). Kepada saudara-saudaraku di tanah Papua yang Kristen (Protestan, Katolik, Pentakosta, Injili, Kharismatik, dan lain-lain), saya ucapkan selamat hari Minggu dan selamat beribadah. Kiranya kasih Allah dalam sosok Kristus menyertai dan terus melekat di hati kalian.

Aha, pada hari nan-indah ini, saya kok jadi ingat lagu yang tertuang dalam Kidung Jemaat Nomor 337 berjudul Betapa Kita Tidak Bersyukur. Izinkan saya kutip syair yang diciptakan Subronto Kusumo Atmodjo (1979) itu sebagai berikut:

1. Betapa kita tidak bersyukur bertanah air kaya dan subur;
lautnya luas, gunungnya megah, menghijau padang, bukit dan lembah.

Itu semua berkat karunia Allah yang Agung, Mahakuasa;
Itu semua berkat karunia Allah yang Agung, Mahakuasa.

2. Alangkah indah pagi merekah bermandi cahya surya nancerah, ditingkah kicau burung tak henti, bunga pun bangkit harum berseri.

3. Bumi yang hijau, langitnya terang, berpadu dalam warna cemerlang; indah jelita, damai dan teduh, persada kita jaya dan teguh.

Puji Tuhan, Allah Mahabesar! Berkat karunia Allah itu dicurahkan tanpa batas kepada bangsa Indonesia, tidak terkecuali saudara-saudaraku di Papua, juga Papua Barat.

Syair indah yang tertuang dalam tiga bait lagu itu, semuanya ada di Papua. Ya, semuanya ada di Papua. Selayaknya kita bersyukur.

Saudara-saudaraku di Papua, khususnya Papua Barat yang saya cintai. Beberapa kali saya ke Papua. Yang membuat saya takjub, tanah yang sejak dulu hingga saat ini kalian pijak, suburnya bukan kepalang. Suatu kali saat saya ke sana, saudara-saudara kalian menyuguhi kami jagung rebus. Ya ampun, jagung rebus nan-gurih itu, selain terasa nikmat, juga berukuran raksasa sebesar kaki bagian bawah orang dewasa.

Saya juga pernah ke Tembagapura, Kabupaten Mimika, tempat di mana PT Freeport bercokol. Saya sempat turun ke lubang raksasa tempat di mana perusahaan asal Amerika itu mengeksplorasi sumber emas. Saya kagum, sekaligus membayangkan kapan kekayaan alam anugerah Allah buat bangsa Indonesia itu dimiliki bangsa Indonesia?

Puji Tuhan! Berkat keberanian Bapak Joko Widodo (Jokowi), presiden pilihan Anda, lambat laun, kita ikut memiliki perusahaan tambang raksasa itu. Posisi kita bukan lagi sebagai jongos, melainkan tuan. Bahwa proses untuk menjadi tuan, di sana sini terdapat kekurangan, mohon dimaklumi, sebab mengalihkan saham kurang dari 20 persen menjadi di atas 50 persen, bukan perkara mudah.

Kita memang senang. Namun, pihak yang tidak senang tentu banyak, dan bukan tidak mungkin mereka yang tidak senang atau kecewa, dengan berbagai cara akan mengganggu kita lewat fitnah, provokasi, hoaks dan aksi jahat lain yang mungkin (jika kita tidak waspada) membuat kita lupa diri, lalu emosi kita terpancing. Ujung-ujungnya rusuh.

Jika itu yang terjadi, percayalah, pasti akan muncul orang-orang liar (jahat) yang berusaha menunggangi sambil terus bersorak-sorak gembira, karena misi si penjahat berhasil.

Celakanya kita, termasuk kalian yang cinta NKRI, tidak menyadari bahwa sang penunggang sedang bersiap-siap memetik hasilnya dan kita tidak pernah mendapat apa-apa. Mereka sukses menjadi dalang dan kita tetap menjadi wayang. Saudara-saudaraku sebangsa dan setanah air di Papua yang dikasihi Allah nan penuh berkat dan berkat itu sudah dicurahkan kepada kita. Bumi Papua yang indah, kaya dan subur adalah milik kita (Indonesia), milik kalian.

Sejarah mencatat bahwa Papua kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi setelah melalui perjuangan berat semasa Presiden Soekarno memimpin negeri ini. Air mata dan darah tertumpah. Sejumlah pahlawan meregang nyawa. Itu terjadi di era tahun 1960-an, saat di mana banyak di antara kita yang belum lahir. Fakta tidak bisa dimungkiri, dalam perjalanan berikutnya, Papua dan kalian memang sempat dilupakan atau dianaktirikan. Anggap ini sebagai ujian.

Apa-apa mahal. Harga BBM yang di Pulau Jawa Rp 6.000-an, di tempat kalian bisa Rp 60.000-an, bahkan ratusan ribu rupiah. Di Jawa, harga semen yang cuma Rp 50.000, di tempat kalian bisa sampai jutaan rupiah. Lagi-lagi berkat keberanian sang "juru selamat" Presiden Jokowi, lambat laun kalian mulai diperlakukan lebih manusiawi, harga BBM sama berlaku buat semua. Bukankah ini sebuah mujizat? Tuhan memakai Presiden Jokowi untuk menyejahterakan kalian yang sebelumnya dilupakan.

Tapi, ingat lho, mujizat tidak selalu datang tiba-tiba. Mujizat juga perlu proses. Ingat fakta mujizat yang diterima Nabi Musa saat Tuhan menjanjikan tanah perjanjian, membebaskan dari perbudakan di Mesir? Allah membiarkan Musa dan anak buahnya berputar-putar tak tentu arah hingga 40 tahun. Ya 40 tahun! Kalian tentu protes, "tapi kami sudah 74 tahun!"

Mari kita tengok lagi perjalanan kita. Sudahkah kita mengisi kemerdekaan bangsa kita yang telah berusia 74 tahun? Sudakah kita menempuh pendidikan dengan serius? Betapa seringkah kita tersinggung? Apa yang kalian dengar dari peristiwa di Surabaya, Malang dan Makassar memang "menyakitkan" (saya sengaja menggunakan tanda petik).

Namun, apakah kalian harus menyimpannya di dalam hati dan menjadi bara yang tak kunjung padam, sementara ada sejumlah tokoh yang dengan tulus telah menyampaikan permohonan maaf? Khusus buat kalian murid Kristus, bukankah Yesus telah mengajarkan Doa Bapa Kami yang indah itu: "Ampunilah kesalahan kami seperti kami juga telah mengampuni orang yang bersalah kepada kami."

Sudahkah kita memaafkan? Bersyukurlah. Lihatlah hutan berwarna hijau nan lebat di tempat kamu berada, sementara di tempat lain begitu gersang. Saksikan air nan biru dan hijau serta batu karang raksasa di Raja Ampat. Bukankah ini anugerah dan karunia Allah Yang Agung dan Mahakuasa? Indah, bukan? Yuk, kita tatap masa depan. Lupakan kata-kata dan peristiwa yang mungkin menyakitkan kalian. Lupakan referendum rekayasa para pendompleng yang membuat pihak asing senang.

baca juga: Sepi ing Pamrih Rame ing Gawe

Tuhan mengaruniakan Papua buat Indonesia, buat kalian dalam bingkai NKRI. Kalian masih belum puas? Salurkan pada tempat yang benar. Percayalah Presiden Jokowi pasti mendengar dan berbuat untuk kesejahteraan kalian demi Indonesia tercinta. Mari kita songsong pagi indah yang terus merekah. Tuhan memberkati Papua dan Indonesia.

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More