Minggu 25 Agustus 2019, 03:40 WIB

Bidasan Bahasa Sakti

Riko Alfonso | Weekend
Bidasan Bahasa Sakti

ilustrasi Wikipedia
Buku Kamus Besar Bahasa Indonesia

SAKTI. Kata ini masih memiliki kedudukan yang kuat di benak masyarakat Indonesia hingga saat ini. Masyarakat kita pada umumnya masih memercayai semua hal yang berbau sakti meski harus berseberangan dengan nalar. Istilah-istilah macam dukun sakti, orang sakti, keris sakti, atau semua kata yang dilekatkan dengan kata sakti, entah mengapa mampu menarik masyarakat untuk memercayainya atau paling tidak tertarik untuk mengamatinya.

Kata sakti sering dianggap sama dengan kata ajaib. Padahal kedua kata ini berbeda makna. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata sakti memiliki tiga arti, yakni 1) mampu (kuasa) berbuat sesuatu yang melampaui kodrat alam; mempunyai kesaktian; 2) mempunyai kuasa gaib; bertuah; 3) keramat. Adapun ajaib memiliki arti, ganjil; aneh; jarang ada; tidak seperti biasa; mengherankan.

Ajaib atau keajaiban biasanya berhubungan dengan fenomena. Adapun sakti atau kesaktian berhubungan dengan kemampuan di atas rata-rata suatu benda atau orang yang didapat dari serangkaian laku, percobaan, latihan, dan pantangan yang sangat berat .

Berbeda dengan keajaiban, kesaktian membutuhkan adanya pembuktian. Kesaktian harus bisa dibuktikan melalui serangkaian tes. Wim Hof, misalnya. Dia dijuluki manusia es karena daya tahannya terhadap suhu dingin yang ekstrem. Selain memiliki 20 rekor dunia, Hof juga mampu memecahkan rekor mandi es selama 1 jam, 13 menit. Dengan serangkaian tes itu, Hof layak disebut manusia sakti karena sudah membuktikan kemampuannya di atas rata-rata.

Pancasila juga dianggap sakti karena sudah mengalami serangkaian uji coba ketahanan sebagai falsafah bangsa sejak awal kemerdekaan hingga kini. Puncaknya saat terjadi pemberontakan partai komunis pada September 1965, yang dapat digagalkan rakyat dan TNI pada 1 Oktober 1965. Oleh karena itu, diperingatilah tanggal 1 Oktober ini sebagai Hari Kesaktian Pancasila.

Kata sakti juga dipakai untuk istilah surat sakti. Surat sakti ialah 'surat atau memo yang berisi dispensasi untuk memperlancar semua urusan'. Istilah ini biasanya dipakai dalam urusan birokrasi di pemerintahan. Dengan memakai surat sakti, terbukti semua urusan di birokrasi menjadi lancar meski tidak dengan cara yang benar.

Sayangnya, faktor pembuktian ini kerap dilupakan masyarakat. Akibatnya, banyak penipu yang dengan mudah memanfaatkan kata sakti ini untuk memperdaya masyarakat. Dimas Kanjeng Taat Pribadi, misalnya. Pada awalnya banyak masyarakat yang percaya dengan kesaktian Dimas Kanjeng yang bisa menggandakan uang. Akan tetapi, pada akhirnya dia pun terbukti hanyalah seorang penipu.

Pada Pilpres 2019 lalu, saya cukup salut dengan tim sukses pasangan calon presiden dan calon presiden Joko Widodo-Ma'ruf Amin dalam hal publikasi. Saat kampanye, tim tersebut mengistilahkan 'kartu sakti' untuk program tiga kartu yang dijanjikan Jokowi apabila dirinya terpilih kembali sebagai presiden. Pemilihan diksi sakti dalam kampanye 'kartu sakti' itu nyatanya mampu menarik perhatian rakyat untuk kembali memilih Jokowi.

Akan tetapi, jangan lupa, pemakaian kata sakti butuh konsekuensi adanya pembuktian. Apalagi ternyata, menurut Jokowi, program itu baru bisa terealisasi di 2020. Kredibilitas Jokowi-Amin dipertaruhkan untuk bisa membuktikan 'kesaktian' kartu-kartu yang mereka tawarkan itu. Pada akhirnya rakyat pula nanti yang akan menilai.

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More