Minggu 25 Agustus 2019, 03:20 WIB

Kolaborasi Mahabharata ala Hiroshi Koike

Ardi Teristi Hardi | Weekend
Kolaborasi Mahabharata ala Hiroshi Koike

MI/ARDI TERISTI HARDI
Kolaborasi Mahabharata ala Hiroshi Koike

Epos yang telah berusia lebih dari 4.000 tahun ini memang tak pernah usang untuk direproduksi. Bahkan, setiap tempat memiliki versi masing-masing tentang Mahabharata.

"MEREKA saling berebut dan berperang. Akhirnya semuanya mati," sepenggal narasi tersebut menjadi pembuka bagian awal pentas teater bertajuk Jembatan tak Berujung-Mahabharata 1.5 yang digelar di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta (TBY), pada 22 Agustus 2019.

Mahabharata karya sutradara asal Jepang Hiroshi Koike yang dipentaskan dalam kurun waktu dua hari, 22 dan 23 Agustus, mencoba menggabungkan banyak versi cerita Mahabharata yang ada di beberapa negara di Asia. Ia pun memasukkan elemen seni tradisi dari berbagai berbagai negara, baik tradisional maupun modern, sehingga membuat pertunjukannya terasa semakin kaya.

Cerita diawali dengan turunnya Dewi Gangga yang menjelma menjadi manusia. Ia kemudian menikah dengan Sentanu, yang kelak menjadi leluhur dari para Pandawa dan Kurawa yang terlibat dalam perang Mahabharata.

Hampir tepat 3 jam pentas teater tersebut disajikan dalam dua bagian. Di tengah-tengah pentas, penonton diberi waktu jeda sekira 15 menit. Cerita ditutup saat Arjuna mengeluarkan busur panahnya untuk membela kerajaan Wirata yang sedang diserang Kurawa.

Beberapa hari sebelum pentas, Hiroshi menjelaskan, Mahabharata 1.5 yang ditampilkan di Yogyakarta ini bercerita sejak dewa-dewa turun ke bumi dan kemudian jatuh cinta hingga melahirkan keturunan-keturunan mereka. "Bagaimana mereka (para karakter) berubah hingga nanti akhirnya terjadi perang dan semua mati. Pentas ini mengekspresikan proses itu," papar Hiroshi.

Kolaborasi Asia

Proses latihan Mahabharata 1.5 yang dipentaskan di Taman Budaya Yogyakarta sudah dimulai sejak 2 Juli. Melalui karyanya itu pula Hiroshi menyatukan seni dan budaya bangsa-bangsa di Asia lewat 11 aktornya, yaitu empat dari Indonesia, tiga dari Jepang, dua dari India, serta masing-masing dari Malaysia dan Thailand.

Ada sembilan bahasa yang digunakan. Ya, masing-masing pemain menggunakan bahasa ibu mereka, termasuk bahasa Jawa, Inggris, dan Bali. Musik yang digunakan pun beragam, dari musik tradisi seperti Jawa dan India, hingga beatbox, rap, dan rock.

Para aktor dalam pentas ini tidak hanya dituntut bisa menari dan berakting, tetapi juga dituntut bisa menyanyi. Bahkan, aktor-aktor dari luar Indonesia pun di beberapa bagian juga harus bisa berbahasa Jawa ataupun Indonesia sesuai dengan naskah.

Satu aktor bisa memainkan lebih dari tiga karakter. Untuk membedakan karakter yang dimainkan, mereka mengenakan topeng.

Gagasan pertunjukan Mahabharata yang dipentaskan di TBY ialah sebuah gagasan karya pertunjukan untuk menunjukkan pada dunia budaya asli Asia dan kekayaan Asia pada dunia Barat. Karya ini menjadi karya Mahabharata dalam bentuk baru yang menggabungkan Mahabharata chapter 1 & 2 dengan mengolah kembali naskah dan bentuk pertunjukan menjadi lebih padat.

Meskipun cerita Mahabharata sangat tua dan panjang, ketika menyimaknya lebih saksama, dunia kita saat ini memiliki kemiripan yang kuat dengan dunia Mahabharata, misalnya, tentang nafsu birahi ataupun nafsu berkuasa.

"Kita melihat ada banyak masalah di seluruh dunia, misalnya, keterasingan, kemiskinan, pengungsi, perang, kebencian, diskriminasi, kesenjangan besar antara orang kaya dan miskin, orang-orang terbuang, dan kekuasaan besar," kata dia.

Menurut dia, sangat sulit bagi kita untuk membayangkan mengelola dunia semacam ini. Setelah manusia memiliki teknologi ilmiah dan senjata nuklir yang kuat, kita harus mengembangkan dan membangun diri kita bagi anak-anak di seluruh dunia demi melindungi kehidupan mereka.

Bagi Produser Pelaksana, Kusworo Bayu Aji, menjelaskan, khusus pertunjukan ini, seniman Yogyakarta banyak terlibat menggarap artistik, musik, dan kostum. Tantangan yang dihadapi dalam mengemas pentas kali ini ialah membuat pentas lebih greget dan menghibur dari pementasan sebelumnya sehingga penonton tak bosan menonton pertunjukan dari pukul 20.00-23.00 WIB.

Sejak 2013

Pentas Mahabharata yang dikerjakan Hiroshi Koike sudah dimulai sejak 2013 di Kamboja dan Vietnam, tempat saat tragedi besar pernah terjadi dalam sejarah Asia modern. Pentas ini merupakan proyek penciptaan berkelanjutan selama tujuh tahun.

Setiap tahun, cerita yang ditampilkan berkembang di India, Jepang, Indonesia, dan Thailand. Bersama KIKH Bridge Project, ia sudah melakukan tur ke 19 kota di Asia.

Hiroshi Koike memulai proyek Mahabharata untuk mencari tahu apa yang dimaksud dengan manusia dan potensinya. Semua gagasan ini muncul setelah dia berefleksi saat bencana gempa dan tsunami di pembangkit nuklir Fukushima pada 2011.

Karya Hiroshi Koike merupakan sebuah karya dari proses yang panjang yang sejak awal digagas Hiroshi Koike (KIKH Bridge Project) sebagai sebuah kerja kolaborasi berbagai negara Asia. Pada 2013, Mahabharata chapter 1 dipentaskan di Kamboja dan Vietnam. Pada 2014, Mahabharata chapter 2 dipentaskan di India, Malaysia, dan Indonesia. Pada 2015, Mahabharata chapter 2.5 dipentaskan di Thailand, Tiongkok, Filipina, dan Jepang. Pada 2016, Mahabharata chapter 3 dipentaskan di Indonesia. Pada 2017, Mahabharata chapter 4 dipentaskan di Thailand dan Jepang.

Setelah produksi dan pertunjukan di Yogyakarta tahun ini, Mahabharata gabungan dari bagian 3 dan 4 akan dipentaskan di Tokyo dan Okinawa Jepang pada Juli, tepat sebelum Olimpiade Tokyo 2020.

Selanjutnya, pada 2020, akan dihadirkan sekuel lanjutannya, yaitu Mahabharata 2.5, yang akan dipentaskan di Tokyo, Jepang. Kemudian, sekuel akhirnya, Completion Mahabharata, yang rencananya akan dipentaskan keliling di beberapa negara. (M-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More