Sabtu 24 Agustus 2019, 18:11 WIB

Dampak Kekeringan, Warga Ibu Kota Mulai Beli Air Bersih

Ferdian Ananda Majni | Megapolitan
Dampak Kekeringan, Warga Ibu Kota Mulai Beli Air Bersih

ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja
Level muka air di aliran Kanal Banjir Barat (KBB) surut.

 

DAMPAK kekeringan mulai dirasakan warga Pejagalan, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara. Salah seorang warga Suherman mengaku air sumur yang biasa ia gunakan untuk keperluan MCK (mandi cuci kakus) kini mulai berkurang. Sebab, air sumur itu mulai berubah warna dan aromanya.

"Air di sini memang asin ya, ngak bisa buat minum. Tetapi beberapa hari lalu warnanya keruh dan berbau," kata Suherman, Sabtu (24/8).

Suherman menjelaskan, biasanya untuk kebutuhan sehari-hari ia memanfaatkan kedua sumber air tersebut. Namun, sejak air sumurnya mulai keruh ia tidak menggunakannya lagi.

"Untuk minum dan masak memang pakai air PAM, tetapi sekarang semua sudah pakai air PAM," sebutnya.

Baca juga: Kemarau Panjang, Warga Diminta Untuk Bijak Dalam Menggunakan Air

Untuk mendapatkan air bersih. Ia membelinya dari pedagang air gerobak yang masuk ke pemukiman.

"Paling sekarang, belinya nambah," terangnya.

Meskipun demikian, dia tak memungkiri warga sekitar banyak yang menggunakan air PAM yang dibeli dari pedagang yang diantarkan dengan gerobak.

"Rumah kita kan dekat kali, jadinya air sumur memang ngak bagus, sering beli," lanjutnya.

Nasmudin, salah seorang penjual air gerobak mengatakan ia biasanya menjual ke kawasan Ruko Harmoni Mas Blok C/6, jalan Jembatan Dua, RT.1/RW.3, Pejagalan, Penjaringan.

"Ada banyak penjual, kita masing-masing udah ada langganan, tinggal antar," sebutnya

Nasmudin mengaku pasokan air bersih yang dibeli terdapat di Jalan Teluk Gong Raya, Rayon Usaha Muara Karang. Katanya, pasokan air dari PALYJA masih normal.

"Air masih normal, ngak macet. Kita juga ngantar lancar aja," terangnya.

Saat ini ia menjual air bersih itu kisaran harga Rp2000 per jerigen. Sehari ia bisa mengantarkan 100 jerigen air bersih ke pelanggan. Sebab sekali jalan, dia bisa membawa 20 jerigen dalam gerobaknya.

"Kalau jaraknya jauh, kita jualnya bisa lebih mahal, tapi standarnya Rp2 ribu satu jerigen, biasanya paling dikit mereka ambil dua," lanjutnya.

Meskipun sejauh ini pasokan air normal. Dia menambahkan pernah pasokan air terhenti ketika beberapa waktu lalu terjadi pemadaman listrik di wilayah tersebut.

"Ada, sampai 3 hari air ngak normal. Mungkin pompa air juga mati karena listrik mati," terangnya.

Tak menutup kemungkinan, permintaan air bersih akan meningkat. Kata Nasmudin, apabila kemarau panjang masih berlanjut hingga bulan depan.

"Sekarang masih ada yang pakai air tanah, tapi kalau ngak hujan pasti kering," pungkasnya.

Diketahui Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, lewat Stasiun Klimatologi Tangerang Selatan, mengeluarkan peringatan dini ancaman kekeringan yang melanda sebagian besar wilayah DKI Jakarta dan Banten.

Wilayah itu mengalami deret hari tanpa hujan (HTH) atau hari kering lebih dari 20 hari hingga lebih dari 60 hari.

Dampaknya, akan terjadi pengurangan ketersediaan air tanah, sehingga menyebabkan kelangkaan air bersih. (OL-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More