Minggu 25 Agustus 2019, 00:20 WIB

Sepi ing Pamrih Rame ing Gawe

Ono Sarwono | Opini
Sepi ing Pamrih Rame ing Gawe

MI
Pigura

HARI-HARI menjelang pengumuman Kabinet Indonesia Kerja II, kita disuguhi ‘keusrekan’ sejumlah elite parpol tertentu yang terang-terangan meminta jatah jabatan menteri kepada presiden terpilih.

Mereka (parpol) ialah yang merasa telah berjasa bahasa yang kerap digunakan ‘sudah berkeringat’, bahkan ada dengan diksi ‘berdarah-darah’ memenangkan capresnya. Ada yang terang-terangan meminta ‘upah’ jabatan kursi menteri dengan jumlah tertentu. Ada pula yang sampai berteriak minta jatahnya harus paling banyak.

Nalarnya, tidak ada yang salah dengan semua itu karena tujuan berpolitik memang berebut kekuasaan (jabatan). Namun, dari aspek moral, tentu nurani masing-masing yang bisa menjawabnya. Hanya, bila secara konstitusional, ramai-ramai meminta jatah, bahkan bernuansa mendesak, itu tentu mengusik hak prerogatif presiden. Etikanya, mesti kita menjaga dan menghormati kemerdekaan serta kenyamanan presiden dalam memilih para pembantunya.


Anak pertama Basudewa

Sikap menghormati hak pemimpin memilih orang-orang kepercayaannya seperti itu pernah dicontohkan Raden Udawa dalam dunia pakeliran. 

Kesatria dari Dusun Widarakandang ini pantang mengemis imbalan kedudukan atau jabatan atas jasanya ikut mengantarkan jagonya menjadi raja. Jabatan patih yang pada akhirnya ia emban, itu bukan keinginannya, melainkan semata-mata keputusan merdeka sang raja. 

Kisah Udawa dari sudut (nilai) itu memang jarang dipentaskan. Ini barangkali karena Udawa nyaris tidak pernah menjadi tokoh sentral dalam banyak lakon. Namun, bila menilik dedikasi, pengabdian, dan pengorbanannya bagi peradaban, sepak terjangnya pantas dicontoh. 

Udawa orang kampung tulen. Sejak kecil hingga dewasa, ia bermukim di Dusun Widarakandang yang masih dalam kedaulatan Negara Mandura. Ia tercatat sebagai salah satu putra Demang Antagopa-Ken Sagopi. 
Namun sesungguhnya, Udawa bukan golongan pidak pedaraan (warga biasa), melainkan berdarah biru. Ia putra Raja Mandura Prabu Basudewa dari hubungan gelapnya dengan Ken Sagopi. 

Ceritanya, ketika Negara Mandura di bawah rezim Prabu Basukunti, istana memiliki seorang abdi dalem perempuan bernama Ken Yasuda. Ia perigel mengurus pekerjaan rumah tangga. Namun, karena memiliki bakat seni yang baik, ia diangkat menjadi penembang dan penari istana.

Selain piawai dalam olah seni suara dan menari, Yasuda juga berparas ayu dan memiliki tubuh yang indah semampai. Itulah yang membuat banyak lelaki jatuh hati padanya, termasuk putra mahkota Raden Basudewa. Maka itu, di mana Yasuda manggung, di sana Basudewa pasti ada menikmatinya.

Mungkin karena perbedaan kasta atau alasan lain, Basudewa tidak pernah menyatakan cinta kepada Yasuda. Pun sebaliknya. Namun, akibat Basudewa kerap tidak kuasa ngampah (mengendalikan) nafsunya, terjadilah hubungan suami-istri di luar nikah entah sudah berlangsung berapa kali hingga akhirnya Yasuda mengandung. 

Basudewa jadi bingung karenanya. Ia waswas kenistaannya diketahui publik sehingga merunyamkan nama baik dirinya, pun sang raja dan seluruh keluarga besarnya. Lebih dari itu, posisinya sebagai ahli waris takhta Negara Mandura, juga bisa terancam.

Ia lalu diam-diam merancang guna menutupi aibnya, yakni menyembunyikan Yasuda. Basudewa kemudian menemui teman seperguruannya, Antagopa, di Dusun Widarakandang. Ia meminta tolong Antagopa agar bersedia menikahi Yasuda. Karena kesetiaannya kepada teman dan calon raja, Antagopa menyanggupi. Padahal, ia sudah bersumpah wadat sehingga pernikahan itu hanyalah samudana (penyamaran). 

Untuk menyembunyikan jejak, nama Ken Yusuda diganti menjadi Ken Sagopi. Hingga harinya tiba, lahirnya jabang bayi laki-laki dari rahim Sagopi yang kemudian diberi nama Udawa. Ketika bayi lahir, Basudewa telah diangkat menjadi raja Mandura menggantikan bapaknya. 


Runtang-runtung

Waktu terus berjalan. Udawa bukan lagi menjadi anak tunggal Antagopa-Sagopi. Dalam keluarga itu kemudian ada Kakrasana, Narayana, dan Bratajaya, putra-putri sah Basudewa. Ketiga anak itu dititipkan di Widarakandang agar digulawentah Antagopa dengan nilai-nilai kampung.

Masih ada sejumlah nama lain dalam dokumen keluarga sebagai anak pasangan suami-istri ‘jadi-jadian’ tersebut, yakni Larasati (anak Aryaprabu-Sagopi) serta Pragota, dan Adimanggala (anak Ugrasena-Sagopi). Aryaprabu dan Ugrasena ialah adik kandung Basudewa.    
Di antara anak-anak dalam keluarga Atagopa-Sagopi, pergaulan Udawa dengan Narayana klop, sehati. Keduanya selalu runtang-runtung (bersama-sama) ke mana pun mereka dolan. Ketika tidur pun, mereka suka berada dalam satu lincak (dipan), pun soal selera makan dan minum.

Keeratan keduanya terus terjaga hingga remaja, menjelang dewasa. Tatkala Narayana gemar pergi meninggalkan rumah dan masuk keluar kampung hingga berlama-lama. Udawa selalu menemani, mendampingi, dan mengawal adiknya itu ke mana pun pergi, berapa pun lamanya.
Maka itu, ketika Narayana dimarahi Antagopa, Udawa juga kebagian. 
Namun, betapa pun keras bapaknya mengomeli, Udawa tidak pernah membantah atau membela diri. Ia lapang dada menerima setiap kemarahan, bahkan hukuman yang dijatuhkan Antagopa pada dirinya karena mengombyongi Narayana.

Namun, satu hal, yakni larangan pergi berlama-lama menemani Narayana tidak ia indahkan. Ini karena ia tahu bahwa Narayana meninggalkan rumah bukan mblayang (pergi tanpa tujuan), melainkan bertirakat, menjalani laku prihatin, dan juga berguru serta mencari ilmu.

Udawa menyadari, meski dirinya dari garis darah lebih tua daripada Narayana, ia merasa kalah dalam segala hal, terutama pada aspek kecerdasan lahir dan batin. Ia melihat ada tanda-tanda gaib bahwa Narayana bakal menjadi wong agung, orang besar.

Apa pun yang diinginkan, diucapkan, dan yang dilakukan Narayana, Udawa senantiasa mengamini, manut. Bahkan, tertanam dalam dirinya rasa tulus ikhlas mempertaruhkan jiwa raganya demi Narayana. 


Moral berpolitik

Kodratnya, Narayana menjadi raja di Negara Dwarawati. Kekuasaan itu ia genggam setelah berhasil menjadi duta dewa melenyapkan Raja Dwarawati Prabu Yudakalakresna. Sebelumnya, Yudakalakresna menjajah Kahyangan Jonggring Saloka tanpa bisa dihalau para dewa.
Ketika Narayana mendapat anugerah dewa dan bergelar Prabu Kresna itu, Udawa pun senang. Namun, ia merasa tidak etis meminta jabatan sebagai ‘upah’ dirinya telah berkeringat menjadikan Narayana.

Kresna pun tahu akan balas budi. Ia memberikan jabatan patih kepada Udawa. Malah, karena Kresna sering meninggalkan istana untuk melaksanakan misinya sebagai titisan Bathara Wisnu, yakni memayu hayuning bawana, Udawa kerap mendapat tugas mengurus negara.

Dalam konteks politik, Udawa telah menunjukkan etika perjuangan. Ia tahu diri dan menerapkan moral berpolitik. Kiprahnya yang demikian itu menjadikan Udawa sebagai satu dari sedikit kesatria yang teguh memegang ajaran mulia sepi ing pamrih rame ing gawe, minim berharap imbalan, banyak bekerja. (M-2)
 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More