Minggu 25 Agustus 2019, 00:00 WIB

Wujud Perenungan Teddy Adhitya

MI | Weekend
Wujud Perenungan Teddy Adhitya

Dok. Whistle Media
Penyanyi Teddy Adhitya

SELANG dua tahun setelah In Your Wonderland mendapat penghargaan Anugerah Musik Indonesia (AMI) 2017 sebagai Pendatang Baru Terbaik, Teddy Adhitya merilis album keduanya, Question Mark (?), Jumat (23/8). Album itu seolah-olah jadi medium perenungan baginya atas pertanyaan diri dan kehidupan.

Just You, yang berada di daftar kelima album Question Mark (?) bisa dianggap sebagai amunisi ­utama Teddy. Lagu ini menawarkan nuansa yang memberikan ruang meditatif untuk mempertanyakan tentang diri, sekaligus menjadi titik kesetimbangan dari total 10 lagu di album keduanya. Titik antara ia telah menemukan jalan yang dicari, tetapi rupanya ia masih mendapati pertanyaan lain setelah menemukan jalan.

Teddy memang begitu cerdas meramu trek-trek di album keduanya ini. Ia seolah-olah tengah menyodorkan novel dengan alur yang memiliki kejelasan pembuka, konflik, hingga kesimpulan penutup dari suatu kisah. 

Thinking, Thinking, dan Sweetly Silly yang jadi dua nomor perdana sekaligus dua lagu yang tercipta awal pada akhir 2017. Dari situ ia seolah tengah mengantarkan pendengar pada bab-bab yang akan menghadirkan konflik lewat Just You yang berlanjut pada kegusaran di 2 AM. 

Kulminasinya tentu pada The Answer yang punya potongan sampul lagu dengan sampul utama album. Trek akhir itu seolah-olah jadi representasi jawaban pertanyaan-pertanyaan yang terlontar. Seraya mengadukkan dengan pertanyaan yang lebih besar yang belum terjawab. 

“Di album kedua kontras secara lirik, lebih straight forward, gue tidak banyak menggunakan perumpamaan yang bertele-tele. Lebih story telling,” ungkap ­Teddy ketika ditemui seusai Private ­Hearing ­Session ­Question Mark (?) di ­Earhouse, Pamulang, Tangerang Selatan, Selasa (20/8).

Question Mark (?) direkam secara parsial beberapa fase. Direkam di alam terbuka di Bali dan Lembang, Bandung. Suatu pendekatan berbeda yang ia lakukan dengan album perdananya, yang justru secara intensif selama setahunan merampungkan trek-trek Nothing is Real. Lagu tunggal Why Would I Be jadi jembatan musikus asal Yogyakarta ini, dari album perdana yang lebih kental dengan warna gitar ke album kedua yang lebih bersandar pada eksperimen perluasan bebunyian, mulai sampling, alat instrumen, serta ambience alam. Pada album kedua ini pun lebih padat unsur synthesizer bila dibandingkan dengan album perdananya.

Album yang diproduseri dirinya bersama disjoki Kenny Gabriel ini direkam di studio alam selama tiga fase. Lagu-lagunya menurut penuturan Teddy juga tercipta beriringan selama periode 2017-2019.

Proses ini agaknya mendapat pengaruh dari penyanyi-penulis Dee Lestari. Diakui penyanyi berdarah Ambon ini, ia memegang pesan yang disampaikan Dee padanya pada 2016 saat vocal camp di Bali. 

“Semua karya akan punya nyawa ketika dia punya kesempatan untuk bertumbuh. Kata Mbak Dee Lestari saat membuat karya perlu waktu ­untuk diendapkan dulu nanti karya itu yang akan memberi tahu kebutuhan dan apa yang akan dilakukan.” (Jek/M-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More