Sabtu 24 Agustus 2019, 23:40 WIB

Disrupsi Bernama Era Streaming

Fathurrozak | Weekend
Disrupsi Bernama Era Streaming

Ist
Salah satu film produksi Hollywood

SEBELUM To All the Boys I’ve Loved Before, nama dan sosok Noah Centineo mungkin masih terdengar asing. Namun, setelah membintangi film romcom orisinal Netflix itu, ia sontak jadi idola para remaja. Noah seolah-olah jadi wajah baru representasi Netflix, yang lalu disambungnya dengan membintangi Sierra Burgess Is a Loser.

Namun, layanan streaming tersebut bukan sekadar pencetus bintang baru. Tidak sedikit pula bintang-bintang kawakan Hollywood yang kini beralih ke medium tersebut. Sebut saja Sandra Bullock dalam film produksi Netflix, Bird Box. Ada juga Will Smith, Jennifer Aniston, dan Robert de Niro.  

Netflix tayang di sekitar 190 negara di dunia dengan total seluruh pelanggan dunia 151 juta. Indonesia merupakan pengakses terbanyak menonton, dua kali lipat ketimbang pelanggan mana pun di negara lain lewat ponsel. Data tersebut disampaikan Direktur Produk dan Inovasi Netflix, Ajay Arora, pada awal Agustus ini.

Layanan streaming bukan hanya milik perusahaan asal AS itu. Di Indonesia, ada pula Viu atau Hooq. Dengan cerdas, mereka merangkul sineas dan pegiat perfilman di dalam negeri untuk merengkuh pasar di negara dengan populasi terbesar keempat dunia ini. 

Hooq, perusahaan rintis­an antara Singtel, Sony Pictures Television, dan Warner Bros, merambah pasar Asia sejak 2015. Penyedia konten OTT itu merilis produk orisinal, seperti series Brata yang dibintangi Oka Antara, Laura Basuki, dan Bisma Karisma. Juga adaptasi dari layar lebar milik Ernest Prakasa, Cek Toko Sebelah the Series. Hooq juga memproduksi film layar lebar Marlina si Pembunuh Empat Babak, yang belakangan sukses memanen 10 Piala Citra pada Festival Film Indonesia 2018.

Sementara itu, Hooq punya Marlina, Viu punya produksi film orisinalnya Kenapa Harus Bule?, yang dibintangi Putri Ayudya dan Michael Kho. Adapun produksi orisinal perdana Viu di Indonesia ditandai dengan kemunculan serial Switch, disutradarai Nia Dinata, dibintangi Karina Salim, Tatyana Akman, dan Morgan Oey. Setelahnya, menyusul The Publicist yang dibintangi Prisia Nasution dan Adipati Dolken, serta Halustik dengan bintang utama Tara Basro dan Lutesha.

Kehadiran para penyedia konten OTT atau subscription video on demand (SVOD) diakui memungkinkan para aktor dan karya sutradara disimak pasar yang lebih luas. “Saat aku main di Switch banyak pesan langsung (direct message) yang masuk dari penonton aku di Malaysia, jadi senang juga bisa memperluas penonton,” ungkap Karina Salim saat ditemui di Epicentrum, Jakarta, Selasa (13/8).

Ia pun menganggap platform penyedia SVOD akan menjadi masa depan cerah bagi dunia hiburan khususnya para konten kreator, seperti sutradara, penulis naskah, dan para aktor. “Masa depan akan ke SVOD karena akses gampang, bisa nonton di mana aja asal ada teknologinya dan koneksi internet. In a way, akan lebih istimewa daripada konten yang ada di televisi, tapi kualitasnya sama dengan film.”

Ditemui di tempat sama, sutradara Fajar Nugros, yang menggarap serial Rewrite di platform SVOD, turut mengamini. “OTT menurut aku masa depan film ya. Kelak mungkin orang ke bioskop hanya romantisme. Film bisa direct langsung ke OTT. Ya ini disrupsi. Orang sudah makin enggak ada waktu ke bioskop karena effort-nya terlalu besar.”

Baginya, SVOD menjadi peluang baru sebagai kekayaan medium dalam menyalurkan cerita. Bahkan, dari pengalamannya, ia menganggap platform VOD punya karakteristik yang tidak mengikuti pasar.

“Kenyataannya, karena belum diatur, jadi lebih leluasa dalam bentuk ceritanya. Kalau aku ngerjain untuk televisi misalkan, harus ikuti pasar. Film walau seideal mungkin juga masih harus ikut pasar. Karena OTT terkadang masih ciptakan market, jadi belum ada batasan sehingga menarik.”

Dalam kalkulasi sederhana, Nugros menyebutkan, bujet untuk menggarap satu serial yang diproduksi platform SVOD bisa separuh dari produksi film. “Tapi bujet juga biasanya tergantung dari konsep dan skenario.”


Dinamika pola kerja

Ketika di dalam negeri keberadaan platform SVOD disambut semringah, para pelaku industri hiburan di Hollywood merespons euforia serupa dengan kritis. Salah satunya, Jack Allison yang pada 2015 menjadi staf penulis acara The Jimmy Kimmel Show. Setiap dua tahun ia memperoleh sekitar US$208 ribu. Dia juga menerima residu, semacam sistem pembayaran dari jaringan TV kepada penulis, aktor, sutradara, dan produser karena stasiun menayangkan kembali program mereka. 

Kimmel hanya mengudarakan episode lama seminggu sekali di TV AS. Namun, Allison mampu mengumpulkan residu US$102 ribu.
Dalam laporan yang dipublikasikan Fast Company pada Oktober tahun lalu, kemunculan beberapa platform SVOD memang mengubah industri pertelevisian dan hiburan. Namun, sejauh ini yang menjadi lingkup perbincangan baru sebatas pengalaman pemirsanya, sedangkan para pekerja yang tengah terganggu mata pencahariannya dalam proses peralihan wajah tersebut belum menarik atensi.

Para pekerja pemula atau mereka yang berada di papan tengah, tampaknya justru tergilas nama-nama besar industri hiburan Hollywood.
“Ya, ada lebih banyak pembeli. Tetapi itu hanya berarti bahwa JJ Abrams memiliki lebih banyak tayangan. Pemain digital berkantung tebal, seperti Netflix, Amazon, dan sekarang Apple, bersedia dan punya sarana untuk membayar apa pun yang diperlukan untuk memasukkan daftar nama mereka,” beber Allison.

Meski demikian, Netflix juga tampaknya memberi ruang untuk beberapa produksi indie. Salah satu contohnya, Juanita yang rilis pada Maret lalu. 
“Ada saat ketika sebuah film indie hanya bisa pergi ke Blockbuster, dan saya pikir Netflix telah memberikan platform baru. Saya pikir sangat bagus bagi kita semua kreator memiliki rumah untuk film kita, karena jika tidak, kita mendapatkan satu pemutaran di IFC (pusat) atau satu di forum film, hanya itu,” kata sutradara Clark Johnson dikutip dari The Hollywood Reporter.

Fenomena binge watching yang terjadi saat ini juga ternyata berdampak pada pola kerja para pelaku di balik layar. Ketika dalam tayangan konvensional televisi mungkin akan membutuhkan 22 episode sepanjang tahun, dengan inovasi SVOD yang meluncurkan seluruh episode atau program sekaligus, mengindikasikan akan ada kekosong­an pekerjaan dalam setahun karena jumlah episode terpangkas menjadi sekitar 10, bahkan enam episode.

SVOD juga mengubah pola pengupahan. Pembayaran tambahan yang disebut sebagai sistem residu menjadi tidak ada lagi sebab ruang untuk tayangan diputar ulang di stasiun TV tidak ada. Karena perusahaan seperti Netflix juga tidak merilis angka penonton, pembayaran tidak didasarkan pada peringkat. Jadi, jika suatu tayangan menjadi hit besar, pembayaran residu tidak akan mencerminkan hal itu.

“Kerahasiaan seputar pemirsa benar-benar memengaruhi residu. Itu salah satu hal yang Netflix selipkan dan itu sangat merugikan residu kita,” kata aktris Allison Becker, bintang tamu berulang di Parks & Recreation. Becker mengetahui hal ini setelah punya acara anak-anak di Netflix. Di Parks & Recreation, sebagai bintang tamu ia menerima tarif mingguan sekitar US$3 ribu. Di Netflix, meskipun bekerja dua hari seminggu, ia dibayar dengan tarif harian, alih-alih mingguan yang lebih menguntungkan.

Satu-satunya harapan, menurut Fast Company ialah mungkin ada di Apple, yang punya sumber daya untuk mengalahkan Netflix dan Amazon. Kontribusinya yang paling signifikan terhadap perang streaming sejauh ini ialah membuka jalan bagi kesepakatan yang lebih baik bagi staf produksi. Apple menandatangani kerja sama dengan Writers Guild of America (WGA), menjadi perusahaan teknologi pertama yang menyetujui biaya skrip, minimum mingguan, dan residu untuk platform bebas-ke-konsumen. (M-2)
 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More