Sabtu 24 Agustus 2019, 15:30 WIB

Perang Dagang AS-Tiongkok, Apindo: Indonesia Bisa Ambil Peluang

Nur Aivanni | Ekonomi
Perang Dagang AS-Tiongkok, Apindo: Indonesia Bisa Ambil Peluang

ANTARA
Direktur Eksekutif Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Danang Girindrawardana

 

PERANG dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok kembali memanas dengan saling mengenakan tarif impor baru kepada komoditas masing-masing negara. Menanggapi itu, Direktur Eksekutif Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Danang Girindrawardana mengatakan Indonesia bisa mengambil peluang dagang di pasar Amerika Serikat.

"Indonesia bisa sedikit ambil benefit dari pasar AS karena produk Indonesia menjadi berpotensi bersaing lebih baik di AS. Peluang dari sebagian market share produk-produk made in Tiongkok di AS yang menjadi lebih mahal, khususnya produk consumer goods & raw materials," ujar Danang kepada Media Indonesia, Sabtu (24/8).

Sebagai informasi, Tiongkok mengumumkan akan mengenakan tarif impor kepada produk AS senilai US$75 miliar. AS kemudian juga merespons balik atas apa yang dilakukan Tiongkok. AS juga akan menaikkan tarif impor baru untuk produk Tiongkok senilai US$250 miliar menjadi 30% dari sebelumnya sebesar 25%. Juga, AS akan menaikkan tarif atas produk Tiongkok senilai US$300 miliar menjadi 15% dari sebelumnya 10%.

Baca juga: Perang Dagang AS dan Tiongkok Kian Memanas

Dengan adanya kebijakan tarif baru tersebut, kata Danang, ekspor Indonesia ke AS kemungkinan akan bisa naik lebih dari 20%. Itu bisa dilakukan dengan syarat adanya percepatan perbaikan iklim investasi di dalam negeri.

"Termasuk struktur supply chain domestik yang baik dan ekosistem ketenagakerjaan yang kondusif," imbuhnya.

Adapun dari sisi perdagangan dengan Tiongkok, lanjut dia, perang dagang AS-Tiongkok ini bisa membuat defisit perdagangan antara Indonesia dan Tiongkok lebih besar ke depannya. Pasalnya, pasar ekspor Indonesia ke Tiongkok akan semakin mengecil.

"Jadi performance ekspor Indonesia ke Tiongkok akan turun. Impor dari Tiongkok kemungkinan akan turun juga tapi penurunannya tidak sebesar penurunan performa ekspor kita ke Tiongkok. Jadi harus siap-siap pendalaman defisit neraca perdagangan bilateral dengan Tiongkok," jelasnya.

Selain perlu menemukan pasar ekspor baru bagi komoditas Indonesia, Danang menekankan tiga hal yang perlu diperhatikan oleh pemerintah, yaitu sistem regulasi pemerintah, perbaikan kondisi supply chain domestik dan ekosistem ketenagakerjaan.

"Dengan tiga hal utama itu, akan menumbuhkan produk-produk manufaktur kita yang kuat, berkualitas dan harga kompetitif sehingga siap bersaing di pasar internasional. Kita masih lemah dalam tiga hal itu, meskipun ranking investment grade Indonesia membaik dari tahun ke tahun," tandasnya.(OL-5)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More